Gara-Gara Bahasa China

Posted: Mei 22, 2010 in Umum

Suatu malam saya diundang ke jamuan makan malam resmi. Pengundangnya Bank of China yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia.
Jamuan makan malam itu sejatinya ditujukan bagi atlet-atlet bulu tangkis China yang sedang berada di Jakarta. Para pebulu tangkis putra dan putri yang mau berjuang mempertahankan Piala Thomas dan Piala Uber yang masing-masing sudah mendekam di China semenjak empat dan sepuluh tahun terakhir.

Bank of China adalah salah satu sponsor resmi tim bulu tangkis China, selain perusahaan ekspedisi FedEx, yang makin dikenal saat muncul di film “Cast Away,” dengan Tom Hanks jadi pemeran utamanya.

Jadilah, malam itu selain Pelatih Kepala Tim Bulu Tangkis China, Li Yongbo, hadir pula seluruh pemain, seperti pebulu tangkis tunggal putra urutan pertama dunia Lin Dan, yang perseteruannya lewat media dengan pebulu tangkis tunggal putra kedua Indonesia, Taufik Hidayat, sempat ramai beberapa waktu lalu.

Di salah satu ujung meja yang lain, dalam penerangan lampu yang temaran, sepertinya datang pula pebulu tangkis peringkat satu dunia, Xie Xingfang. Lin Dan serta Xie Xingfang.

Dua pebulu tangkis nomor satu dunia yang jadi sekarang jadi raja dan ratu dalam artian yang bisa disejajarkan dalam dunia nyata.

Lin Dan dan Xie Xingfang adalah sepasang kekasih. Bahkan, Xingfang yang meradang tatkala merasa Lin Dan dilecehkan Taufik pada momen Asian Games 2006 di Doha, Qatar.

Tapi, percayalah, sepanjang acara semenjak dimulai hingga penghujungnya, tak banyak yang bisa saya perbuat. Persoalan utamanya ada pada kebodohan saya.

Saya sama sekali tak memahami bahasa pengantar dan lantas dijadikan sebagai bahasa resmi dalam jamuan makan malam itu. Jamuan yang kemudian diteruskan dengan hiburan musik tradisional China yang digabungkan dengan permainan alat-alat musik modern itu.

Hanya satu lagu yang saya paham betul. Tatkala penyanyi dan kelompok pemain musiknya melagukan Bengawan Solo yang diciptakan Gesang. Selebihnya, saya hanya bisa manggut-manggut sembari cengar cengir, plus tengok kanan kiri.

Menit pertama masuk ruangan besar yang diberi titel ballroom pada salah satu hotel bintang lima di pusat Jakarta itu, saya disergap rasa cemas. Bagaimana tidak, kalau memang tidak ada hal yang saya pahami dari mereka semua yang sedang berbicara di atas panggung. Bahkan, saya tidak paham dan sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan orang-orang yang duduk di bangku-bangku elegan yang mengelilingi sejumlah meja makan besar itu.

Tapi, saya memenuhi undangan itu bukan hanya sekedar untuk menghormati pengundang. Tujuan saya adalah mengetahui segala ihwal yang mungkin saya bisa ketahui mengenai tim bulu tangkis China.

Saya mau tahu strategi mereka. Saya ingin tahu pendapat mereka soal kekuatan bulu tangkis negara-negara lain.

Saya penasaran.

Saya tahu itu bukan hal mudah. Kendala utamanya, ya itu tadi, gara-gara kebodohan saya. Malam itu, tantangannya ditambahi satu lagi, banyak sekali orang-orang yang lebih pandai dari saya karena mereka lihai berbahasa China, terus menerus mengerubungi Li Yongbo dan pemain-pemain China.

Minta tanda tangan dan foto bersama. Tak lupa, banyak di antara mereka yang kemudian terlibat dalam obrolan satu sama lain.

Tapi, saya memenuhi undangan itu bukan hanya sekedar untuk menghormati pengundang. Tujuan saya adalah mengetahui segala ihwal yang mungkin saya bisa ketahui mengenai tim bulu tangkis China.

