Botchan, Cermin Kejujuran Seorang Guru Muda di Jepang

Posted: Mei 26, 2010 in Umum

Data Buku

Judul : Botchan
Pengarang : Natsume Soseki
Penerjemah : Indah Santi Pratidina
Penerbit : Gramedia
Ukuran Buku : 13,5 x 20 cm
Tebal : 224 hlm

Saya menemukan Botchan ketika bertandang ke Gramedia Book Fair di Sabuga Bandung. Menilik dari cover dan back covernya buku ini sangat menarik dan mengingatkan saya pada buku Totto Chan karya Tetsuko Kuronayagi. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya hal tersebut.

Yang pertama dari segi judul yang sama-sama menyebutkan nama. Satu Botchan yang merupakan nama panggilan untuk seorang anak laki-laki dan Totto chan yang juga nama dari seorang anak perempuan. Hal yang kedua adalah keduanya sama-sama bercerita tentang pendidikan. Tetapi katakan saja berbeda tahun dan perbedaan tahunnya sangat jauh sehingga perbedaan sudut pandang antara kedua buku tersebut mengenai pendidikan berbeda. Perbedaan lainnya adalah sudut pandang penulis.

Selain itu gaya berbahasa keduanya amat berbeda. Tetsuko Kuronayagi lebih simpel dan lebih sederhana membahasakan dialog-dialognya (setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia). Adapun bahasa dialog Natsume Soseki cenderung lebih rumit dan lebih kompleks (mungkin dalam bahasa Jepang lebih tinggi tingkat kesusastraannya, mengingat Alan Turney yang menerjemahkan buku Botchan ke dalam bahasa Inggris pun mengalami kesulitan ketika menerjemahkannya karena ada kendala beberapa kata yang tidak ditemukan padanan artinya dalam bahasa Inggris).

Jika pada Totto chan mengambil sudut pandang seorang murid dan hampir keseluruhan kisahnya bersudut pandang positif. Pada Botchan sudut pandangnya diambil berdasarkan sudut pandang seorang guru dan tidak melulu berkisah tentang hal-hal yang positif. Ceritanya lebih berwarna secara emosional dan menggabungkan sudut pandang positif dan negatif secara berkelindan. Selain itu, buku ini juga menggambarkan betapa intrik dan kemunafikan telah menjadi sifat yang mendarah daging pada beberapa orang yang ada di sekitar kita―termasuk di sekolah―dan kita bisa melihatnya secara nyata baik kita menyadarinya ataupun tidak.

Natsume Soseki adalah penulis buku ini dan dia dilahirkan pada 1867. Setting kejadian pada buku ini pun ada pada 1901―1905, dan sempat mengungkit sedikit perayaan kemenangan Jepang atas Cina ketika itu. Soseki adalah salah satu sastrawan Jepang terkemuka yang karya-karyanya masih berpengaruh hingga saat ini. Salah satu di antara karya tersebut adalah Novel Botchan ini. Novel ini merupakan salah satu literatur Klasik yang banyak dibaca di Jepang Modern. Mungkin mirip kasusnya dengan Sitti Nurbaya karya Marah Rusli.

Logika dan Kejujuran adalah Modal Utama Seorang Guru Teladan

Guru seringkali tidak berdaya menghadapi kenakalan murid. Sebut saja seorang guru baru atau guru praktik yang baru mengajar di sebuah sekolah terutama sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Guru baru seringkali menjadi objek bulan-bulanan ejekan bahkan objek keisengan murid-murid tersebut. Ada beberapa guru yang bisa mengambil sikap terhadap anak-anak tersebut tetapi ada pula guru yang membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena oleh muridnya atau calon muridnya.

Demikian pula yang terjadi pada Botchan, tokoh utama buku ini. Tetapi dia termasuk seorang guru yang menentang pemanjaan murid. Bersikap tegas kepada murid adalah hal yang sangat diperlukan. Meskipun tegas di sini bukan berarti dengan kekerasan seperti banyak kasus kejadian pemukulan terhadap murid yang pernah marak diberitakan di media televisi dan surat kabar.

