Metafora Tidak Pernah Memadai?

Posted: Juni 9, 2010 in Bahasa Indonesia

Hireka Eric

Pikiran saya ini ternyata terus mencoba-coba mencari sesuatu untuk dipikirkan.

Dan sesuatu itu, kali ini, adalah METAFORA.

Bukan tanpa alasan saya tergiur untuk menelisik dalamdalam ihwal Metafora ini.

Ceritanya begini.

Saya “berdebat” dengan salah seorang sahabat karib saya tentang gaya seseorang dalam berteman. Kita pasti kenal ungkapan semisal “berteman bagaikan sumur” dan “berteman bagaikan laut” [ngga perlu saya terangkan lebih jauh apa makna konotatif “sumur” dan “laut”, ‘kan?]

Awalnya, dia melemparkan ungkapan “Saya lebih suka berteman bagaikan laut daripada sumur”. Terangsang akan ungkapan itu, saya pun membalasnya sbb.

Transkrip percakapannya begini nih:

Saya:
Sedalam-dalamnya sumur, tetep aja lebih dalam laut. Jadi, laut punya fitur dobel: dalam dan luas. Kalo gitu, berteman bagaikan laut,,,yaaa,,,, berarti berteman sebanyak mungkin dan sedekat mungkin. Tapi, tunggu dulu, di laut ada juga sedikit palung yg dalamnya berkilo2meter; kedalaman inilah yg hanya dibagikan ke beberapa orang terdekat, entah kekasih entah sahabat.
Dia:
Keindahan laut ada pada kedalaman 0-200 m (tentunya sumur tidak sedalam itu) , bukan dasar laut…apalagi di palung laut yang gelap gulita…semakin dalam semakin gelap…kendatipun laut..saya lebih senang melihat keindahannya…

Saya:
Haha…. laut yg dangkal, sekilas begitu indah. Tapi ya,,,, jika kita berhenti menyelam sampai di lapisan laut yg masih terpapar cahaya mentari (di mana ikan warna-warni & terumbu karang hidup), maka itulah keindahan sensual yg tampak dalam keseharian saja.

Sedangkan, dasar laut dan palung laut berarti sebuah misteri, sebongkah rahasia. Di kedalaman inilah rahasia diri (entah luka batin, entah memori masa lalu) yg tak terjamah ikan2 dan terumbu karang di atas sana dibagikan kepada sedikit sahabat. Palung laut memang gelap, tetapi di situlah otentisitas manusia benar2 ditemukan.

Karena itu pula, aku tertarik dengan moto DUC IN ALTUM.
Sungguh, persahabatan berarti menyelam ke dalam lautan jiwa sang terkasih hingga menyentuh palung laut yg terdalam.

Dia:
apa bedanya otentik dgn tdk otentik, sebenarnya sama saja, krn kita tdk tahu kemutlakan diri yg otentik itu seperti apa…otentisitas tidak perlu dicari, suatu saat akan tiba, jikalau hidup memang mencari kebahagiaan sejati… “dalam” oke, tapi tdk menjamin otentisitas…rasanya tdk salah kalau saya ’senang’ melihat yang indah, tapi bukan berarti tidak sanggup untuk melihat yang tidak indah…

Saya:
Wah, hebat sekali ya si palung laut… Dialah yang menampung semua bangkai ikan warna-warni dan sampah dari penyelam dari lapisan atas laut yg cerah tanpa banyak berkeluh kesah…Palung laut adalah tempat sampah, dan ia rela menerima itu semua.

Percakapan di atas justru membuat saya gerah. Pasalnya, serta-merta saya merasa bahwa metafora tidak pernah memadai untuk menjelaskan suatu fenomena. Metafora sendiri selalu multitafsir, dan ini membingungkan. Palung laut yang di mata saya menyimpan keindahan, ternyata masih kalah menarik di mata sahabat saya yang lebih mencintai laut dangkal yang masih terpapar cahaya matahari.

Lalu, bukankah persahabatan itu sendiri memanglah bukan sumur dan bukan laut? Apakah term “sumur” dan “laut” sanggup mewakili semua kandungan makna dalam term “persahabatan”?
Jadi, poin kegelisahan saya di sini:
Metafora sepertinya tidak mungkin bisa menggeser makna asali suatu term.
“Wajahmu secantik bulan purnama.”
Lho? bukankah bulan justru berlekuk-lekuk tak keruan, penuh dengan kawah dan ngarai?
“Kini aku telah berubah dari seekor ulat buruk rupa menjadi kupukupu.”
Lho? bukankah pada gilirannya kupu2 akan harus menelurkan ulat lagi, jadi menghasilkan yang buruk lagi?

….dan lain-lain.

Penulis :
Hireka Erick

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s