Tentang Jepang (3): Sumo

Posted: Mei 22, 2010 in Bahasa Jepang

Selama beberapa tahun tinggal di Jepang, saya tak pernah punya kesempatan menyaksikan pertandingan Sumo ‘beneran’ yang diselenggarakan beberapa kali setahun di sejumlah kota besar. Lalu judul tulisan ini ?

Ya, meskipun tidak sempat menonton pertandingan ‘beneran’-nya, saya pernah berkesempatan bertatap muka dengan para ‘raksasa’ ini dari dekat, saat menyaksikan mereka berlatih. Itu pun saya sudah sangat bersyukur. Paling tidak bisa berjumpa langsung dengan mereka, tidak hanya melalui layar televisi. Dan tentunya, hitung-hitung jadi menambah pengalaman dan wawasan, kan…

Sekilas Sejarah

Sumo merupakan seni bela diri tradisional bangsa Jepang yang sudah dikenal selama berabad-abad. Legenda yang terdapat dalam Kojiki, dokumen sejarah tertua yang mencatat tentang Sumo pada tahun 712, menyebutkan bahwa perebutan kekuasaan atas Kepulauan Jepang ditentukan melalui pertandingan Sumo. Pemenangnya kemudian membentuk kerajaan yang menjadi cikal bakal keluarga kekaisaran Jepang saat ini.

Dikenal sejak berabad-abad yang lalu, Sumo masih tetap populer sampai sekarang. Sebagai salah satu komponen budaya nasional, Sumo telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jepang. Di seluruh pelosok, pria wanita, tua muda, menjadi penggemar setia pertandingan Sumo yang digelar pada setiap musim, baik dengan menonton langsung maupun melalui layar televisi. Turnamen diselenggarakan di beberapa kota utama Jepang yaitu Tokyo, Osaka, Nagoya, dan Fukuoka.

Latihan

Sebagai orang asing yang tidak akrab dengan dunia Sumo, menyaksikan latihan dari dekat sungguh merupakan hal baru dan pengalaman yang sangat unik. Para pesumo yang disebut ‘rikishi‘ (secara harafiah berarti ‘pria yang kuat’) kelihatan seperti raksasa (tinggi badan di atas 180 cm dan berat di atas 150 kg).

Tubuh mereka sedemikian besar karena jadwal makan dan latihan yang setiap hari dijalani. Pada saat bangun pagi mereka harus langsung berlatih, dan sebelumnya tidak diperbolehkan menyantap apa pun. Usai latihan pada siang hari barulah mereka langsung makan. Dalam kondisi kelelahan setelah latihan seharian, bisa dibayangkan porsi makanan yang disantap ! Setelah itu mereka harus langsung tidur siang, untuk kembali berlatih di sore hari. Setelah latihan sore itu pun, mereka langsung makan malam dan terus tidur. Ini menyebabkan kalori dari makanan yang masuk tidak sempat dibakar sehingga para pesumo menjadi sangat gemuk.

Para pesumo yang latihannya kami tonton berasal dari Sadogatake Beya. Latihan ini berlangsung beberapa saat sebelum haru basho (pertandingan musim semi). Di tengah udara awal musim semi yang masih cukup dingin, mereka menjalani latihan dengan mengenakan hanya semacam cawat (Mawashi). Namun tampaknya udara dingin sama sekali tidak dirasakan oleh para pesumo, bahkan tubuh mereka sampai kelihatan berasap karena kepanasan, saking kerasnya latihan.

Sebelum latihan dimulai, salah seorang pesumo senior (ditandai oleh mawashi berwarna putih) mempersembahkan chikara mizu (secara harafiah berarti ‘air untuk kekuatan’) kepada sang pelatih (oyakata). Pada saat pertandingan sebenarnya berlangsung, air ini biasanya diberikan oleh para pesumo yang baru memenangkan pertandingan kepada rekannya se-’sasana’ (Heya) yang akan bertanding, menjadi semacam sarana untuk ‘mentransfer’ kemenangan.

Latihan berlangsung serius dan sangat keras ! Para senior tidak segan-segan mendorong yuniornya sekuat tenaga, sampai terpental dari Dohyo (lingkaran berdiameter 4,55 meter tempat bertanding) ke dinding. Beberapa pesumo yunior (mengenakan mawashi berwarna hitam) sampai berdarah kakinya karena berkali-kali jatuh di pasir, atau kupingnya karena tarik menarik dengan lawan tanding. Sang pelatih pun tak ketinggalan menggunakan tongkatnya untuk memukul pesumo yang dianggap kurang memuaskan.

Uniknya, walaupun para pesumo tersebut berlatih keras, berkeringat sampai tubuhnya berasap, sama sekali tidak tercium aroma yang kurang menyenangkan. Mungkin ini disebabkan karena mereka terus menerus menaburkan bedak bayi supaya tubuh tidak licin.

Kerasnya dunia Sumo mencerminkan disiplin bangsa Jepang yang terkenal sebagai masyarakat pekerja keras dan ulet. Untuk menjadi seorang pesumo tangguh, dibutuhkan usaha yang tidak ringan. Pada usia remaja, pria yang memenuhi persyaratan tinggi 170 cm dan berat 75 kg mulai menapaki dunia per’sumo’an dari bawah, selama bertahun-tahun melalui kelas demi kelas lewat perjuangan yang berat. Namun jika sudah tiba di puncak karir, hasil yang dituai juga sangat manis. Selain ketenaran yang sudah pasti diraih, penghasilan seorang Yokozuna (peringkat tertinggi) mencapai 2,8 juta Yen atau sekitar US$ 30 ribu (data tahun 2006) per bulan. Waaawww…. berapa Rupiah tuh ?

Seusai latihan, kami beruntung ikut dijamu dengan sajian ocha (teh Jepang) dan okashi (camilan yang rasanya sangat manis), sambil menantikan para pesumo yunior mempersiapkan chankonabe, menu khas berupa sup yang khusus dibuat untuk atlet sumo. Sup Chankonabe terdiri dari campuran macam-macam sayuran serta daging sapi, ayam, dan seafood yang menjadi sumber energi dan sumber protein bagi para pesumo. Seringkali seorang pesumo yang sudah pensiun memilih membuka restoran dengan menu khusus ini, selain mendirikan sasana dan menjadi pelatih.

Jadilah latihan hari itu diakhiri dengan makan bersama para rikishi dan oyakata, dilayani oleh okamisan (istri oyakata). Selain chankonabe, makanan khas haru (musim semi) seperti ikanago, sejenis ikan teri dengan bumbu shoyu (kecap Jepang) juga disajikan. Oishikatta…. sungguh lezat !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s