KBBI =Kamus Berat Buatan Indonesia?

Posted: Mei 24, 2010 in Bahasa Indonesia

Membaca di beberapa media ihwal telah terbit Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, siapa yang tak senang. KBBI edisi keempat adalah edisi terbaru. Demikian halnya saya, sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sejak di Strata satu (S.1), KBBI adalah bacaan mutlak. Sering, tatkala saya kewalahan mencari makna suatu kata atau untuk mengurangi rasa bimbang dari makna yang saya ketahui, KBBI menjadi alternatif puncak untuk mempertegas keyakinan saya. Itu sebabnya, ketika sejumlah media cetak memberitakan telah diluncurkannya KBBI edisi keempat oleh Pusat Bahasa (PB), hasrat di hati saya untuk mendapati kamus besar tersebut melebihi besar dan beratnya kamus itu.

Berbilang bulan saya memendam berahi untuk memperoleh kamus setebal 1701 + xlii tersebut. Karenanya, saat melihat ‘kitab’ bersampul kuning tua tergeletak di meja pustaka Balai Bahasa Banda Aceh seminggu yang lalu-dan di ‘kitab’ itu tertulis KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA PUSAT BAHASA-tangan saya langsung meraihnya. Jujur saja, saat itu juga saya langsung kecewa membaca judul kamus tersebut. Kali ini kita tidak dapat lagi menyingkat kamus itu dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), karena sudah ada penambahan pada judul, “Pusat Bahasa”. Jadi, mesti disingkat menjadi KBBIBP atau KBBI-BP (Kamu Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa). Ada nilai emosional yang tertangkap pada judul ini, seolah ingin menunjukkan bahwa kamus itu adalah milik PB semata yang tiada saingannya dengan kamus-kamus besar lainnya. Padahal, tanpa disebutkan pun orang sudah tahu bahwa KBBI hanya diterbitkan oleh Pusat Bahasa. Hemat saya, kamus besar kali ini hanya memperpanjang judul sekaligus menyulitkan orang dalam menulis singkatannya. Demikian juga saat orang akan menulis kamus itu sebagai rujukan di daftar pustaka, terlalu membebani, di samping juga estetika judul sudah berkurang karena kepanjangan.

Isi

Harus diakui memang, KBBI edisi keempat ini mengalami penambahan lema dan sublema yang sangat signifikan. Jika edisi ketiga lalu termuat 78.000 lema dan 2.034 peribahasa, edisi keempat terdapat 90.049 lema dan 2.036 peribahasa. Saya tidak tahu, apakah memang bahasa kita miskin peribahasa sehingga hanya dapat penambahan dua peribahasa dalam kamus edisi terbaru ini. Yang jelas, beberapa kata dan kosa kata yang sudah lazim kita dengar juga masih luput dari kamus yang diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta itu (edisi sebelumnya, KBBI diterbitkan oleh Balai Pustaka).

Sejumlah kata yang luput itu sebut saja gestur. Kata ini sangat sering digunakan dalam kesenian, terutama tari dan teater. Bahkan, kata gestur mulai sering digunakan dalam duia politik. Namun, kata ini tidak terdapat dalam KBBI edisi keempat seperti juga pada edisi sebelumnya. Padahal, kata-kata yang memiliki makna hampir berdekatan semisal mimik, badan, dimasukkan pada lema tersendiri dalam kamus terbitan 2008 tersebut.

Selain itu, beberapa kosa kata dari bahasa daerah yang ada dalam KBBI edisi keempat ini masih perlu dikaji ulang. Meunasah yang dijelaskan diambil dari kosa kata bahasa Aceh ditulis menasah. Kata memang kosa kata baru karena tidak dalam edisi sebelumnya. Namun, maknanya masih perlu dipertanyakan. Dalam KBBI edisi keempat itu disebutkan bahwa menasah bermakna bangunan umum di desa-desa untuk melaksanakan upacara agama, pendidikan agama, bermusyawarah, dsb. Seharusnya, meunasah (bahasa Aceh) adalah sama dengan musalla, ia bukan tempat upacara agama, melainkan tempat orang salat; bangunan pengganti mesjid. Apalagi, kalau disebutkan sebagai tempat pendidikan agama, sungguh jauh maknanya, karena tempat pendidikan agama di Aceh disebut dengandayah, yang fungsinya sama seperti pesantren di Jawa. Demikian halnya dengan maksud “tempat bermusyawarah”. Jika dimaksudkan tempat musyawarah, mestinyabale (balai), bukan meunasah. Bale memang letaknya kerap di depan meunasahatau di belakang mesjid. Jika di suatu kampung tidak ada bale, barulah musyawarah dilaksanakan di meunasah, bahkan bisa jadi di mesjid. Namun, fungsi utamanya tetap tempat orang salat, bukan musyawarah.

