Arsip untuk ‘Umum’ Kategori

KAMUS Besar Bahasa Indonesia adalah kamus ekabahasa resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku. Hingga saat ini sejak KBBI terbit pertama kali pada tahun 1988 sudah mengalami tiga kali revisi. Edisi terakhir adalah edisi keempat yang cetakan pertamanya diterbitkan pada tahun 2008.

Sejarah penerbitannya dimulai dari 1988. Edisi pertama adalah hasil pengembangan dari Kamus Bahasa Indonesia yang terbit pada tahun 1983. Kamus ini baru memuat 62.100 lema. Edisi keduanya diterbitkan pada 1991, edisi ini adalah revisi dengan edisi pertama dan memuat 72 ribu lema. Lalu edisi ketiga diterbitkan pada 2005. Di edisi ini memuat 78 ribu lema.

Menurut Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, seperti yang dilansir Wikipedia Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Kamus_Besar_Bahasa_Indonesia) kamus ketiga ini masih terasa banyak sekali kosakata yang belum masuk. Tetapi harap diingat bahwa KBBI adalah Kamus Umum berisi kosakata umum, sehingga dalam kamus tidak termasuk berbagai istilah. Untuk penggunaan kamus bidang ilmu tertentu Pusat Bahasa juga memiliki Kamus Istilah. Yang terakhir direvisi lagi pada 2008. Edisi keempat memuat lebih dari 90 ribu lema dan sublema.

KBBI ini sangat berguna bagi para guru, jurnalis, aktivis atau masyarakat umum yang hendak mempelajari Bahasa Indonesia baku yang digunakan secara formal dalam percakapan, tulisan atau surat-menyurat. KBBI adalah panduan yang sangat tepat. Untuk para jurnalis memiliki KBBI adalah keharusan.

Nah, sekarang KBBI sudah dibuat menjadi satu program untuk telepon genggam kita. Aplikasi KBBI Mobile ini dibuat oleh Yuku dengan alamat http://www.kejut.com/kbbimobile, namun kosa kata yang diambil tetap menjadi hak dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Aplikasi kamus ini sekarang tersedia versi 1.1.3 dengan ukuran file sekitar 2,9MB, untuk menggunakan kamus ini minimal ponsel Anda mendukung Java MIDP-2.0 dan CLDC-1.1.

Cara menggunakan KBBI Mobile cukup mudah, pertama download aplikasinya kemudian instal. Selanjutnya buka aplikasi dan ketik kata yang ingin dicari setelah itu tekan ‘cari’. Jika kata yang dicari sudah ada di kamus maka akan ditampilkan daftarnya, silakan tekan salah satu tombol keypad dari 1-9 sesuai dengan urutan kata yang muncul. Namun jika hanya ada 1 kata, maka kita cukup tekan tombol ‘1′ untuk melihat penjelasan dari kata tersebut dalam kamus Bahasa Indonesia. Selamat mencoba.

Penulis :
Jafar Bua

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Posted: Mei 26, 2010 in Umum

Salah satu anak saya, di sekolah, menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mata pelajaran di kelasnya.

Suatu hari saat mengerjakan PR matematika, ia susah mencari istilah dalam bahasa Inggris dan dengan kesal berkata, “Kapaa…aan Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional?”

Mendengar itu, kakaknya menjawab, “Nggak bakalan, terlalu banyak kata serapan dari asing tanpa struktur kata dasar yang baku?”

Ada benarnya juga dia. Waktu kuliah dulu, saya mengambil kelas Dasar Linguistik Bahasa Inggris, dimana kami diajari cara mencari arti kata tanpa melihat kamus. Bahasa Inggris penuh dengan serapan bahasa asing juga, cuma berstruktur dasar yang baku secara umum. Misalnya, dasar kata ‘eu’ dari latin yang berarti bagus, selalu mencerminkan arti bagus dari kata yang mengandung ‘eu’, seperti eugene yang artinya eu=bagus gene=gen, jadi artinya keturunan yang baik.

“Sudahlah, kalau mau maju pelajari bahasa Inggris, banyak manfaatnya, kok!” timpal saya. Kemudian saya ceritakan pengalaman bertemu orang Malaysia, Singapura, India dan lainnya, bahkan kadang orang Indonesia juga, yang kebanyakan dari mereka-mereka di atas walau bisa bahasa Indonesia lebih suka bercakap dan menuangkan kontrak dalam bahasa Inggris.

Suatu hari saya pernah bertemu kawan Australia yang cukup fasih berbahasa Indonesia walau dengan logat bule. Di tengah percakapan, handphone dia berdering dan dia angkat. Dari pembicaraanya kelihatan topiknya mengenai pesanan barang kawan ini terhadap orang di ujung telepon sana.

Kemudian kawan Australia ini berkata dengan logat bulenya, “Pesok lagi, insalah lagi, insalah, dari dulu pesok atau insalah.”

Yang ia maksud kata Insya Allah dan kata besok yang tidak pernah datang, atau dalam istilah bahasa Inggris: tomorrow never come.

“Sudah saja, bapak faks ke kantor kapan hari pastinya, in english please!” lanjutnya.

Secara tidak langsung kawan ini sudah tidak percaya dengan janji yang diucapkan dalam bahasa Indonesia. Berikut, maunya dia, kalau berjanji dalam bahasa Inggris saja. Begitulah di Indonesia, maka itu ada istilah populer di negeri ini ‘memberi bukti, bukan janji’, yang sempat membuat kawan dari Australia ini bingung. Apa salahnya berjanji?

“A promise is a promise,” katanya.

Berbeda dengan di Indonesia, di banyak negara janji itu adalah janji. Menepati janji adalah membangun kredibilitas. Kredibilitas membuat seseorang bermartabat.

“Tidak pernah tepat waktu, jam rusak saja sehari dua kali tepat waktu,” kata orang Australia ini dengan dongkol.

Kemudian ia melihat ada dua buah jam dinding di ruang restoran tempat kami bertemu, yang masing-masing menunjukkan waktu yang berbeda.

“Lihat jam itu dan jam itu,” sambil jari telunjuknya menunjuk ke kiri dan kemudian ke kanan, “Dua buah jam yang menunjukkan waktu yang berbeda, typical Indonesia!” katanya.

“Ya iyalah,” jawabku, “Kalau dua-duanya menunjukkan waktu yang sama, buat apa ada dua jam.”

Berbeda dengan tata Bahasa Inggris yang mengakomodasikan Newtonian Grid, atau terikat ruang dan waktu, tata Bahasa Indonesia tidak mengenal ruang dan waktu atau tidak mengenal pluralisasi, tidak ada tata bahasa untuk peran jamak, tidak ada pengelompokan kata dan dimana saat ini bisa berlaku kapan saja.

