Nikmatnya Bisa [Sedikit] Membaca Kitab Arab

Posted: Mei 22, 2010 in Bahasa Arab

Salah satu diantara sekian banyak keutamaan kota Yogyakarta dibanding kota-kota lain, adalah semangat mahasiswa yang teramat tinggi dalam berdakwah. Buahnya, adalah sekian banyaknya kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa, terutama dalam proses tashfiyyah (pemurnian) dan tarbiyyah (pembinaan) ummat. Teringat ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, di Masjid Pogung Raya terdapat sebuah brosur kecil “Penerimaan Santri Baru Ma’had ‘Ilmi”. Waktu itu,

dengan tanpa pikir panjang, saya mengikuti tes penerimaannya di tengah padatnya jadwal ospek. Sejak saat itu, berawal petualangan seru saya dalam mempelajari bahasa Al-Qur’an, bahasanya ummat Islam, dan -walaupun haditsnya dhoif- bahasanya penduduk syurga. Bahasa Arab.

Dimulai dari dauroh Bahasa Arab yang diadakan oleh Pengurus Akademik Ma’had Ilmi, waktu itu dipegang oleh Ustadz Didik Suyadi (takmir Masjid Pogung Dalangan). Kami, saya dan kira-kira 20 orang santri lainnya dari berbagai jurusan, mempelajari sebuah kitab yang populer di kalangan santri, utamanya di pondok-pondok pesantren daerah Jawa Barat : Al-Muyassar fii ‘Ilmin Nahwi. Kitab tipis ini dikarang oleh Ustadz Aceng Zakaria, seorang Ustadz dari Persis (Pesatuan Islam) daerah Jawa Barat (kalau tidak salah ingat Garut). Berisi penjelasan ringkas nan mudah tentang ilmu nahwu, mulai bab Huruf hingga bab-bab yang sedikit sulit seperti Tawabi’. Kami mempelajari kitab tersebut bersama Ustadz Adika Mianoki.

Waktu itu, diadakan beberapa kali ujian sebagai evaluasi hasil belajar kami. Berulang kali, saya yang baru pertama kalinya mempelajari ilmu nahwu, gagal dan diharuskan mengulangi pelajarn tersebut. Akhirnya, saya dan beberapa santri yang juga gagal mengulang kembali bab-bab di Kitab Muyassar, yang sudah sampai setengah kitab, bersama Ustadz Ari Wahyudi.

Kitab kedua yang saya pelajari, selepas selesainya program tersebut, adalah Kitab Mukhtaraat. Berisi ringkasan kaidah-kaidah ilmu Nahwu dan Shorof yang dikarang oleh Ustadz Aunur Rofiq Ghufron, mudir Ma’had Al-Furqon Sedayu, Gresik. Melalui kitab ini saya mengulang bab nahwu, dan mempelajari untuk pertama kalinya, ilmu shorof.

Setelah itu, kitab-kitab kecil yang saya pelajari sebagai pelengkap, adalah Kitabut Tashrif, kitab dwilingua (Arab dan Indonesia huruf Pegon Melayu), Amtsilatul I’rob (berisi contoh-contoh i’rob berbagai kalimat), dan terakhir yang cukup berat adalah Mulakhosh. Satu-satunya kitab tentang bab Nahwu dan Shorof yang dikarang bukan oleh Ustadz Indonesia, melainkan Ustadz Fu’ad Ni’mah dari Beirut, Lebanon. Kitab ini berisi penjelasan detil mengenai bab nahwu dengan penjelasan yang teramat mendalam, dan contoh-contoh yang sangat membantu.

Pada akhirnya, setelah setahun genap mempelajari bahasa Arab, saya baru mulai berani membaca sendiri kitab gundul berbahasa Arab pada pertengahan tahun kedua. Tentunya setelah praktek membaca kitab di hadapan Ustadz, yang kemudian mengkoreksi harakat dan menanyakan kedudukan masing-masing kata (i’rob). Dan sungguh, walaupun kemampuan saya hanya sekedar menerjemahkan ala kadarnya, tanpa mampu mengharokati dengan 100% benar, tanpa mampu memberi kedudukan pada tiap kata, ternyata masih ada nikmat tersendiri ketika berhasil membaca sebuah paragraf dalam bahasa Arab. Nikmat ini barangkali bisa disimpulkan menjadi tiga :

1. Membaca kitab dalam bahasa aslinya, akan membebaskan kita dari orang ketiga. Hanya ada kita, dan sang penulis sendiri. Apabila kita membaca terjemahan, maka pemahaman kita secara otomatis akan dibatasi oleh kemauan sang penerjemah. Ibarat kita hanya nyucuk saja. Penerjemah bilang A, kita juga harus bilang A. Padahal, tidak semua penerjemah memiliki kemampuan diniyah yang kuat. Beberapa penerjemah bahkan masih awam dalam masalah agama, namun dalam masalah bahasa mereka unggul. Dampaknya, terjadi kesalahan penerjemahan dalam beberapa kata, yang sangat dipengaruhi oleh wawasan sang penerjemah.
2. Membaca sebuah paragraf dalam bahasa aslinya, akan memudahkan kita mengexplore makna yang terkandung, dan memperluas penjelasan kita. Kita dengan bebas dan leluasa, dapat memilih kata-kata mana yang sekiranya cocok untuk menggantikan istilah ini, istilah itu. Dampaknya, objek dakwah kita akan terbantu pemahamannya.
3. Membaca dalam bahasa aslinya akan memudahkan kita menghafal ayat, hadits, maupun atsar-atsar penting yang dapat kita keluarkan sewaktu-waktu dibutuhkan. Ibarat seorang pengembara yang membawa kurma, tentu lebih utama dari yang membawa tepung, gula, dan air. Yang pertama akan dengan mudah memakan kurmanya saat ia butuhkan. Sedangkan yang kedua harus mencampur tepung dengan air, mengadon, memasaknya hingga menjadi roti. Baru kemudian ia makan. Semakna itulah jika kita memiliki hafalan, ketika ada yang bertanya maka spontan akan kita ucapkan. Tidak perlu lagi membuka kitab yang tebal, atau search di program Maktabah Syamilah. Tinggal ngomong.

Maka, bagi yang masih berdomisili di Yogya, jangan lewatkan waktu untuk tidak mempelajari bahasa Arab. Mumpung banyak program yang ditawarkan. Ma’had Umar bin Khattab, program MEDIU, dan berbagai program lainnya yang dapat membantu dalam mempelajari bahasa Al-Qur’an. Bahasa ummat Islam. Bahasanya penduduk syurga. Bahasa Arab.

Mari, belajar bahasa Arab !

Penulis :
Yhouga Ariesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s