Selain bercerita tentang sistem pendidikan di sebuah desa di Jepang pada saat itu yang tidak disukai oleh Botchan karena ketidakadilannya, buku ini secara kontinu mengisahkan tentang perseteruan terselubung antara kepala guru dan Botchan. Salah satu contoh kasusnya adalah ketika kepala guru tersebut memberitahukan kepada Botchan bahwa dia akan dinaikkan gajinya setelah salah seorang guru yang semula mengajar di sekolah dipindahkan ke salah satu daerah yang terpencil.

Usut punya usut ternyata ada konflik kepentingan antara kepala guru dan guru yang dipindahkan tersebut. Mereka berebut wanita. Untuk mengurangi persaingan antara mereka maka kepala guru tersebut berhasil menghasut kepala sekolah untuk memindahkan guru tersebut. Awalnya Botchan tidak mengetahui hal tersebut sehingga dia menerima mendapatkan penawaran kenaikan gaji dari kepala guru. Tetapi ketika mengetahui fakta yang sesungguhnya terjadi, dia merasa marah karena ditipu oleh kepala guru tersebut dan dia menolak kenaikan gajinya secara terbuka.

Karena itu Botchan berpikir bahwa kepala guru tersebut seperti serigala berbulu domba. Bahkan karena saking buruknya sifat munafik dari kepala guru yang juga pandai memutarbalikkan fakta membuat tokoh utama buku ini mengatakan bahwa “Hanya karena seseorang pandai berargumen, tidak berarti orang itu baik. Sama halnya ketika sesorang yang dikalahkan dalam adu argumen tersebut adalah orang jahat. Di permukaan, kepala guru tampak seratus persen benar, tapi penampilan saja, betapapun menariknya, tidak akan bisa membuatmu jatuh cinta pada karakter keseluruhan seseorang. Kalau kau bisa membeli kekaguman seseorang dengan kekuasaan, atau logika, maka lintah dara, polisi, dan professor universitas akan memiliki lebih banyak pengagum daripada siapapun. Bayangan bahwa aku akan dikalahkan logika sekadar guru sekolah menengah sungguh menggelikan. Karena manusia bergerak dari perasaan suka atau tidak suka bukan melulu logika.”

Secara keseluruhan kisah dalam buku ini sangat menarik, tetapi endingnya kurang menggigit. Meskipun demikian ada satu kalimat yang sangat menarik yang diungkapkan oleh Hotta seorang guru matematika teman Botchan, tokoh utama buku ini. Kalimat yang seharusnya menjadi perenungan bagi kita semua, tidak hanya para guru saja, tetapi semua orang.

Hotta san mengatakan, “Kata pendidikan tidak hanya berarti memperoleh pengetahuan akademis. Pendidikan juga berarti menanamkan semangat mulia, kejujuran, serta sikap bertanggung jawab. Hari ketika kita menunda karena mencemaskan reaksi atau takut akan terjadi keributan adalah hari ketika kita tidak mampu memperbaiki kebiasaan-kebiasaan itu. Alasan kenapa kita ada di sekolah ini adalah untuk menghentikan kebiasaan buruk itu.” Penyataan seorang guru sejati. Karena guru adalah sosok yang digugu dan ditiru.***

Penulis :
Nur Chasanah

Komentar
  1. tonosaur mengatakan:

    wah saya ada buku ini tapi belum dibaca..
    hmm

  2. nara_zzi mengatakan:

    asalamualaikum.wr.wb.

    salam kenal……

  3. […] Saya menemukan Botchan ketika bertandang ke Gramedia Book Fair di Sabuga Bandung. […] View full post on WordPress.com Top Posts […]

  4. cinta minyak mengatakan:

    baru sadar bahwa Novel botchan memiliki tema yg sama yaitu pendidikan, ini jg sma dengan novelnya Laskar Pelanginya, Andrea Hirata.

    Karakter nya Botchan itu sendiri itu menarik meski tidak selalu beruntung, hampir sama dengan karakter diri saya.

    ———————————————–
    mampir yah PERTAMINA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s