Menggunakan rumus aritmatika, tata bahasa Inggris mensyaratkan konsistensi, dimana a x b = b x a, sedangkan dalam bahasa Indonesia a x b tidak harus = b x a.

Masalah ini pernah diperdebatkan oleh Anthony Burgess yang mengelompokkan bahasa Inggris dan sejenisnya ke dalam jenis Anglophonics yang merupakan bahasa yang rasional dan pragmatis (orientasi tertutup), dan kebanyakan bahasa Asia termasuk bahasa kita yang masuk ke kelompok kedua yaitu bahasa seni dan ekspresif dari permainan yang tanpa maksud atau tujuan (orientasi terbuka).

Kita akan mendapatkan masyarakat yang ramah, sopan dan penuh basa-basi pada mereka yang menggunakan bahasa dengan orientasi terbuka. Tetapi, di akhir pembicaraan, maksud dan tujuannya tidak jelas.

Menurut hipotesa Korzibski-Whorf-Sapir, bahasa yang digunakan suatu bangsa sebagai kebiasaan mempengaruhi daya persepsi mereka, ‘konsep’ mereka dan juga perasaan mengenai diri mereka dan dunia pada umumnya.

“Perubahan dalam berbahasa dapat merubah pengertian kita akan alam semesta,” seperti yang dinyatakan Whorf dalam hal ini.

Bukan kebetulan kalau fuzzy logic yang ditemukan oleh Lofti Zadeh dari University of Berkeley, California, di tahun 1964, penerapannya justru berhasil dilakukan di Jepang dalam bentuk komputer dan produk elektronik lainnya.

Hal ini disebabkan struktur bahasa Inggris hanya mengenal pernyataan-pernyataan yang secara logika dapat kita nilai sebagai pernyataan benar atau salah. Sedangkan, dalam kebanyakan struktur bahasa Asia, pernyataan-pernyataannya tidak mengandung logika benar-salah, tetapi sanggup tiba-tiba mengantar kita ke dalam pengertian yang baru.

Jadi, kalau bahasa Inggris mengandung logika Aristoteles, yaitu: ini atau itu, benar atau salah, ya atau tidak dan seterusnya. Bahasa Asia mengandung logika nilai-n yang tidak saja terikat ya atau tidak, tetapi termasuk tengah-tengahnya dengan tingkat probabilitas mengikuti di setiap perkembangan. Misal, jika n=1= tidak, n=2=20 persen kemungkinan ya, 2.5= 25 persen kemungkinan ya, terus… sampai 9=90 persen kemungkinan ya, dan 10=ya.

Seorang kawan Jepang mengatakan kepada saya bahwa kalau kita menawarkan sesuatu di Jepang dan jawabannya, “Akan saya pikirkan dulu,” mempunyai kemungkinan di atas 90% dia menolak tawaran itu.

Kelihatannya tidak berbeda jauh dengan di Indonesia.

Tetapi, ada yang membedakannya, bangsa Asia Timur kaya akan pengaruh filosi klasik dari India, Persia dan Cina. Salah satu konsep penting dari Cina yaitu filosofi ching ming.

Ching, sebagai kata benda mengandung arti pejabat atau pejabat kerajaan, sedangkan sebagai kata kerja mempunyai arti memperbaiki kesalahan atau kegiatan seseorang.

Ming berarti mulut yang juga berarti pernyataan tanpa arti, pernyataan umum yang tak jelas, gagasan mengambang, dll.

Disatukan, ching ming, berarti berpikir sebelum berbicara.

Mereka sangat teliti menggunakan kata-kata. Sedangkan di Indonesia, tidak saja sebagian dari kita senang bermain-main dengan semantik, menggunakan tata bahasa dan penulisannya saja sudah kusut. Seperti mengeja ‘silahkan’ dari yang seharusnya ‘silakan’, membedakan fungsi kata ‘kita’ dan ‘kami’ sering terbalik-balik, apalagi memberi tanda baca atau menulis kalimat panjang, cukup kacau juga.

Kegemaran lain pada sebagian bangsa ini, di waktu luangnya, adalah sering mengutak-atik keharmonisan tata bahasa dengan mengacaukan konsep dualistik di alam semesta.

Sebut saja istilah ‘Bank Syariah’, ahli ilmu logika menyebutnya sebagai Empedoclian paradox. Bank adalah haram, syariah adalah halal. Bagaimana mungkin sebuah kata ‘bank’, yang istilahnya tidak ada dalam Islam, disebut syariah.

Kata ‘bank’ lahir dari pedagang-pedagang uang di Italia di abad 12. William Shakespeare menyebut mereka Yahudi-yahudi dari Venesia dalam karya sandiwaranya yang berjudul ‘The Merchant of Venice’ atau ‘Pedagang (uang) dari Venisia’, kakek saya menyebutnya renteneer, ibu saya menyebutnya lintah darat, sedangkan generasi saya menyebutnya financiers.

Masuk ke dalam Bank Syariah, maka seseorang akan mendapatkan apa yang dikatakan Aristoteles “Sang Seniman meniru Alam”. Beberapa serangga tertentu meniru alamnya dengan sangat berhasil sehingga mereka menjadi tidak terlihat, kecuali mereka yang melihat apa saja dengan mata curiga. Kamuflase atau bukan, pada bank syariah, istilah-istilah bank konvensional diganti dengan bahasa Arab.

Setelah diperhatikan lebih lanjut, apa yang disebut bagi hasil, mempunyai nilai tetap dengan jumlah yang tidak berbeda jauh dengan bunga bank biasa melalui tata cara yang berbelit-belit yang menjadikannya tidak ilmiah.

Selanjutnya, konsep syariah mendadak berhenti kalau debitur merugi dan wanprestasi. Jaminan akan tetap disita untuk menutup kerugian bank karena bagi hasil bukanlah bagi rugi. Ternyata, beberapa orang mencoba bermain-main semantik dengan Tuhan juga.

Kelemahan lainnya menyangkut keterbatasan pemahaman dan perbendaharaan kosa kata yang dapat membatasi akal sehat seseorang. Berikut ini sekedar contoh bagaimana kata, nalar dan perilaku seseorang saling berkaitan.

Suatu ketika seorang pengamat politik di televisi menjawab, “Motif teroris adalah mendirikan Negara Islam,” katanya dengan yakin atas sebuah pertanyaan.

Benar atau tidak pengamatannya, kata yang tepat, revolusioner, tidak terlintas di benak perbendaharaan kata si pengamat, atau si teroris dalam hal ini.