Jadilah, dengan yakin saya hilir mudik kesana kesini. Berpindah dari satu meja jamuan ke meja jamuan yang lain. Berdiri, menguping, dan sok mengerti apa yang sedang dibicarakan.

Tiba-tiba, di deretan meja paling depan, saya lihat Lin Dan lagi dikerubungi beberapa perempuan muda. Mereka berfoto bersama. Ngobrol sebentar, dan ditutup dengan suara ketawa ketiwi beberapa perempuan muda tadi. Supaya meyakinkan, saya ikut ketawa ketiwi sebentar.

Lalu saya dekatkan muka saya ke wajah Lin Dan, supaya omongan saya bisa didengarnya. Perlu begitu, karena dengan suasana yang agak berisik, rasanya mustahil bicara dengan nada suara normal dengan jarak yang terpisah seperti pembicaraan pada suasana biasa.

Bedanya, saya ngomong tidak pakai bahasa China, melainkan Inggris. Itulah kebodohan saya. Berharap Lin Dan pun fasih pakai bahasa negara yang pernah punya wilayah jajahan terluas di dunia itu.

Tapi, harapan saya tak sepenuhnya kosong. Karena yakin Lin Dan mau menanggapi saya, maka ia pun dengan terbata-bata menjawab beberapa pertanyaan saya. Tapi selebihnya, saya harus bisa berlapang dada tatkala ia berkata “sorry, no English, no English.

Yah, saya pun keliling lagi. Kali ini target saya pasti.

Li Yongbo.

Kata rumor yang beredar, pelatih satu ini sebetulnya paham Bahasa Inggris. Namun, dalam berbagai kesempatan, Yongbo lebih suka menggunakan bahasa ibunya. Lalu, buat yang berkepentingan bertanya kepadanya, Yongbo lebih memilih pakai penerjemah. Ini salah satu strategi kebudayaan yang menurut saya sangat brilian.

Saya penasaran.

Tapi, sejumlah orang tengah bercakap-cakap dengan Yongbo. Plus, tentu saja, minta tanda tangan dan foto bersama.

Pasti, langsung mendesak masuk dengan cecaran pertanyaan tak akan berhasil. Apalagi kalau bertanya pakai bahasa selain bahasa China.

Tak bisa tidak, saya pun harus menjadi salah satu di antara pemburu tanda tangan itu. Maka, saya siapkan pulpen dan buku catatan yang jadi andalan saya kapan saja. Lantas, sepasang mata saya fokuskan hanya melihat ke satu titik.

Li Yongbo.

Waktu itu Yongbo sudah duduk. Ia tengah menghadapi semangkuk sup yang jadi hidangan pembuka di atas meja makan. Yongbo pakai topi hitam.

Bagaimana cara saya menyapa Yongbo, awalnya saya pun gelap. Tak tahu bagaimana mengawalinya. Hanya saja saya ingat, ada kata kata berbunyi xie xie dalam bahasa China yang tafsirnya berarti terima kasih.

Jadi, saya sapa Yongbo dengan itu. Xie xie, dan Yongbo pun menoleh.

Tak membuang waktu, saya sorongkan buku catatan dan saya berikan pulpen kepadanya. Tak menunggu lama, Yongbo pun membubuhkan tanda tangannya di salah satu halaman buku catatan saya itu.

Mulai sejak Yongbo menerima pulpen dari saya, sejak itulah saya mulai nekat mengajaknya bicara pakai bahasa Inggris. Gara-gara keyakinan saya bahwa Yongbo akan menanggapi, maka itulah yang terjadi.

Yongbo menjawab pertanyaan saya pakai bahasa Inggris pula. Lalu ia mengatakan pada saya, saat ini kekuatan dan peluang negara-negara lain buat jadi kampiun bulu tangkis relatif sama.

Salah satu penyebabnya adalah penggunaan sistem rally point sejak Desember 2005 lalu, ketimbang sistem serve point yang digunakan sebelumnya.

Dalam sistem rally point, pertandingan berakhir dalam 21 angka untuk kelompok putra dan putri. Pada sistem serve point, laga di kelompok putra berakhir dalam 15 angka dan 11 angka bagi kelompok putri.

