Nasionalisme Berbahasa

Posted: Mei 22, 2010 in Umum

Andai saja kita tak punya Bahasa Indonesia, dan Bahasa Jawa atau Bahasa Sunda-lah yang saat itu menjadi bahasa Nasional sebagai pemersatu bangsa. Apa yang terjadi, saat sekarang, di tengah kemajemukan begitu pluralis: budaya, adat istiadat, seni, bahkan bahasa daerah yang tersebar seantero negeri ini?
gambar diunduh dari basobasri.blogspot.com

Berutang budi-lah dengan The Founding Fathers kita. Namun, belum cukup hutang kita terbayarkan selagi kita masih senang menggunakan bahasa asing terpajang di rumah sakit, hotel, supermarket, bandara. Atau, perilaku berbahasa Indonesia yang terkesan belum meng-Indonesia secara baik dan benar di kalangan para pejabat, politisi, dsb. Dan lebih prihatin lagi, ketidak-lulusan UAN mata pelajaran Bahasa Indonesia di sebagian siswa-siswi kita yang masih cukup memprihatinkan.

Bahasa Melayu telah menjadi Lingua Franca di wilayah Nusantara. Tidaklah heran jika Ia mampu mengikat secara emosional berbagai perbedaan latar belakang suku-suku di Tanah Air. Bisa dibayangkan apabila Bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal Bahasa Indonesia tidak diintervensi oleh sikap politis ketika itu. Komunikasi antar warga di daerah yang berbahasa lokal lain mungkin tidak nyambung tertata jelas dan apik.

20 Mei, sebagai hari Kebangkitan Nasional tak pelak sebagai refleksi kebahasaan kita. Momentum yang mengilhami lahirnya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, sebagai perhelatan yang membuahkan rumusan awal bahasa pemersatu (lingua franca), yakni bahasa Melayu, bagi bangsa Indonesia yang tengah memperjuangkan kemerdekaan.

Salah satu yang dapat dijadikan alasan mengapa Bahasa Melayu mampu sebagai lingua franca adalah karena ia tidak mengenal tingkatan atau strata seperti ngoko, kromo alus, kromo inggil seperti Bahasa Jawa misalkan. Dengan kata lain, ke-egaliteran yang begitu menonjol mampu diterima masyarakat multi kultur. Disamping, Bahasa Melayu mempunyai sejarah panjang sebagai lingua franca di kepulauan Nusantara, dan dipakai dalam pergaulan oleh semua orang dari berbagai daerah.

Sekali lagi, kita mulai penggunaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar dari diri sendiri. Entah itu; ketika kita berkomunikasi dalam forum-forum formal, menulis di media apapun. Bila perlu kita bentuk gerakan “Mari Berbahasa Indonesia yang baik dan benar” melalui jejaring sosial. Sekecil apapun perhatian kita terhadap pemakaian Bahasa Indonesia adalah satu bentuk nasionalisme juga.

Kita benahi segala praktek kebahasaan Indonesia baik itu menyangkut aspek-aspek kosa kata, tata bahasa, ucapan, penyerapan bahasa asing di dalam berbahasa politik, berbahasa iklan, berbahasa jurnalistik, berbahasa sastra, berbahasa akademis, dan ber…ber…ber…lain. Semoga.

Penulis :
Sukmono Rihawanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s