Mungkin kata yang paling tajam yang dikenal si pengamat atau si teroris adalah terorisme, yang kemampuan merongrong negara setingkat lebih tinggi dari hama tikus, dan terorisme tidak membuat revolusi, yang menandakan perubahan mendasar, tetapi sekedar pemberontakan yang menandakan pertumpahan darah yang menjengkelkan tetapi bersifat sementara.

Teroris, semua orang tahu, semuanya edan dan kebanyakan mereka berakhir dengan kematian tanpa sempat membaca buku ‘Revolusi Cina’ –nya Mao Zedong atau ‘Perang Gerilya’ -nya Che Guevara sebagai buku pegangan kaum revolusioner.

Jadi, tuan-tuan dan puan-puan, bahasa menunjukkan bangsa. Penggunaan bahasa secara serampangan tidak saja merusak budaya tetapi tujuan bangsa pun tidak tercapai karenanya.

Menggunakan bahasa secara baik, benar dan sesuai fungsinya membuat seseorang menjadi lebih efisien. Mempelajari bahasa bangsa lain, seperti halnya bangsa lain mempelajari bahasa bangsa lainnya, yaitu mencari sesuatu yang tidak didapatkan di bangsanya sendiri, menjadikan seseorang lebih cerdas. Pejabat menjadi pejabat yang lebih baik, pedagang menjadi pedagang yang lebih baik, ibu rumah tangga menjadi ibu rumah tangga yang lebih baik, pelajar menjadi pelajar yang lebih baik dan seterusnya.

Langkah pertama menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa ini harus dimulai dari penggunaan bahasa yang baik dan benar oleh pemimpinnya. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, sebuah pesan disampaikan oleh seorang bijak yang kiranya masih relevan hingga saat ini. Sebagai penutup, berikut pesannya di bawah ini.

Suatu ketika Khong Hu Chu, atau di Barat dikenal dengan nama Confucius, ditanya muridnya tentang apa yang pertama akan ia lakukan apabila ia diberikan kekuasaan untuk mengatur urusan negara.

Jawabnya “Saya akan yakinkan bahwa bahasa digunakan secara benar.”

“Tentu,” jawab murid-muridnya, “Ini masalah kecil. Mengapa guru anggap ini sangat penting?”

Sang guru menjawab “Jika bahasa tidak digunakan secara benar maka apa yang diucapkan bukanlah apa yang dimaksud. Jika apa yang diucapkan bukanlah apa yang dimaksud maka apa yang harusnya diselesaikan tidak dikerjakan. Jika pekerjaan yang harusnya diselesaikan tidak dilaksanakan, akhlak dan seni akan rusak. Jika akhlak dan seni rusak maka keadilan akan tersesat. Jika keadilan tersesat maka rakyat berada dalam kebingungan tanpa daya.”
Sekian dan terima kasih.

Penulis :
Hakimau

Harakiri

Posted: Mei 26, 2010 in Umum

Waktu pembangunan dam Cirata(1984) saya ikutan kerja disitu. Tapi saya kerja dibawah orang Jepang. Pada minggu pertama saya selama enam hari saya ditugasi belajar menulis. Mungkin ada yang bertanya kenapa lulusan S1 harus belajar menulis dulu , tulisannya jelek ga ketulungan kali , atau waktu bimbingan test ikut bimbingan test jurusan kedokteran sehingga diajari menulis jelek. Berani sumpah tulisan saya bagus kok minimal saya sendiri bisa baca. Yang harus saya tulis adalah menulis angka dengan gaya Jepang, jadi kalau tulisan angka saya sudah persis dengan jepang-jepang baru saya boleh mulai bekerja.

Dalam bekerja orang Jepang sangat disiplin. Dalam komunikasi dengan orang Indonesia mereka tidak menggunakan bahasa Inggris karena bahasa Inggris orang Jepang sangat buruk sekali, mereka tidak bisa mengucapkan kata yang akhirnya huruf mati, kalau ada kata berakhir dengan huruf mati mereka mesti menambahi dengan huruf hidup. Jadi untuk memudahkan komunikasi mereka belajar bahasa Indonesia dari kamus, sedangkan tata bahasa yang digunakan tata bahasa Jepang. bunyinya jadi kacau balau tapi yang terbiasa berkomunikasi dengan mereka bisa mengerti juga.

Pada suatu sore Chief Design yang orang Jepang meminta sopirnya untuk menggantar ke Damsite (waktu itu masih setengah jadi). Selama di damsite ini sopir yang menggantar Jepang itu menunggu di mobil saja. Karena hari mulai gelap maka sopir ini mencari tuannya yang Jepang itu , tetapi ternyata orang Jepang itu sudah menjatuhkan diri dari damsite dan mati. Dia melakukan harakiri karena kecewa akan hasil kerja yang tidak memuaskan. Padahal menurut penilaian saya dia bekerja baik-baik saja.

Harakiri merupakan kebiasaan orang Jepang mungkin dengan cara itu mereka bisa menjadi bangsa yang hebat karena orang-orang yang tidak baik dengan sendirinya tersisih. Di Indoensia sudah didemo setengah mati juga masih saja merasa tidak bersalah

Penulis :
Junus Tirtasurja

Data Buku

Judul : Botchan
Pengarang : Natsume Soseki
Penerjemah : Indah Santi Pratidina
Penerbit : Gramedia
Ukuran Buku : 13,5 x 20 cm
Tebal : 224 hlm

Saya menemukan Botchan ketika bertandang ke Gramedia Book Fair di Sabuga Bandung. Menilik dari cover dan back covernya buku ini sangat menarik dan mengingatkan saya pada buku Totto Chan karya Tetsuko Kuronayagi. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya hal tersebut.

Yang pertama dari segi judul yang sama-sama menyebutkan nama. Satu Botchan yang merupakan nama panggilan untuk seorang anak laki-laki dan Totto chan yang juga nama dari seorang anak perempuan. Hal yang kedua adalah keduanya sama-sama bercerita tentang pendidikan. Tetapi katakan saja berbeda tahun dan perbedaan tahunnya sangat jauh sehingga perbedaan sudut pandang antara kedua buku tersebut mengenai pendidikan berbeda. Perbedaan lainnya adalah sudut pandang penulis.

Selain itu gaya berbahasa keduanya amat berbeda. Tetsuko Kuronayagi lebih simpel dan lebih sederhana membahasakan dialog-dialognya (setelah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia). Adapun bahasa dialog Natsume Soseki cenderung lebih rumit dan lebih kompleks (mungkin dalam bahasa Jepang lebih tinggi tingkat kesusastraannya, mengingat Alan Turney yang menerjemahkan buku Botchan ke dalam bahasa Inggris pun mengalami kesulitan ketika menerjemahkannya karena ada kendala beberapa kata yang tidak ditemukan padanan artinya dalam bahasa Inggris).

