Belajar dari Takemoto-san

Posted: Maret 30, 2010 in Motivasi

“Tak ada kata terlalu tua untuk belajar”
Adalah Takemoto-san, seorang wanita lanjut usia yang tinggal di Prefektur Okayama, di bagian barat daya Pulau Honshu, Jepang. Tak ada yang tampak istimewa dari sekilas melihatnya. Seperti kebanyakan nenek-nenek Jepang lainnya, dia memang masih sehat dan energik di kala usianya memasuki kepala 6. Ya, di usianya yang kini 64 tahun Takemoto-san masih bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal.

Ketidakmampuannya untuk melihat mungkin menjadi salah satu pembedanya. Takemoto-san mengalami cacat mata sejak kecil, hingga menyebabkan kebutaan pada usia 5 tahunan. Takemoto-san menghabiskan sebagian masa hidupnya dalam gelap. Tapi dia bisa bertahan hingga saat ini. Banyaknya fasilitas umum untuk orang-orang tuna netra di Jepang mungkin memberikan salah satu kemudahan baginya.

Apakah itu menjadikannya istimewa? Tidak juga. Ada yang lebih istimewa lagi bila kita melongok lebih dalam lagi kehidupannya. Selain menjalani masa tuanya, Takemoto-san kini juga menjalani kehidupannya sebagai seorang siswa kelas 3 SMA!

Memasuki bangku SMA di usia 62 tahun sungguh bukan hal yang biasa. Takemoto-san memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya yang dulu terputus hanya sampai SMP saja. Dia merasa butuh untuk belajar dan mengembangkan dirinya.

“Saya sudah banyak membuang-buang waktu selama ini. Kemana saja saya sampai usia 60-an tahun ini? Tak ada kata terlambat untuk saya. Selagi masih bisa, kenapa saya tak mengejar ketertinggalan ini? Saya ingin belajar lebih banyak lagi”, tuturnya.

Maka, masuklah Takemoto-san ke salah satu SLB di kotanya dan mendaftarkan diri di pendidikan tingkat SMA. Meskipun teman-teman sekelasnya bisa dikatakan seumur dengan cucunya, tapi itu tak menjadikannya malu dan undur diri. Takemoto-san rajin mengikuti setiap pelajaran yang ada. Mulai dari pelajaran bahasa, ilmu pengetahuan alam dan sosial, ketrampilan, menyanyi, bahkan olah raga.

Untuk memudahkan ke sekolah tiap hari, Takemoto-san memilih untuk tinggal di asrama sekolah. Dia menempati sebuah unit kamar sendiri, lengkap dengan dapur mungil dan kamar mandi. Dia pun tak canggung untuk melakukan segala-galanya sendiri.

Bangun pagi, mandi dan sarapan sudah menjadi rutinitasnya tiap pagi, dilanjutkan dengan persiapan pergi ke sekolah. 1 tas ransel kecil berisi buku-buku pelajaran, serta 1 tas beroda untuk mengangkut perlengkapan-perlengkapan lainnya sudah dia siapkan sejak dari malam sebelumnya seusai belajar.

Setelah berpakaian rapi, Takemoto-san tak lupa memakai make up. Tanpa melihat cermin, Takemoto-san bisa dengan lancar membersihkan wajah, mengoleskan pelembab dan menaburkan bedak dengan rata ke wajahnya. Olesan tipis lisptik di bibirnya dan goresan pensil alis menjadi pelengkapnya. Srut..sruut…tak ketinggalan juga parfumnya!

Yak, siap berangkat!

Di susurinya lorong di depan asramanya dengan tongkat di tangan kanan dan menyeret tas dengan tangan kirinya. Menyeberang lapangan basket dan halaman, sampailah dia ke sekolah. Begitu memasuki pintu gerbang, segera dia berbelok ke kiri menuju tempat penyimpanan sepatu. Setelah melepaskannya sepatunya dan diganti dengan selop, dilanjutkannya perjalanan menuju ke kelas.

Menaiki tangga, menyusur lorong, berbelok di beberapa sudut gedung merupakan rute yang sudah dihafalnya. Biasanya Takemoto-san paling awal tiba di kelas dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Segera dipersiapkannya segala kelengkapan belajarnya. Buku-buku pelajaran dalam huruf braile ditaruhnya di atas meja. Alat perekam untuk merekam setiap penjelasan guru selama pelajaran berlangsung pun dipasangnya.

