Bahasa Indonesia, Dihancurkan Bangsa Sendiri

Posted: Mei 24, 2010 in Bahasa Indonesia

“Produk ini siap di-launch bulan depan”.

“Produk ini siap di-launching bulan depan”.

Dalam bahasa Inggris, penggunaan kedua varian kata launch mempunyai aturan yang jelas. Nah bagaimana kalau dipakai dalam Bahasa Indonesia? Kalimat di atas mana yang benar?

Jawabnya, tentu, tidak ada yang benar!

Yang benar, dan baik, tentunya adalah memakai kosa kata Bahasa Indonesia, seperti:

“Produk ini siap diluncurkan bulan depan”.

Sayangnya pencampuradukan bahasa seperti di atas umum terjadi. Bahkan ironisnya, hal ini setiap hari terjadi di koran Jawa Pos, salah satu koran yang oplahnya terbesar di negeri kita. Saya berpikir, bukankah bahasa itu merupakan fundamen dari sebuah koran? Nah kalau sebuah koran, yang mengaku nasional, sudah tidak peduli dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar, bagaimana kita mengharapkan dia akan peduli dengan isi beritanya? Lantas bagaimana dengan pembacanya. Kalau jutaan pembaca Jawa Pos setiap hari disuguhi dengan bahasa yang apa adanya, asal-asalan, bukankah lama-lama akan tertanam bahwa itulah Bahasa Indonesia yang baku dan baik? Dan dari mana lagi kita mendapatkan sumber belajar bahasa yang baik, kalau media cetak saja, yang tentu mempunyai editor yang mumpuni berbahasa, tidak mau melakukannya.

Lebih disayangkan lagi, presiden kita sekarang, Bapak SBY, bukannya memberi contoh yang baik, tapi tampaknya malah suka sekali menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam hampir setiap kalimatnya. Entah kenapa Presiden merasa perlu melakukan itu. Bahkan, seringkali dia merasa perlu untuk menerjemahkan kosa kata Bahasa Indonesia yang sudah baik menjadi Bahasa Inggris. Seolah-olah rakyat lebih pintar berbahasa Inggris!

“Untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, atau good governance.”

Saya jadi ingat ramai-ramai tentang batik beberapa bulan lalu. Ketika batik dikabarkan diklaim oleh negara tetangga, seluruh bangsa dari Sabang sampai Merauke meradang. Ketika batik kemudian dikukuhkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO, sekali lagi seluruh bangsa kita bangkit, riuh rendah merayakannya.

Nah bagaimana dengan Bahasa Indonesia, atribut negara yang lebih signifikan daripada batik. Seperti batik, Bahasa Indonesia terancam kelangsungannya. Tapi tidak seperti batik, kali ini ancaman itu datang dari dalam, dari kita sendiri. Kapan kita menyadari hal ini, dan mulai mempelajari dan menggunakannya dengan baik dan benar. Karena kalau bukan kita, siapa lagi!

Dalam hati saya berharap, mungkin lebih baik kalau Bahasa Indonesia juga diklaim oleh negara tetangga, seperti halnya batik, agar kita sadar akan ancaman ini dan mulai menghargai bahasa sendiri.

Penulis :
Budi Prihatin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s