Jika pada Totto chan mengambil sudut pandang seorang murid dan hampir keseluruhan kisahnya bersudut pandang positif. Pada Botchan sudut pandangnya diambil berdasarkan sudut pandang seorang guru dan tidak melulu berkisah tentang hal-hal yang positif. Ceritanya lebih berwarna secara emosional dan menggabungkan sudut pandang positif dan negatif secara berkelindan. Selain itu, buku ini juga menggambarkan betapa intrik dan kemunafikan telah menjadi sifat yang mendarah daging pada beberapa orang yang ada di sekitar kita―termasuk di sekolah―dan kita bisa melihatnya secara nyata baik kita menyadarinya ataupun tidak.

Natsume Soseki adalah penulis buku ini dan dia dilahirkan pada 1867. Setting kejadian pada buku ini pun ada pada 1901―1905, dan sempat mengungkit sedikit perayaan kemenangan Jepang atas Cina ketika itu. Soseki adalah salah satu sastrawan Jepang terkemuka yang karya-karyanya masih berpengaruh hingga saat ini. Salah satu di antara karya tersebut adalah Novel Botchan ini. Novel ini merupakan salah satu literatur Klasik yang banyak dibaca di Jepang Modern. Mungkin mirip kasusnya dengan Sitti Nurbaya karya Marah Rusli.

Logika dan Kejujuran adalah Modal Utama Seorang Guru Teladan

Guru seringkali tidak berdaya menghadapi kenakalan murid. Sebut saja seorang guru baru atau guru praktik yang baru mengajar di sebuah sekolah terutama sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Guru baru seringkali menjadi objek bulan-bulanan ejekan bahkan objek keisengan murid-murid tersebut. Ada beberapa guru yang bisa mengambil sikap terhadap anak-anak tersebut tetapi ada pula guru yang membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena oleh muridnya atau calon muridnya.

Demikian pula yang terjadi pada Botchan, tokoh utama buku ini. Tetapi dia termasuk seorang guru yang menentang pemanjaan murid. Bersikap tegas kepada murid adalah hal yang sangat diperlukan. Meskipun tegas di sini bukan berarti dengan kekerasan seperti banyak kasus kejadian pemukulan terhadap murid yang pernah marak diberitakan di media televisi dan surat kabar.

Selain bercerita tentang sistem pendidikan di sebuah desa di Jepang pada saat itu yang tidak disukai oleh Botchan karena ketidakadilannya, buku ini secara kontinu mengisahkan tentang perseteruan terselubung antara kepala guru dan Botchan. Salah satu contoh kasusnya adalah ketika kepala guru tersebut memberitahukan kepada Botchan bahwa dia akan dinaikkan gajinya setelah salah seorang guru yang semula mengajar di sekolah dipindahkan ke salah satu daerah yang terpencil.

Usut punya usut ternyata ada konflik kepentingan antara kepala guru dan guru yang dipindahkan tersebut. Mereka berebut wanita. Untuk mengurangi persaingan antara mereka maka kepala guru tersebut berhasil menghasut kepala sekolah untuk memindahkan guru tersebut. Awalnya Botchan tidak mengetahui hal tersebut sehingga dia menerima mendapatkan penawaran kenaikan gaji dari kepala guru. Tetapi ketika mengetahui fakta yang sesungguhnya terjadi, dia merasa marah karena ditipu oleh kepala guru tersebut dan dia menolak kenaikan gajinya secara terbuka.

Karena itu Botchan berpikir bahwa kepala guru tersebut seperti serigala berbulu domba. Bahkan karena saking buruknya sifat munafik dari kepala guru yang juga pandai memutarbalikkan fakta membuat tokoh utama buku ini mengatakan bahwa “Hanya karena seseorang pandai berargumen, tidak berarti orang itu baik. Sama halnya ketika sesorang yang dikalahkan dalam adu argumen tersebut adalah orang jahat. Di permukaan, kepala guru tampak seratus persen benar, tapi penampilan saja, betapapun menariknya, tidak akan bisa membuatmu jatuh cinta pada karakter keseluruhan seseorang. Kalau kau bisa membeli kekaguman seseorang dengan kekuasaan, atau logika, maka lintah dara, polisi, dan professor universitas akan memiliki lebih banyak pengagum daripada siapapun. Bayangan bahwa aku akan dikalahkan logika sekadar guru sekolah menengah sungguh menggelikan. Karena manusia bergerak dari perasaan suka atau tidak suka bukan melulu logika.”

Secara keseluruhan kisah dalam buku ini sangat menarik, tetapi endingnya kurang menggigit. Meskipun demikian ada satu kalimat yang sangat menarik yang diungkapkan oleh Hotta seorang guru matematika teman Botchan, tokoh utama buku ini. Kalimat yang seharusnya menjadi perenungan bagi kita semua, tidak hanya para guru saja, tetapi semua orang.

Hotta san mengatakan, “Kata pendidikan tidak hanya berarti memperoleh pengetahuan akademis. Pendidikan juga berarti menanamkan semangat mulia, kejujuran, serta sikap bertanggung jawab. Hari ketika kita menunda karena mencemaskan reaksi atau takut akan terjadi keributan adalah hari ketika kita tidak mampu memperbaiki kebiasaan-kebiasaan itu. Alasan kenapa kita ada di sekolah ini adalah untuk menghentikan kebiasaan buruk itu.” Penyataan seorang guru sejati. Karena guru adalah sosok yang digugu dan ditiru.***

Penulis :
Nur Chasanah

Kawin Siri Indonesia Inggris

Posted: Mei 24, 2010 in Umum

Kawin siri boleh diartikan sebagai suatu perkawinan yang nyata-nyata ada, tetapi karena alasan sosial dan budaya, maka yang bersangkutan ‘menutup mulut’ sedangkan masyarakat yang mengetahuinya ‘menutup mata dan telinga’. Analogi inilah yang berlaku pada bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris yang sudah cukup lama melaksanakan kawin siri dan syukurlah sampai saat sekarang tidak ada wartawan infotainment yang tertarik untuk mengeksposnya di media elektronik. Mungkin juga karena wartawan elektronik merestui kawin siri kedua bahasa ini sehingga mereka menutup mata,mulut dan telinga dengan fenomena ini.