Takemoto-san sadar sepenuhnya, bahwa dia harus bejuang lebih keras dibandingkan dengan siswa lainnya. Usianya yang tak lagi muda membuat kemampuan mengingat dan menerima pelajaran tak semudah dulu. Apalagi penguasaannya terhadap huruf braile masih terbatas. Dia memperlajari kembali huruf braile begitu masuk SMA 2 tahun yang lalu. Sedangkan teman-teman sekelasnya yang notabene lulusan langsung dari SMP sudah menguasai huruf braile dengan baik.

Namun begitu, Takemoto-san tak putus asa. Kemauan belajarnya yang tinggi membuatnya tetap bertahan, bahkan terpacu untuk bisa menyamai yang lainnya. Teman-temannya pun tak segan-segan membantu Takemoto-san bila ada kesulitan. Hal tersebut menjadikan Takemoto-san semakin kerasan dan menikmati kehidupan sekolahnya.

Pelajaran menyanyi paling disukai Takemoto-san. Menyanyi sambil diiringi detingan piano yang dimainkan oleh gurunya, memberi kebahagiaan tersendiri bagi Takemoto-san. Walaupun sesekali dia keliru mengeja not braile yang diraba dengan ujung jarinya, tapi dengan sabar guru keseniannya membetulkan.

Ada kebahagiaan dan kesedihan dalam setiap perjalanannya menuntut ilmu. Kesabaran guru-guru yang mengajarnya, kebersamaan dengan teman-teman sekelasnya adalah hal yang sangat membahagiakanya. Namun kadang Takemoto-san merasakan kesulitan yang hampir-hampir membuatnya patah semangat.

Di pelajaran matematika, dengan kemampuan penguasaan huruf braile yang masih terbatas, kadang Takemoto-san merasa lemah sekali. Berulang kali dia mencoba mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya, tapi seakan sia-sia. Persamaan-persamaan matematika yang tercetak dalam huruf braile itu tampak begitu membingungkan. Berkali-kali dia coba… coba lagi… dan coba lagi… Takemoto-san tetap tak mengerti juga. Sampai akhirnya ditelungkupkannya wajahnya pada kedua telapak tangannya. Pecah tangisnya tersedu-sedu.

“Saya tak bisa mengerti..! Mou muri desu*”, isaknya pilu. (* = sudah tak mungkin lagi)

Dengan pelan sang guru menghampirinya dan berkata dengan lembut,”Tidak apa-apa. Kalau kamu coba lagi dengan lebih perlahan dan teliti, pasti kamu bisa. Jangan pernah berputus asa ya. Ganbatte!**”. (** = berjuanglah)

Takemoto-san pun menegakkan kembali wajahnya, menggerakkan jemarinya menelusuri deretan titik-titik kecil huruf braile itu dengan perlahan-lahan. Semangat belajar yang tadinya pupus, kini perlahan-lahan mulai tumbuh kembali.

“Aku tak boleh jatuh. Aku tak boleh putus asa. Aku harus berjuang. Aku masih punya banyak mimpi yang ingin kuwujudkan”, bisiknya menyemangati diri sendiri.

Hari-hari Takemoto-san makin berwarna. Tahun ke-3 dijalaninya dengan lebih semangat. Ketekunan dan keuletannya membuahkan hasil yang nyata. Kini Takemoto-san tak lagi menemui kesulitan berarti. Dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Bahkan kini Takemoto-san sudah bisa berjalan-jalan secara mandiri ke luar komplek sekolah. Takemoto-san menerima pelajaran menggunakan tongkat untuk membantu berjalan di tempat-tempat umum. Kini dia bisa membedakan jalanan aspal, trotoar, serta tempat-tempat lainnya dengan ujung tongkatnya. Dia pun bisa mengindari lobang dan saluran air di pinggir jalan. Takemoto-san begitu menikmati kebebasannya.

“Saya bahagia sekali. Ini sudah menjadi impian lama saya. Rasanya saya sudah sering merasakan hal seperti ini dalam mimpi-mimpi saya. Dan kini semua itu menjadi hal yang nyata. Sungguh, saya merasa seperti terlahir kembali ke dunia ini. Mulai sekarang saya akan rajin jalan-jalan sendiri, biar lebih sehat”, ujarnya penuh semangat.

Saat ditanya apa rencananya setelah lulus SMA, Takemoto-san menjawab dengan yakin,”Saya ingin melanjutkan sekolah lagi, masuk ke perguruan tinggi. Kalau sampai saat ini saya masih mampu, kenapa tidak? Saya ingin belajar lebih banyak lagi dan menjadi orang yang berguna”.

Lalu muncul pertanyan berikutnya diajukan,”Apakah tidak terlalu tua, Takemoto-san?”

“Terlalu tua untuk belajar? Saya rasa tidak. Saya masih muda kok, baru 64 tahun”🙂

Titin Fatimah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s