Setop Atau Stop???

Posted: Maret 30, 2010 in Bahasa Indonesia

Sebuah koran yang mengaku terbesar di kawasan Indonesia bagian timur dalam terbitan edisi 14 September 2009 memuat headline berjudul “Setop Angkat Guru Honorer”. Judul ini kemudian menjadi topik diskusi yang lumayan seru berbumbukan tertawaan merendahkan editor harian tersebut karena seorang kawan iseng-iseng memotret dan mengaplodnya di facebook.

Berbagai komentar dialamatkan ke penggunaan kata “SETOP” pada awal kalimat headline diatas. Ada yang bilang ‘ndheso buanget iki’, ada yang bilang ‘editornya mungkin nda tamat sd’, ada yang bilang ‘maumi diapa’ dengan nada tersirat putus asa, dan lain sebagainya.

Mana yang ‘benar’, Setop atau STOP???

Diskusi tersebut diatas tercatat tanggal 14 september 2009 dan saya baru sempat membacanya tiga pekan lalu. Selang enam bulan lebih sepuluh hari sejak diskusi berlangsung, tepatnya hari ini saya tergerakuntuk membuat notes tidak penting ini untuk mengurai ‘kebenaran’ kata SETOP atau STOP. Saya kemudian mencoba membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi dating (online).

Pertama, saya ketik STOP. Yang muncul kalimat, “stop? setop” yang artinya kata “stop” tidak ditemukan dalam KBBI, yang ada kata “setop”. Saya kemudian melanjutkan dengan mengetik kata “setop”. Alhasil, pembahasan berikutlah yang muncul.

Setop
>> se-top (v) = berhenti; terhenti;
>> me-nye-top (v) = menghentikan; menyuruh berhenti; contoh, setiap pagi ia menyetop bendi lalu naik;
>> se-top-an (n) = 1. Tempat berhenti (bus dsb); penghentian (kendaraan). 2. Lampu lalu-lintas (merah-hijau-kuning) yang dapat menandai kendaraan yang lewat harus berhenti atau berjalan lagi;
>> pe-nye-top-an (n)= 1. Proses, cara, perbuatan menyetop. 2. Tempat menyetop. Contoh, Uchy berdiri di penyetopan dekat bundaran Hotel Indonesia.

Jadi, dalam KBBI tidak ditemukan adanya kata “STOP”, yang ada kata “SETOP” sebagai padanan kata atau katakanlah sebagai kata serapan atau kata Indonesianya dari bahasa asing STOP.

Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah terkadang penggunaan kata padanan atau kata serapan kurang begitu dimengerti oleh sebagian dari kita, termasuk saya pada awalnya. Kata “SETOP” yang dikomentari sebagai kata yang “ndheso” yang “mbikin ballisi” yang “malu2in” yang “editornya tidak tamat sd” dan jadi bahan tertawaan ternyata diakui oleh KBBI. Justru kata “STOP”, yang mungkin bagi kita adalah bahasa baku, ternyata tidak dikenal dalam bahasa Indonesia menurut KBBI. So, setop menertawan ‘kesalahan’ orang lain karena belum tentu kitalah yang ‘benar’.
Salam setop…

Muna Makkadafi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s