Yang dimaksudkan dengan kawin siri bahasa Indonesia-Inggris adalah pemakaian bahasa Indonesia yang dicampur-adukkan dengan istilah-istilah Inggris. Sebagian disebabkan karena memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia dan sebagian lagi sebenarnya sudah ada padanannya namun masyarakat merasa lebih nyaman menggunakan istilah Inggrisnya. Dan bukan sampai disitu saja, istilah-istilah Inggris ini bahkan diberi imbuhan awalan dan akhiran Indonesia, sehingga mirip noni Belanda yang memakai busana kain batik. Salahkah dan kelirukah kita memakai bahasa campuran ini? Semuanya tentunya terpulang kembali kepada masyarakat penggunanya, karena mirip dengan kawin siri dua anak manusia, ada yang langgeng ada pula yang layu sebelum berkembang.

Berikut ini ditayangkan dialog-dialog yang sudah amat lumrah diucapkan di dalam pergaulan masyarakat umum dan bahkan acapkali tidak disadari lagi bahwa istilah itu berasal dari bahasa Inggris.

* Meeting hari ini dicancel, karena pesawat pembicara didelay empat jam.
* ’Aku lagi check-in, ntar kalau mau boarding aku SMS kamu’.
* Proposalnya sudah diapproved, nanti aku suruh si Udin mengefaxkan.
* Aku sudah booking kemarin dan tadi sudah dinyatakan confirmed.
* Sorry naskahnya masih diedit, lagian komputernya sedang ngelag nih.
* Maaf HP nya lagi low bat, dan sekarang lagi dicharge.
* Ada postingan yang bagus dan menarik di Kompasiana hari ini.
* Kemarin kamu makan sea-food kena charge berapa ?
* Anak bungsunya itu kerjanya ngedrug dan tripping setiap malam, maklum keluarganya broken home dua tahun yang silam.
* Ibu muda ini facial dan fitness dua kali seminggu secara rutin.
* Dia drop-out dari Fakultas Kedokteran karena keburu menikah.
* Semua pesan dari private number ini sudah aku delete semua.
* Filenya sudah disavekan, tapi belum diprint, karena masih harus refill tinta dulu.
* Dia sudah buka business usaha catering dan pengiriman parcel ini dari tahun 2006.
* Buku ini sudah diban di 12 negara Asia.
* ’Bapak mau bayar cash atau dengan credit card ?’
* Untuk pemesanan rumah ini bapak cukup membayar DP 20 persen aja. (kira-kira si pramu-jual ini tahu nggak ya DP singkatan dari ‘down payment)
* Di outlet ini sedang ada sales dengan discount 35 persen.
* ’Kita parkir di basement aja, kalau nggak dapat, kita pakai valet parking.
* Siapa owner dari pabrik sepatu impor ini ?
* ’Kamu mau pesan soft-drink atau juice ?’
* Makanan kaleng ini sudah expired tahun 2009.
* Dalam pertandingan ini sementara tim tuan rumah leading dengan 2-0.
* Dia belum married dan masih single setahu saya.
* Warna pink baju kamu ini tidak matching dengan sepatumu.
* Training minggu lalu kacau balau, karena sound systemnya rusak dan harus pakai wireless.
* Lomba lari 10 K ini start dan finishnya di lapangan Bumi Sriwijaya.
* Remote mobil ini lagi ngadat, jadi harus dibuka secara manual.
* Jangan memakai cutter untuk membuka casing HP itu.
* Semua fee jasa penjualan produk ini akan dimasukkan ke rekening bank.
* Pengerusakan tempat hiburan itu dibackingi oleh oknum pesaing usaha.
* Dengan kartu sim card ini anda free bicara 24 jam penuh, bunyi sebuah iklan.
* Saya punya feeling pejabat ini tidak akan lolos fit and proper test.
* Pemegang kartu kredit ini sudah diblacklist dua kali.
* Aku minta dibuat foto close-up dengan lighting dari samping.

Dan satu lagi yang menjadi favorit saya :

· Saya mengharapkan agar prakarsa yang baik ini difollow-upi dengan tindakan-tindakan yang nyata.

Penulis :
Gustaf Kusno

Bahasa Inggris di Indonesia

Posted: Mei 24, 2010 in Umum

Di tengah perkembangan ekonomi bangsa yang konon katanya terus membaik, investasi di Indonesia cukup laik buat di lirik. Berbagai perusahaan asing menjamur di Indonesia. Tentu ini akan membuka banyak lowongan kerja baru yang sungguh menggiurkan. Namun, syarat untuk masuk ke dalam lowongan tersebut adalah harus menguasai bahasa inggris! Dengan label “ini jaman globalisasi” bahkan perusahaan lokal pun turut demikian.

Lantas tercetaklah fenomena harus menguasai bahasa inggris di mayoritas rakyat Indonesia. Menurut teman saya, bapak saya, ibu saya, kakek nenek moyang saya, dan lain sebagainya bahwa penguasaan bahasa inggris itu sangat menjanjikan sering kali terdengar. Batu loncatan untuk memperoleh pekerjaan adalah harus menguasai bahasa inggris, tanpa itu kita hampir dapat dipastikan akan tersingkir. Dituntutlah kita untuk menguasai bahasa itu di negeri sendiri.

Saya pun segera melirik kata “adaptasi.”

Mungkin secara sederhana saya mengatakan, adaptasi adalah bagaimana menyesuaikan terhadap habitat, apabila ada perubahan maka faktornya habitat tersebut.

Jika kita kaitkan kata “adaptasi” dengan perusahaan tadi, maka perusahaan tadi sudah seharusnya menyesuaikan dengan habitatnya yakni Indonesia, dimana bahasa Indonesia berkuasa.

Apa anda pernah mendengar perusahaan Indonesia di luar negeri untuk masuk ke dalam lowongan tersebut orang asing harus menguasai bahasa indonesia?

Tentu tidak! Karena memang bukan sebaliknya, seperti yang sempat terlanjur terjadi. Kok malah kita yang menyesuaikan dengan kehadiran perusahaan-perusahaan asing tersebut.

Layakkah kita dapat dipastikan akan tersingkir karena tidak menguasai bahasa itu di negeri sendiri? layakkah ada keharusan menguasai bahasa inggris? Tentu sebenarnya tidak layak!

Dan temanku berujar, dengan label “ini jaman globalisasi” bukankah bahasa Inggris berkuasa jika habitatnya dunia? Apalagi mereka negara maju.

Saya pun segera melirik Mantan Menteri Pendidikan Nasional, kira-kira begini kata Bambang Sudibyo.

“Pergeseran kekuatan dalam banyak aspek kini sedang merambat dari barat ke timur, termasuk di dalamnya Indonesia. Sehingga bahasa Indonesia pun memiliki potensi jadi bahasa internasional”

Perkataan beliau pun bukan hanya ilusi belaka. Ada sekitar 168 institusi dari 58 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia, khususnya di Perguruan Tinggi. Bahkan di beberapa negara itu, bahasa indonesia sudah masuk kurikulum pendidikan.

