Ribetnya Bahasa Indonesia

Posted: Mei 24, 2010 in Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih muda. Jauh lebih muda dibandingkan bahasa inggris yang berasal dari anglo saxon atau bahasa perancis yang berasal dari bahasa latin. Itu sebabnya bahasa Indonesia sering membingungkan. Banyak istilah aneh dan banyak yang ga konsisten.

NH Dini pernah menerjemahkan novel berbahasa perancis ‘La Peste’ ke dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Sampar.’ Pada saat acara peluncuran buku itu, dia mengatakan, “Akan jauh lebih mudah bagi saya kalo menerjemahkan novel itu ke dalam bahasa jawa. Karena bahasa jawa mempunyai kaidah dan kosa kata yang jauh lebih kaya dan lebih lengkap daripada bahasa indonesia.” Saya sepakat sama Mbak Dini.

Waktu masih kuliah di fakultas sastra UI, saya paling getol nongkrong di Pusat Bahasa dan ngajak berdebat orang-orang di sana. Saya sering menegur mereka yang suka mengganti-ganti kosa kata dalam bahasa Indonesia. Misalnya kata ‘perancis’ pernah dibakukan dengan kata ‘prancis.’ Alasannya, kata itu adalah serapan dari kata ‘france.’ Ya udah kita manut aja eh tau-tau kurang dari setahun, Pusat Bahasa mengganti lagi bahwa yang baku adalah ‘perancis.’ Alasannya bahasa Indonesia hampir tidak mengenal kata yang dimulai dengan huruf rangkap. Huh! Aneh banget!

Untungnya orang-orang Pusat Bahasa pada baik orangnya. Mereka sering memberi saya secara gratis buku sakti. Yaitu buku kecil tentang kosa kata baru dan kosa kata yang disempurnakan. Mereka menerbitkannya secara berkala. Metode yang mereka lakukan adalah serapan, terjemahan dan gabungan antara keduanya.

‘Serapan’ adalah kata asing yang ejaannya disesuaikan ke dalam bahasa kita. Misalnya:

– Publication menjadi publikasi

‘Terjemahan’ adalah mencari padanan kata dalam bahasa sendiri. Kalau padanan yang tepat tidak ditemukan, kita bisa mencari dari sumber lain, misalnya menggali dari bahasa daerah atau membakukan kembali kosa kata yang hampir punah. Misalnya:

– Effective menjadi sangkil

– efficient menjadi mangkus

Tapi realitanya orang lebih suka menggunakan kata efektif dan efisien. Kata ’sangkil’ dan ‘mangkus’ banyak yang ga ngerti. Yang ngerti bukannya menggunakan malahan bikin becandaan dengan kedua kata itu. Misalnya “Gue sangkil mangkus lu!!!!” Huahahahahahaha…

Saya masih menunggu nasib kata ‘unggah’ dan ‘unduh.’ Apakah kedua kata itu akan bernasib sama dengan ’sangkil dan ‘mangkus’? Buat yang belum tau ‘unggah’ adalah padanan kata ‘upload’ sedangkan ‘unduh’ padanan dari kata ‘download’.

Sekarang mending kita ngobrol yang basic-basic aja deh. Kenapa saya ngajakin ngobrol tentang hal basic? Karena semua orang cenderung mengabaikan hal-hal yang basic.

Hal yang paling sederhana adalah soal ejaan. Orang sering bingung ejaan yang bener itu yang mana. Atau kapan ‘di’ dan ‘ke’ dipisah dengan kata yang mengikutinya. Sepele sih tapi barangkali bisa sedikit membantu buat diskusi.

‘Di’ dan ‘ke’ harus dipisah apabila bertemu dengan kata yang menunjukkan keterangan tempat atau keterangan waktu. Misalnya: di mana, ke dalam, di bulan maret. Untuk memastikannya tinggal kita coba aja dengan kata ‘dari’, kalo jalan ya pasti keterangan tempat tuh. Berarti harus dipisah. Misalnya ‘dari mana, dari dalam, dari bulan maret.

Apabila ‘di’ dan ‘ke’ merupakan prefiks (awalan), maka keduanya harus disambung dengan kata dasarnya. Misalnya: dipisah, disambung, kesepian, diperkosa, kemaluan dll. Kalo kita cek dengan kata ‘dari’ ga mungkin kan ada kata ‘dari perkosa’ atau ‘dari maluan.’ Hehehehe…

Yang sering membingungkan orang adalah kata ‘di antara’. Yang bener ‘diantara’ apa ‘di antara’? ‘Antara’ tentu saja adalah keterangan tempat, jadi seharusnya dipisah menjadi ‘di antara’.

OK sekarang lanjut ke masalah ejaan di luar kasus di atas. Ejaan yang betul ‘hakikat’ atau ‘hakekat’? Kalau menemukan kasus seperti ini, kita bisa mencari bentukan lain yang berasal dari kata yang sama. Misalnya dalam kasus ini, kita tau ada kata ‘hakiki’. Bukan ‘hakeki’ kan? Berdasarkan konsistensi dapat diambil kesimpulan bahwa yang benar adalah ‘hakikat’.

Kata dasar yang diawali huruf ‘k, p, s, t’ akan luluh dan berubah mengikuti prefiks. Misalnya :

– kancing menjadi mengancing

– pisah menjadi memisah

– sambung menjadi menyambung.

– tusuk menjadi menusuk

Kalo kata dasar dimulai dengan huruf rangkap maka kedua huruf itu dipertahankan. Misalnya:

– sponsor menjadi mensponsori. Bukan menyeponsori.

Awalan ‘pe’ yang mengacu pada profesi, kata dasarnya dipertahankan. Misalnya:

– tembak jadi petembak. Bukan penembak.

– sepakbola menjadi pesepakbola. Bukan penyepakbola.

Nah di bagian ini ada yang cukup membingungkan dalam hal konsistensi. Kenapa atlit memanah tetap disebut ‘pemanah’ dan bukan ‘pepanah’? Begitu juga pada kata ‘pesuruh’. Seharusnya ‘pesuruh’ mengacu pada orang yang suka menyuruh kan? Tapi ga ada satupun yang sepakat. semua orang menggunakan kata ‘pesuruh’ untuk orang yang bisa disuruh-suruh.’ Setiap kali saya tanya ke Pusat Bahasa mereka selalu menjawab bahwa dalam setiap generalisasi selalu ada pengecualian.

Oh ya satu lagi. Dalam setiap singkatan kita harus menambahkan titik. Misalnya ‘Jl.’ pada kata Jl. Jend. Soedirman. Akan tetapi pada kata ‘Rp’ kata itu tidak boleh menggunakan titik. Ketika saya tanya alasannya, mereka menjelaskan bahwa ‘Rp’ itu bukan singkatan. ‘Rp’ adalah simbol mata uang seperti $ di amerika. Kalo ini saya setuju 100%. Jadi mulai sekarang jangan menambahkan titik kalo menulis ‘Rp’. Penulisannya ‘R’ harus menggunakan kapital, sedangkan ‘p’ menggunakan huruf kecil. Kenapa? Sekali lagi ‘Rp’ adalah simbol. Bukan singkatan!

Jadi marilah kita memakai bahasa Indonesia. Seperti kata temen saya , Pepeng, dia selalu mengatakan ‘Gunakanlah bahasa Indonesia yang bebeneran!’ Hehehehehe….

Penulis :
Budiman Hakim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s