Belajar dari Monyet

Posted: Mei 22, 2010 in Motivasi

Pulau Sebuku merupakan sebuah area pertambangan batu bara di propinsi Kalimantan Selatan. sebagian wilayahnya dijadikan cagar alam dan banyak monyet di pulau ini. Mereka sering mendatangi lokasi kerja kami untuk mencari makanan. datang dalam sebuah kelompok yang berjumlah 15 – 20 ekor atau lebih. ada juga beberapa ekor yang jinak , mau mengambil makanan yang diberikan dari tangan kami. kebanyakan lebih suka menunggu , jaga jarak , berharap ada makanan yang dilempar kearahnya dan mereka pun akan saling berebutan. siapa yang cepat , dia yang dapat.

Bukan hanya pisang , mereka makan apa saja yang bisa dimakan. nasi , ayam goreng , daging , roti , telor , tempe , tahu , biskuit , dll. semua yang bisa kami makan , mereka juga bisa makan. ada kejadian kocak ketika seekor monyet makan telor rebus yang kami berikan. pelan-pelan kulit telor rebus dikupasnya. putih telor dimakannya , belum ada masalah. namun ketika kuning telor ditelannya , meledaklah tawa kami. monyet itu cegugukan…glek nguik glek nguik…ha-ha-ha…ada monyet yang keselek !.

Dalam setiap kelompok ada seekor monyet yang berlaku sebagai pemimpin. sang pemimpin badannya lebih besar dan kekar. agak liar dan lebih galak dibandingkan monyet yang lain. seperti ada aturan tak tertulis , setiap makanan yang kami lempar jika sang pemimpin menghendakinya , monyet – monyet yang tadinya berebutan langsung bubar , lari berhamburan. tak ada monyet lain yang berani mengambil makanan tersebut.

Sang pemimpin juga bertindak sebagai pemberi aba-aba untuk pergi meninggalkan tempat bila ada gangguan atau bahaya yang berpotensi menjadi ancaman bagi kelompoknya. sinyal atau tanda bahaya awal berupa sebuah teriakan nyaring dikeluarkan oleh monyet yang lebih dulu melihat kejadian , kemudian diikuti oleh monyet yang lainnya yang juga berteriak nyaring saling bersahutan. monyet-monyet yang tadinya berceceran akan lari secepatnya , bergabung satu sama lainnya membentuk sebuah kelompok. dibawah komando sang pemimpin , mereka pergi menjauh , mencari tempat yang aman.

Camp tempat kami tinggal banyak pepohonan yang rindang disekitarnya. letaknya jauh dari lokasi tempat kerja kami. sebuah camp yang tenang , nyaman , lepas dari kebisingan. ada beberapa anjing yang dipelihara untuk menjaga camp . monyet-monyet juga sering datang kesini untuk mencari makanan. biasanya mereka datang di pagi hari ketika kami sedang sarapan sebelum berangkat kerja. berharap ada makanan atau sisa makanan yang dapat kami berikan.

Suatu hari para monyet ini bertemu dan berhadapan dengan seekor anjing penjaga. anjing menggonggong dan mengejar untuk mengusir monyet keluar dari camp. monyet-monyet lari ketakutan , berusaha secepatnya memanjat pohon yang terdekat. suasana panik dan hiruk pikuk terdengar , para monyet lari serabutan. namun kemudian datang sang pemimpin yang maju dan menghadang anjing tersebut. dengan mulut menyeringai marah , dikibas-kibaskan tangannya kearah muka anjing. dilihat dari ukuran tubuh , anjing itu jauh lebih besar dibandingkan monyet. namun sang pemimpin tidak takut , dia berani melawan. anjing berusaha menghindar dari hadangan sang pemimpin , bergerak kesisi lainnya untuk mengejar monyet-monyet yang ada dibelakang sang pemimpin. kemana pun anjing bergerak , sang pemimpin terus mengikuti dan menghadangnya . akhirnya anjing itu pun kabur melarikan diri ketika sang pemimpin yang tadinya dalam posisi bertahan , nekat berbalik menyerang dan mengejar anjing. setelah keadaan aman monyet-monyet pun turun dari pohon , kembali mencari makanan sedangkan sang pemimpin tetap berjaga , waspada dan mengawasi keadaan disekitarnya.

Pesan moral dari cerita ini , sang pemimpin selain mempunyai “ hak istimewa “ – dapat dilihat dari kejadian ketika makanan dilempar kearah mereka , jika sang pemimpin menghendakinya , monyet yang lain tidak ada yang berani mengambil makanan tersebut – dia pun sadar akan “ tanggung jawab istimewa “ nya , yaitu menjaga dan melindungi kelompoknya. didalam kelompoknya itu ada bawahan atau anak buahnya , kawan atau rekannya , keluarga atau saudaranya , sekaligus juga merupakan bagian dari rakyatnya.

Seorang pemimpin yang hanya tahu menuntut haknya tapi tak peduli dengan kewajiban dan tanggung jawabnya bukanlah seorang pemimpin. hanya pintar “ buang badan “ , tak berani menghadapi masalah yang ada , menumpahkan kesalahannya ke pihak lain untuk menyelamatkan dirinya , mengamankan posisi dan jabatannya dengan cara mengorbankan orang lain yang tak bersalah , adalah pemimpin yang seharusnya belajar dari seekor monyet , bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin yang baik.

Penulis :
Lohmenz Neinjelen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s