Yang amat disayangkan, mayoritas Indonesia tidak satu suara. Walaupun mereka merambat ke sini, kita merambat ke sana. Sama aja dengan nol!

Memang sih terlihat sepele, kan cuma bahasa. Tapi dia perlahan tapi pasti menghantam berbagai faktor lain. Lihat, harus menguasai bahasa inggris itu sudah terlanjur terjadi bertahun-tahun di negeri ini, apa ada suatu perubahan? Malah kita terus digerogoti asing, kita tidak pernah maju. Sangat mungkin ini salah satu faktornya, selalu ikut “katanya” bukan “kata kita.”

Kita selalu menggunakan cara yang sama maka jatuhlah ke lubang sama. Barat masih dan terus dianggap raja, apa pun yang ada di sana terlihat begitu agung. Mereka terus belajar menundukkan kita di saat kita tak pernah mau tegak. Jadi hal yang wajar mereka terus maju! Kita tak ada usaha untuk mengalihkannya. Nasionalisme, cinta tanah air, dan lainnya di mayoritas rakyat Indonesia hanya di mulut saja, retorika belaka!

Penulis :
Patricksamosir

Sejak tahun 2006 istri pun tinggal bersama di sini, dan mulai menempati rumah di luar kota saigon. Pilihan tinggal di luar kota adalah untuk alasan kedekatan ke lokasi kerja yang memang di daerah industri luar kota (VSIP-Vietnam singapore Industrial Park) di Binh Duong Province, sekitar 14 Km dari Kota Saigon.
Saat istri belum hamil, kami sering ke pasar lokal berdua untuk membeli kebutuhan makanan tiap minggu. Kebetulan pasar lokal tidak jauh dari tempat kami tinggal. Untuk membeli beras, ikan, sayuran dan bumbu kami masih memilih beli di pasar lokal, kecuali untuk kebutuhan lain spt sabun mandi detergen, kosmetik dan alat rumah tangga kami harus ke supermarket di kota saigon.

Pengalaman pertama ke Pasar lokal adalah masalah bahasa untuk menanyakan barang yg mau dibeli dan harga. Biasanya mereka sellau menyapa dengan kalimat ” Mua gi (baca; Mua yi), maksudnya ” Beli apa”. lanjut dengan pertanyaan ” Ba nhieu (baca: ba nyiu) maksudnya “berapa” dan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan barang dagangan. Awalnya kami selalu memperhatikan tiap kalimat yang bagi kami sangat membingungkan. Di pasar lokal tentu kita ngga bisa pakia bahasa ingris atau bahasa international lain. Karena mereka umumnya pedagang lokal dan sudah tua.

Lama kelamaan kami belanja di pasar lokal yg sama dengan kios yg sama pula, ngga terasa kosa kata kamipun bertanbah karena kebiasaan di tanya dan kami sellau coba mencari tau arti pertanyaan itu sekaligus jawabannya. Suatu hari secara ngga sengaja malah sempat berbincang sampai beberapa kalimat yang mengalir begitu saja. Mulai Anh Khoe khong? moi ngay lam viec mai gio? dan beberapa pertanyaan ttg anak, em be ba nhieu toi? wah ngga terasa bahasa lokal vietnam menjadi bahasa gaul di akhir pekan saat ke pasar lokal.

Beberapa teman malas belajar bahasa karena beranggapan ngga begitu penting dan ngga se populer bahasa mandarin atau jepang. Tapi buat penulis mencoba memakai bahasa setempat sekalian untuk kenang 2x an bila nanti sudah tidak bertugas di sini. Selain nanti akan di ucapkan saat bertemu teman yg tertarik memakai bahasa Vietnam. Dua hari yang lalu sempat chat dengan pelajar dari indonesia yang pernah belajar dengan khusus bahasa vietnam di Hanoi. dan kami ngobrol dengan bahasa vietnam.

Mmhh seru juga ya..

Penulis :
Endarsiwi Sugeng

REVOLUSI CARA BELAJAR: BELAJAR TANPA BATAS!

Masih ingatkah anda dengan buku The Learning Revolution: To Change The Way The World Learn, karya Gordon Dryden and Jeannete Vos? Buku ini diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Kaifa dengan judul Revolusi Cara Belajar.

Pada bulan November 2008, pasangan ini meluncurkan buku baru mereka yang berjudul Unlimited:The New Learning Revolution and The Seven Keys to Unlock it. Buku ini diterbitkan oleh The Learning Web, Auckland, new Zealand. Buku ini berharga 40 USD. Mahal memang, tapi sangat setimpal dengan desainnya yang mewah dan kuat, dan tentunya dibanding dengan ilmunya.

Saya beli buku ini masih dalam edisi aslinya. Entah kapan akan ada yang menerbitkan buku ini di Indonesia. Buku Revolusi Cara Belajar diterbitkan oleh Kaifa Oktober tahun 2000, sedangkan cetakan edisi aslinya diterbitkan pertama kali tahun 1993!

Isi buku ini tidak banyak berbeda dengan pendahulunya.

Menurut saya buku kedua ini adalah “update” untuk melengkapi metode-metode dan pemikiran pasangan penulis yang ada di buku pertama.

Di buku pertama (saya membaca yang edisi bahasa Indonesia), banyak hal-hal baru di waktu itu yang dikemukakan oleh penulis. Banyak sekali pengenalan fakta dan metode baru yang diungkapkan melalui format buku yang sangat khas. Di halaman kiri, anda akan menemukan gambar, ilustrasi, atau teks dalam ukuran besar yang anda akan dapatkan penjelasannya di halaman sebelah kanan.

Jika anda malas membaca seluruh isi buku, membaca dan melihat halaman kiri saja sudah sangat cukup untuk mewakili buku ini.

Di buku yang kedua, konsep “penampakkannya” sama persis dengan pendahulunya. Hanya kali ini dibuat dua bagian per satu halaman, bagian foto dan ilustrasi, dan bagian penjelasan.

Buku kedua ini menyajikan fakta-fakta baru di dunia pembelajaran dan pendidikan. Banyak diungkapkan contoh-contoh sekolah yang sudah mengadaptasi konsep-konsep yang mereka ajukan di buku pertama dan yang mendukung isi dari buku yang kedua ini.

Secara keseluruhan, ide dari buku kedua ini adalah untukmendorong kepada pembaca untuk memaksimalkan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu INTERNET, untuk proses pembelajaran dan pendidikan.

