Sertifikasi Sertifikat

Posted: Maret 30, 2010 in Umum

Sesuatu yang unik selalu saja ada di sekitar kita. Peraturan unik dengan orang-orang yang menjalaninya pun unik-unik. Terlihat unik karena sejati
cara cepet dapat sertifikat

cara cepet dapat sertifikat

nya peraturan menjadikan dirinya lebih berkompeten di suatu bidang yang atur itu. Tapi, karena setiap orang diberi modalitas berpikir dan bertindak unik, terkadang ada saja caranya mencari uang tambahan.

Ini bukan tentang Gayus Tambunan. Pegawai negeri berpangkat tiga a, dengan gaji per bulan cuma dua belas juta, eh bisa beli rumah seharga tiga miliar di komplek elit di Jakarta. Dia memang mampu berpikir dan bertindak unik, memelintir aturan perpajakan. Tapi bagaimana dengan seorang guru?

Di Lombok Timur, dan di banyak daerah di negeri ini, para guru dan dosen sedang ‘demam’ sertifikasi. Maunya seh dapat dapat uang lebih tiap bulan bermodal setumpuk sertifikat seminar dan diklat.

Ini contoh kecil saja. Di meja kepala sekolah, di sekolah saya, ada surat undangan mengikuti seminar bertaraf internasional. Ya mungkin karena pembicaranya banyak orang bule; dari salah satu universitas Australia. Tak tanggung-tanggung tertulis, poin sertifikat mencapai tiga puluh. Waw….

Dengan modal seratus dua puluh ribu, peserta akan mendapat note, makalah, snack dan sertifikat yang menjadi modal sertifikasi. Padahal tak bias ditutupi, kalau seminari pendidikan seperti itu hanya semacam seremonial formalitas legitimasi mendapatkan sertifikat saja. Hanya untung rugi saja buat pelaksana dan peserta.

“Sertifikasi ternyata membuka peluang kerja buat banyak orang, Pak,” kata saya pada Pak Hanafi, rekan guru di sekolah.

“Tapi, sekarang kan yang dinilai masa kerjanya. Kalau masa kerja belum mencukupi, golongan gak sesuai aturan ya belum bias sertifikasi, Pak.”

Ini seperti jual beli pendidikan saja. Seminar yang tak lebih dari sehari dianggap akan menjadikan peserta seorang yang profesioanal di bidangnya. Artinya, si pelaksana seminar yang hanya mendahulukan untung rugi. Hasil? Terserah anda.

Kalau seminar untuk sertifikat sertifikasi, maka mereka telah menihilkan konsep pendidikan berlangsung seumur hidup, seperti penjelasan Prof. Retno S. Satmoko dalam Pengantar Pendidikan-nya. Sepantauan saya, lima dari guru yang dapat sertifikasi bermodal sertifikat yang didapatkan dengan cara seperti itu malah mencetak guru yang tidak professional.

Setelah mendapat sertifikasi, eh guru malah ‘ongkang-ongkangan’ di sekolah. Lalu bagaimana “Tujuan pendidikan untuk membuat persiapan yang berguna diakhir nanti” seperti ungkap Johan Amos Comenius (1592-1671). Padahal, kalau seminar mereka katakan sebagai bagian dari pendidikan, maka seminar tersebut sejatinya membentuk kader-kader atau calon-calon generasi penerus bangsa yang benar-benar bisa diandalkan oleh bangsa di masa yang akan datang. Namun sekarang? Anda, pembacalah, yang menentukan jawabannya.

Rusydi Hikmawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s