Tentang Jepang (2): Sampah

Posted: Mei 22, 2010 in Bahasa Jepang

Dalam kesempatan tinggal di Jepang beberapa tahun yang lalu, banyak ‘kejutan’ yang saya alami. Salah satunya adalah masalah yang tidak terlalu menyenangkan tapi harus terus dihadapi setiap hari. Masalah sampah.

Hari pertama tiba dalam perjalanan dari bandara ke apartemen yang akan kami tinggali, sedang terkagum-kagum menikmati bangunan-bangunan megah di sepanjang jalan tol, sebuah gedung unik menarik perhatian saya. Bentuknya lucu, mirip istana yang biasa ada di cerita-cerita 1001 malam, lengkap dengan kubah-kubah warna-warni.

“Apa itu ?” tanya saya pada teman yang menjemput kami. Jawabannya ternyata jauh dari perkiraan saya yang semula menyangka ‘istana’ itu adalah tempat rekreasi untuk anak-anak.

“Oh… itu tempat daur ulang sampah.“ jawabnya mengejutkan saya. Hah ?! Tempat daur ulang ? Wah… rupanya orang Jepang nggak main-main nih, ngurusin masalah sampah, batin saya kagum.

Benar saja. Tiba di apartemen kami disambut oleh pemilik apartemen yang sudah menunggu, memberi sekotak coklat sebagai sambutan selamat datang, plus menyodorkan sebuah folder berisi setumpuk kertas yang terdiri dari peraturan di apartemen, nomor-nomor telpon dan peta lokasi-lokasi penting di sekitar apartemen, dan (ini yang bikin saya mengernyitkan dahi kebingungan)… jadwal pembuangan sampah !

Bukan cuma harinya yang diatur, tapi juga jenis sampahnya. Jadi kudu punya beberapa tempat sampah. Nggak ada tuh cerita semuanya dicampur aduk. Ada yang untuk sampah basah seperti sisa makanan, sampah kering yang bisa dibakar (moeru gomi), misalnya kertas, lalu ada lagi sampah yang masih bisa didaur ulang (shigen gomi), seperti botol atau kemasan beling dan kaleng yang sebelumnya harus dikosongkan dulu dan dicuci sampai bersih sebelum dibuang ! Belum lagi majalah dan koran bekas, harus disatukan dan diikat. Kemudian kemasan tetrapak seperti susu UHT, harus dikosongkan, dicuci, lalu dikempiskan. Bohlam dan batere bekas harus dikembalikan ke toko tempat kita membeli. Cape deeeh…..

Paling repot kalau harus membuang soudai gomi, yaitu barang berukuran besar seperti kulkas atau TV. Kita harus membeli semacam tiket di kombini (convenience store) terdekat untuk membayar ongkos angkutnya, lho… Wah, rugi dua kali nih, pikir saya. Udah hilang barang, harus bayar, pula !

Yang lucu, pernah ada yang nekat meletakkan koper bekas begitu saja tanpa tiket, padahal itu termasuk soudai gomi. Alhasil, karyawan apartemen harus mendatangi setiap ‘rumah’, menanyakan apakah itu koper miliknya. Lalu ada lagi kejadian, seisi apartemen berkali-kali dikirimi ‘surat teguran’ karena karyawan apartemen tangannya terluka gara-gara ada yang tidak memisahkan kaleng bekas dari sampah basah. Wah….

Lain lagi stori soal teman sesama orang Indonesia yang sudah belasan tahun tinggal di Jepang, jadi sifatnya udah Jepang banget. Suatu saat, waktu sedang ‘cuci mata’ di sebuah department store, kami berdua membeli minuman kaleng di vending machine yang banyak terdapat di situ. Saya dengan santai minum lalu dengan cueknya membuang kaleng bekas minuman ke tempat sampah terdekat. Kontan teman saya menegur, “Eh, kalengnya harus dibuang ke tempat sampah yang sana tuh, di tempat kita beli tadi, nggak boleh sembarangan …” Hahh ??!! Padahal saya pikir semua tempat sampah kan sama aja, yang penting khusus untuk kaleng. Eh, ternyata masih salah juga …

Waktu saya ceritakan kejadian itu pada suami, dia nyeletuk, “Oh, pantesan ….” Rupanya suami juga pernah nyaris diomelin teman sekantornya yang orang Jepang. Ceritanya hampir sama. Dia membuang kaleng bekas minumannya ke tempat sampah terdekat, sama sekali nggak terpikir masalah siapa pemilik si tempat sampah itu.

Beberapa saat kemudian si orang Jepang pemilik tempat sampah itu ‘memergoki’ kaleng soft drink di tempat sampahnya, dan karena tidak merasa mengkonsumsi minuman tersebut, berkata “Lho, … ini kaleng punya siapa ?” sambil menengok kiri kanan dengan heran, bagaimana kaleng itu bisa nongol di tempat sampahnya. Dari pada harus mendengarkan ‘kuliah’ dalam Bahasa Jepang, suami saya memilih berpura-pura tidak tahu saja. He he he …

Saking tertibnya soal sampah ini, di beberapa tempat rekreasi tertentu di luar kota atau tempat yang jauh dari keramaian, sengaja tidak disediakan tempat sampah. Ada tulisan berbunyi “gomi o mochi kaerimashou” (sampah harap dibawa pulang). Alhasil kita harus selalu siap-siap membawa kantong ekstra pada saat bepergian, just in case harus membawa pulang ‘oleh-oleh’ sampah.

Ketentuan ini juga biasanya berlaku di taman-taman kota. Walaupun ada tempat sampah, tetap ada tulisan yang menghimbau untuk membawa pulang sampah. Selain itu ada tambahan kalimat “Kotoran hewan juga harus dibawa pulang !”

Kalimat ini ditujukan untuk beberapa kalangan di Jepang yang belakangan terkena ‘demam’ memelihara petto (pet = hewan peliharaan). Asal tahu saja, banyak pasangan muda Jepang saat ini lebih memilih memelihara petto, umumnya anjing atau kucing, dari pada punya anak !!

Yang juga banyak terkena ‘demam’ ini adalah orang-orang tua yang tinggal sendirian. Nah, ‘anak asuh’ mereka ini sering diajak berjalan-jalan di taman, dan sang pemilik harus membawa kantong khusus untuk ‘menampung’ kotoran peliharaannya, lho … Lucu juga rasanya melihat ibu-ibu Jepang dengan dandanan rapi, lengkap dengan rok lebar dan topi musim panas yang fashionable sibuk ‘meladeni’ si petto. Ha ha ha ….

Penulis :
Lona Hutapea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s