Inilah Tujuh Kunci Utama Untuk “membongkar” Revolusi Cara Belajar di masa kini:

1. GLOBAL
2. INTERACTIVE
3. SHARED
4. PERSONAL
5. CO-CREATIVE
6. INSTANT
7. (OFTENLY or ALMOST) FREE

PENJELASAN

I. GLOBAL
Ruang lingkup tanpa batas. Kita semua sekarang sedang menghadapi dan bergelut dengan revolusi paling hebat dalam sejarah manusia. Internet berdampak “sistemik” terhadap peradaban manusia. Internet berdampak kepada hampir setiap individu manusia yang ada di muka bumi ini, negara, secara global, dan dalam banyak cara, tidak terbatas. Internet menghilangkan pembatas dan tembok penghalang yang sudah ada sejak peradaban manusia dimulai. Sebagai inti dari tujuh kunci utama yang berpadu dan bertemu untuk merubah cara gaya hidup kita, cara kita bekerja, belajar, bermain, mengajar, berpikir dan di semua tingkatan usia manusia.

Kunci untuk membuka masa depan sangat sederhana tapijuga sangat revolusioner. Sekali terbuka, revolusi itu mempunya kekuatan untuk melepaskan bakat gabungan dari jutaan, bahkan milyaran individu.

II. INTERACTIVE
Penemuan tanpa batas. Selama beberapa dekade, hampir semua siswa sekolah sudah mempelajari subyek- subyek seperti sejarah, perjalanan ke angkasa dan ilmu pengetahuan lainnya. Sekarang mereka dapat benar-benar membangun kembali peradaban Roma dan Athena (dengan SimCity), membuat “alam semesta” mereka masing- masing (dengan Spore), dan benar-benar menjadi seorang ilmuwan. Brigham Young University’s Virtual ChemLab menyediakan ruang praktek untuk masa depan, untuk sekira 150.000 pelajar sains online. Sekarang: The New Cyberspace University.

III. SHARED
Kemitraan tanpa batas. Sangat ironis sekali, 59 juta guru sekolah di seluruh planet bumi bekerja terisolasi, seperti layaknya Web tidak pernah ada buat mereka. Tapi di Singapore’s Overseas Family School, 3.500 pelajar lebih dari 70 negara tidak hanya bermitra untuk membuat visi mereka terhadap masa depan, bahkan mereka membantu guru mereka untuk mendigitalisasi bahan pelajaran dengan Macromedia Flash dan animasi komputer. Sekarang, model pelajaran seperti itu dapat dibagi dan didapatkan secara GRATIS.

IV. PERSONAL
Pengembangan potensi tanpa batas.
Setiap orang memiliki potensi untuk menjadi berbakat dan sukses, tapi dengan cara yang berbeda. Setiap bayi yang sehat lahir dengan 100 milyar sel aktif. Masing-masing memiliki kemampuan untuk tumbuh setidaknya 10.000 koneksi. Kemampuan belajar ini berkembang paling dari lahir sampai umur empat tahun. Dan itulah sebabnya, Thomas Jefferson Institute, Mexico, psikolog membantu orangtua untuk membuat rencana pembelajaran yang spesifik untuk setiap anak.

V. CO-CREATIVE
Ketika puluhan ribu orang yang belum pernah bertemu bisa menulis sepuluh juta artikel dan bersama-sama membuat ensiklopedia terbesar di planet bumi, sesuatu yang menakjubkan sedang berlangsung di dunia ini. Ketika Wikipedia hadir secara instant dan gratis untuk 1, 4 milyar orang di dunia ini, keajaiban pun telah hadir. Ketika 4 milyar orang akan segera memiliki sebuah ensiklopedia di dalam sakunya, dunia sekarang sedang bergerak ke sebuah era baru Renaissance: yang akan kita buat bersama-sama!

VI. INSTANT
Mobilitas Tanpa Batas.
Sampai tahun 2000, setengah dari manusia yang hidup di planet bumi belum pernah merasakan sebuah panggilan telepon. Hanya 12 persen yang memiliki telepon selular. Sekarang, lebih dari setengah manusia memiliki telepon selular: 3, 3 milyar. Akhir 2009, 4 milyar telepon selular akan digunakan, untuk 6, 6 milyar penduduk dunia. Segera, anda akan memiliki Google di saku anda.

VII. (OFTENLY or ALMOST) FREE
Pilihan Tanpa Batas.
Di China, para pelajar dapat membeli komputer murah tanpa sistem operasi-dan mengunduhnya secara gratis dari Web. Lalu mereka dapat menggunakan alat yang sama untuk mengajar bahasa Mandarin kepada dunia. Google telah menghasilkan kekayaan yang luar biasa besar yang didoroang oleh hanya satu gagasan sederhana: memberikan informasi secara gratis dan “membuat satu milyar klik yang bernilai satu sen per-kliknya).

Di antara deru vacum cleaner dan tangisan anakku tercinta..
Doha, 21 Desember 2009.

Penulis :
Didaytea

Kenapa Murid jadi Malas?

Posted: Mei 22, 2010 in Umum

Apabila kita bertanya kepada para guru di sekolah tentang pelanggaran apakah yang sering dilakukan oleh para siswa, jawaban mereka di antaranya adalah banyak siswa yang tidak mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah), sebagian mengerjakan PR di sekolah dan sebagian lagi memang mengerjakan di rumah. Adapun mereka yang mengerjakan PR di rumah diantaranya ada yang merasa terpaksa karena takut dimarahi oleh orang tua atau takut akan sangsi yang dijatuhkan di sekolah nanti apabila mereka tidak mengerjakan PR.

Sebagai seorang guru hal ini memang menjadi suatu pertanyaan dan permasalahan yang memerlukan solusi yang baik, selain guru bertugas mentransfer ilmu mereka juga mengemban amanat untuk membimbing dan mendidik akhlak dan kebiasaan siswa karena menurut agama menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap manusia. Mulai dari mereka masih di ayunan sampai kelak ke liang lahat. Disamping itu bila sebagian besar nilai hasil belajar siswa tidak sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka dapat dikatakan bahwa guru tersebut Belum Berhasil dalam menunaikan tugasnya sebagai guru.

Apabila hal ini berlarut-larut terjadi, kemungkinan Indonesia yang berencana mengentaskan kemiskinan melalui Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun dan peningkatan mutu pendidikan agar sejajar dengan Negara-negara berkembang lainnya tidak akan berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Andaipun hal ini terlaksana kemungkinan mereka adalah anak-anak yang terpaksa tuntas dalam program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun karena minat belajar siswa di sekolah yang mulai melemah.

Mengapa minat belajar siswa mulai menurun ? Apa yang menyebabkan mereka tidak bersemangat ? Apakah Belajar hanyalah sebagai formalitas ? Pertanyaan-pertanyan itulah yang mengganjal hati saya untuk menuliskan ini.