Adapun kata dayah, memang terdapat di kamus itu. Namun, saya yakin bukan dari kosa kata bahasa Aceh, sebab maknanya di sana tertulis “orang perempuan (ibu) yang diserahi mengasuh atau menyusui anak orang lain”.

Mengebiri Aceh

Mengamati KBBI secara saksama, memang terkadang terkesan mengebiri Aceh dengan sangat kurangnya kosa kata bahasa Aceh diterakan. Padahal, dari provinsi lain, banyak kosa kata bahasa daerahnya dalam KBBI. Saya tidak bicara pada tataran kosa kata yang sulit, tetapi yang umum dan sudah lazim didengar, pun untuk kosa kata bahasa Aceh masih jarang kita temui di kamus besar itu.

Lihat saja untuk panggilan jenis kelamin seperti lanang (Jawa), buyung(Minangkabau), neng (Sunda), tercatat dalam KBBI. Namun, agam dan inong (Aceh) yang sudah sering kita jumpai di banyak tulisan, terutama tulisan sastra, tidak dimasukkan dalam KBBI. Kata agam dalam KBBI memang ada, tapi maknanya bukan dari bahasa Aceh.

Saya memang menemui beberapa kosa kata dari bahasa Aceh dalam lema KBBI, tapi sangat sedikit, seperti seudati, rencong, dan saman. Lucunya, jenis-jenis kesenian itu ada di sana, tetapi rapai yang menjadi musik pengiringnya, tidak kita temukan dalam KBBI tersebut.

Ungkapan Daerah

Hal yang paling mengesankan sekaligus aneh bagi saya adalah pada halaman 1582-1583. Dua halaman ini merupakan halaman tambahan yang diberi judul KATA DAN UNGKAPAN DAERAH. Seperti halnya KBBI edisi ketiga, pada edisi keempat ini pun ungkapan dari bahasa Aceh tidak ada di sana, sedangkan dari berbagai daerah lain di Indonesia ada. Paling banyak dari bahasa Jawa (kode Jw) 39 buah, selanjutnya bahasa Minangkabau (kode Mk) 10 buah, bahasa Bali (Bl) 8 buah, bahasa Kawi (Kw) 7 buah, bahasa Sunda (Sd) 6 buah, bahasa Batak (Bt), bahasa Sasak (Sk), bahasa Menado (Mnd), masing-masing dua buah ungkapan daerah. Berikutnya, ungkapan dari daerah Damal (Dam), daerah Makassar (Mks), daerah Kaili (Kal), daerah Tolaki (Tlk), daerah Lampung (Lp), daerah Madura (Mdr), masing-masing satu buah.

Kemudian, lihat pula beberapa kode bahasa daerah yang tidak tercantum di halaman Petunjuk Pemakaian (hlm. xxxiii), seperti Menado, Kawi, Makassar. Padahal, di halaman Ungkapan Daerah, dipakai kosa kata dari masing-masing daerah tersebut. Kita juga akan menemui keraguan tim penyusun kamus itu di halaman yang sama. Tatkala dalam KBBI edisi ketiga ungkapan jarik dewa‘lingkungan tanah yang disediakan untuk mendirikan pura’ disebutkan berasal dari bahasa Lombok, dalam KBBI edisi keempat disebutkan ungkapan itu berasal dari bahasa Sasak. Kejadian yang sama pada ungkapan jer basuki mawa beya‘kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan pengorbanan’ dalam KBBI edisi ketiga disebutkan berasal dari bahasa Jawa, tetapi di edisi keempat termasuk dalam bahasa Sasak.

Selain itu, ada pula ungkapan daerah yang terdapat pada KBBI edisi ketiga kini hilang di edisi keempat, yakni punten (bahasa Sunda) dan aja dumeh (bahasa Jawa) ‘jangan bersikap atau berbuat mentang-mentang selalu semaunya’ (lihat KBBI edisi ketiga). Mungkinkah ungkapan ini sengaja dihilangkan agar KBBI edisi keempat dapat dibuat semaunya Pusat Bahasa? Ah, saya kira revisi KBBI edisi keempat sangat dibutuhkan secepatnya atau masyarakat Indonesia tidak akan menggunakan KBBI lagi sebagai rujukan. Akhirul warkah, saya ucapkan selamat menikmati Kamus Berat Buatan Indonesia.

Herman RN, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Penulis :
Herman RN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s