Tak ada lagi istilah deuce dalam sistem rally point dan penyebutan set diganti dengan game. Jika skor imbang 20-20, pemain dengan keunggulan selisih dua nilai pada kejar-kejaran poin selanjutnya, jadi pemenang di game tersebut. Jika kejar mengejar poin terus terjadi, pemain yang lebih dulu mendapat 30 angka, dinobatkan jadi pemenang di game tersebut. Jika kedua pihak sama-sama menang pada dua game awal, tentu harus pula dilagakan game tambahan.

Rubber games.

Peluang yang jadi seimbang menurut Yongbo, karena dalam rally point, siapapun punya peluang serupa mendulang angka. Berbeda dengan sistem serve point, saat pengumpulan angka hanya bisa dilalakukan oleh pemain yang tengah memegang kendali servis. Jika mau mengumpulkan angka, maka pemain yang lain harus lebih dulu merebut kendali sevis.

Proses pindah servis ini bisa berjalan bolak-balik di masa lalu ketika sistem serve point digunakan. Membuat laga cenderung berdurasi panjang dan dikembangkannya kemampuan hingga batas paling maksimal.

Tapi itu tadi, peluang buat menjadi juara relatif mudah dibaca. Hal ini menurut Yongbo, tak akan terjadi dengan sistem rally point. Setiap pemain punya peluang sama. Tergantung pada kesiapan fisik, teknik, dan mental buat memanfaatkannya.

Kedua kubu punya peluang untuk merasakan sensasi penasaran dan rasa dag dig dug yang imbang.

Belakangan, pendapat Yongbo sedikit terbukti. Tak dinyana, Tim Uber Belanda mampu menyulitkan China di babak semifinal, sebelum Tim Uber China menang dengan skor ketat 3-2. Begitu pula yang terjadi saat Tim Thomas Malaysia memberikan perlawanan ketat pada Tim Thomas China di babak semifinal, sebelum Tim Thomas China menang dengan skor ketat 3-2.

Saya lanjutkan pertanyaan kepada Yongbo. Beberapa pertanyaan sempat menderas masuk dan dijawab Yongbo dengan santai. Termasuk bagaimana soal kondisi terakhir Lin Dan, yang beberapa hari sesudahnya sempat menelan kekalahan dari pebulu tangkis tunggal putra pertama Malaysia, Lee Chong Wei, di babak semifinal Piala Thomas 2008 itu.

Sebelum akhirnya hidangan utama datang dan memutus pembicaraan kami.

Sampai hari ini, itulah kesempatan pertama dan terakhir saya bercakap-cakap dengan Li Yongbo pakai bahasa Inggris. Selanjutnya, pada pertemuan-pertemuan yang lain, Yongbo selalu memilih didampingi penerjemah.

Penerjemah yang membuat saya gerah. Bukan karena penerjemah itu tidak tersumpah. Tapi sungguh, pakai jasa penerjemah bikin saya jengah.

Ada distorsi komunikasi. Itu pasti.

Barusan, saya ngobrol dengan seorang kawan yang beberapa tahun terakhir ini berkarir di Singapura. Dia mendorong saya untuk segera menguasai pinyin. Pinyin adalah cara penulisan pakai huruf latin untuk bahasa Mandarin (baca: Bahasa China).

Sistem fonetik pinyin ini dibuat Lembaga Pembaharuan Tulisan Republik Rakyat China pada 1958 lalu. Soalnya, tanpa sistem penulisan dengan aksara latin ini, akan susah bagi orang selain bangsa China yang mau menguasai bahasa China.

Pasalnya, bahasa China tidak pakai aksara latin. Bahasa China menggunakan aksara Hànzì, yang terdiri atas ribuan aksara. Aksara kanji yang satu rumpun dengan bahasa Jepang dan juga Korea.

Piala Thomas akhirnya dipertahankan China usai melumat Korea Selatan 3-1. Tim Uber China juga mempertahankan Piala Uber setelah meluluhlantakkan Indonesia 3-0.

Saya sangat tidak puas. Terutama karena kebodohan saya. Xie xie.

Penulis:
Ingki Rinaldi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s