Berdasarkan pengamatan saya, beberapa hal yang menjadi penyebab diantaranya adalah :

1. Banyak dari mereka Hidup di bawah garis kemiskinan
2. Biaya sekolah yang mahal saat ini
3. Banyaknya pengangguran berpendidikan tinggi, bahwa sekarang ini banyak para Sarjana atau orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi namun kenyataan di lapangan pekerjaan mereka tidak produktif, tidak bekerja atau sebagai pengangguran dan bahkan menjadi beban anggota keluarga lainnya. Melihat kenyataan ini sebagian orang akan beranggapan bahwa buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang. Toh banyak orang-orang sukses tanpa ijazah.
4. Tidak ada dorongan dari orang tua yang terus menerus
5. Program acara TV yang menarik dan menyita waktu anak
6. Pengaruh asupan makanan yang tak sesuai pola makan yang baik

Melihat banyaknya hal-hal yang mempengaruhi menurunnya minat belajar siswa di sekolah, di sini akan diadakan skala prioritas, hal manakah yang paling berpengaruh terhadap menurunnya minat belajar siswa di sekolah.

Oleh karena itu penulis mengadakan survey/wawancara dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada beberapa siswa dan setelah diadakan pengumpulan data maka kebanyakan mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi atau bermain PS daripada di meja belajar sambil mengerjakan PR atau mengulang pelajaran yang telah diterangkan oleh para guru mereka pada siang harinya. Data yang penulis dapatkan ini sungguh mengejutkan dan membuat penulis berpikir keras untuk mencarikan solusinya.

Hal ini menandakan bahwa di satu sisi kemajuan teknologi tidak dapat dipungkiri perkembangannya, namun di sisi lain kemajuan teknologi secara perlahan namun pasti selain mengikis minat belajar siswa di sekolah juga telah merubah pola hidup dan akhlak ketimuran mereka menjadi lebih “berani” dan vulgar.

Menyikapi hal sedemikian ini tentu para guru dan perangkat pendidikan harus menggali potensi untuk mencari solusi dan metode-metode pembelajaran yang dapat membangkitkan kembali minat belajar siswa di sekolah. Lalu pertanyaannya adalah, apa kiat-kiat dan upaya para pendidik dan personal pendidikan untuk menyelamatkan anak didik mereka agar tidak terlarut dalam program TV semata?

Beberapa guru dan pakar pendidikan berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini diantaranya adalah dengan memberikan variasi cara penyampaian materi bahan ajar atau disebut juga dengan metode pembelajaran, lalu dengan mengubah kurikulum dan bahan ajar serta perubahan beberapa bidang studi baik topik maupun durasinya.

Sampai saat ini hal tersebut masih terus dikembangkan dan dicarikan suatu metode yang sesuai dengan kondisi siswa agar materi yang disampaikan benar-benar dapat diterima dengan baik oleh para siswa. Dalam kesempatan ini, mungkin ada saran dari pembaca kompasiana untuk mencarikan solusi yang tepat dari permasalan ini.

Penulis :
Wijaya Kusuma

Belajar juga Butuh Strategi

Posted: Mei 22, 2010 in Umum

Pengajaran yang baik adalah pengajaran yang meliputi mengajar siswa tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri. Pembelajaran strategi lebih menekankan pada kognitif, sehingga pembelajaran ini dapat disebut dengan strategi kognitif. Strategi belajar dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :

a. Strategi Mengulang (Rehearsal)
Strategi mengulang terdiri dari strategi mengulang sederhana (rote rehearsal) dengan cara mengulang-ulang dan strategi mengulang kompleks dengan cara menggaris bawahi ide-ide utama (under lining) dan membuat catatan pinggir (marginal note).

b. Strategi Elaborasi
Elaborasi adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna, oleh karena itu membuat pengkodean lebih mudah dan lebih memberi kepastian.(Nur,2000:30). Strategi ini dapat dibedakan menjadi : 1). Notetaking (pembuatan catatan); pembuatan catatan membantu siswa dalam mempelajari informasi secara ringkas dan padat untuk menghafal atau pengulangan. Metode ini digunakan pada bahan ajar kompleks, bahan ajar konseptual dimana tugas yang penting adalah mengidentifikasi ide-ide utama.Membuat catatan memerlukan proses mental maka lebih efektif daripada hanya sekedar menyalin apa yang dibaca, 2) Analogi yaitu perbandingan-perbandingan yang dibuat untuk menunjukkan kesamaan antara cirri-ciri pokok sesuatu benda atau ide-ide, selain itu seluruh cirinya berbeda, seperti sistem kerja otak dengan komputer dan 3) Metode PQ4R adalah preview,question, read, reflect, recite dan review. Prosedur PQ4R memusatkan siswa pada pengorganisasian informasi bermakna dan melibatkan siswa pada strategi-strategi yang efektif.

c. Strategi Organisasi
Strategi Organisasi bertujuan membantu siswa meningkatkan kebermaknaan materi baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur peng-organisasian baru pada materi-materi tersebut. Strategi organisasi mengidentifikasi ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Strategi ini meliputi : 1). Pembuatan Kerangka (Outlining); dalam pembuatan kerangka garis besar, siswa belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan beberapa ide utama, 2). Pemetaan ( mapping) biasa disebut pemetaan konsep di dalam pembuatannya dilakukan dengan membuat suatu sajian visual atau suatu diagram tentang bagaimana ide-ide penting atas suatu topik tertentu dihubungkan satu sama lain, 3) Mnemonics; berhubungan dengan teknik-teknik atau strategi-strategi untuk membantu ingatan dengan membantu membentuk assosiasi yang secara alamiah tidak ada. Suatu mnemonics membantu untuk mengorganisasikan informasi yang mencapai memori kerja dalam pola yang dikenal sedemikian rupa sehingga informasi tersebut lebih mudah dicocokkan dengan pola skema di memori jangka panjang. Contoh mnemonics yaitu : a). Chunking (pemotongan) b). Akronim (singkatan), c). Kata berkait (Link-work) : suatu mnemonics untuk belajar kosa kata bahasa asing.

d. Strategi Metakognitif
Metakognitif adalah pengetahuan seseorang tentang pembelajaran diri sendiri atau berfikir tentang kemampuannya untuk menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan benar.(Arends, 1997:260). Metakognitif mempunyai dua komponen yaitu (1) pengetahuan tentang kognitif yang terdiri dari informasi dan pemahaman yang dimiliki seorang pebelajar tentang proses berfikirnya sendiri dan pengetahuan tentang berbagai strategi belajar untuk digunakan dalam suatu situasi pembelajaran tertentu, (2) mekanisme pengendalian diri seperti pengendalian dan monitoring kognitif.

Penulis :
Dwiarko