Archive for the ‘Bahasa Indonesia’ Category

Orang Sunda kudu Nyunda (Orang Sunda Harus Nyunda),artinya tradisi suku sunda harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata, dalam hal ini saya menyoroti terjadinya kanibalisasi Bahasa Sunda oleh Bahasa Indonesia, dan terjadi juga Kanibalisasi Bahasa Indonesia oleh Bahasa Inggris. Saya bukanlah seorang sukuisme namun saya hanya ingin berjuang mempertahankan warisan leluhur saya agar langgeng hingga akhir zaman.
Ilustrasi/admin (shutterstock)

Ilustrasi/admin (shutterstock)

Kadang aneh, itulah yang saya rasakan, ibu-bapak sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Sunda, namun ketika berbicara dengan anaknya, Bahasa Indonesia lah yang digunakan, ketika beberapa tahun kebelakang di kampung-kampung sosialisasi bahasa Sunda di keluarga masih menjadi faktor utama, namun kini di kampung pun orang tua mengajarkan anaknya dengan menggunakan bahasa Indonesia padahal para orang tua berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda. Akibatnya, anak-anak pun menggunakan bahasa transisi yang mana merupakan bahasa perkawinan silang antara bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Dan rasa khawatir itu pun saya temui ketika saya berdialog dengan anak usia 8 tahun namanya Della yang kedua ibu bapaknya orang Sunda, dan anak itu sendiri pun tinggal di Bogor, suatu daerah di Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Ibukota, lucu memang tapi membuat saya berpikir dan miris memikirkan gimana ya orang Sunda beberapa tahun kedepan, inilah percapapannya.

Saya : Neng namanya siapa???

Neng : Della om, katanya

Saya : Neng orang mana????

Neng : Bogor Om

Saya : Umh, kalo neng orang Bogor berarti neng orang Sunda dong,”sahut saya

Neng : uh..(mikir dulu bentar) ah ga om, neng mah bukan orang Sunda, neng kan ga bisa bahasa Sunda jadinya bukan orang Sunda Om,”dengan polosnya si anak kecil itu menjawab

Kejadian diatas tetntunya menunjukkan bahwa orang Sunda sedang memasuki masa krisis identitas, yang mana apabila tidak diperhatikan maka akan terjadi kepunahan bahasa Sunda puluhan tahun mendatang. Padahal pemakaian Bahasa Sunda merupakan suatu pengakuan eksistensi dan kebanggaan menjadi orang Sunda yang merupakan salah satu suku terbesar kedua di Indonesia, namun justru orang Sundanya sekalipun malah malu ketika menggunakan bahasa Sunda, apalagi anak mudanya yang menganggap bahasa Sunda itu kampungan, sehingga ketika mereka berkomunikasi terutama dengan lawan jenis, lebih PD bila menggunakan Bahasa Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Sunda. Dikarenakan bahasa merupakan salah satu ciri utama dari suatu bangsa, maka saya sebagai orang Sunda menyimpulkan bahwa Bahasa Sunda sedang kritis, dan harus mendapat perhatian dari pemerintah pusat dan daerah untuk diperhatikan kelestariannya, karena ketika bahasa sunda hilang, salah satu kekayaan Indonesia telah hilang, dimana budaya nasional itu dikatakan sebagai puncak dari kebudayaan daerah, yang mana ketika salah sau komponenya rapuh, maka rapuh jua lah identitas nasional.

Pemakaian Bahasa Indonesia disatu sisi merupakan suatu kebanggaan atas tercapainya persatuan nasional, namun di sisi yang lain menjadi sebuah kekhawatiran terjadinya peralihan pemakaian bahasa, dimana Bahasa Sunda terutama yang kasar menjadi Bahasa Sekunder dan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa utama. akibat dari ini semua adalah orang Sunda Kehilangan Eksistensinya sebagai suku bangsa, ketika bahasa Sunda kehilangan eksistensinya, maka hal ini akan menjadi virus yang merambat ke seluruh identitas bangsa ketika bangsa ini menghadapi bangsa lain. Karena kanibalisasi Bahasa ini bukan hanya terjadi di daerah orang Sunda, namun juga hampir di seluruh Nusantara.

Menurut penelitian UNESCO, beberapa bahasa ibu di sejumlah negara akan hilang dalam 100 tahun. Sementara sejumlah bahasa ibu di Indonesia yang sudah hilang, kebanyakan terdapat di Papua, seperti bahasa Bapu, Darbe, Waris, dan sebagainya. Dari hasil penelitian Pusat Bahasa, jumlah bahasa daerah di Indonesia mencapai 462. Sedangkan menurut UNESCO, bahasa daerah di Indonesia sebanyak 746 bahasa. “Jumlah bahasa daerah yang berhasil didata Pusat Bahasa mencapai 462 bahasa di luar bahasa daerah di Papua dan Maluku (Galamedia,19 Februari 2010). Berarti dalam beberapa tahun ke depan, pemakai bahasa Sunda akan berkurang jumlahnya sedikit demi sedikit, apabila dimulai dari sekarang tidak diperhatikan, maka ketika 100 tahun ke depan, ketika angkatan kita sudah meninggal, maka meskipun mereka mengaku sebagai orang sunda tapi isinya kosong, karena pemakaian bahasa Sunda pun mereka sama sekali tidak bisa.

Kanibalisasi ini disebabkan oleh 2 faktor eksternal dan Internal. Faktor Eksternal yaitu :

1. Pemakaian bahasa Indonesia di media cetak dan elektronik, sehingga menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa populer yang mudah dicerna dan memberikan “image” positif bagi pemakainya.
2. Akibatnya orang Sunda menjadi inferior ketika harus berbicara memakai bahasa ibunya, ada kesan menggunakan bahasa Indonesia merasa lebih gaya dan percaya diri.
3. Pengaruh dari publik figur yang mana meskipun berasal dari daerah sunda namun kurang tampak menyirikan kesundaannya, akibatnya para remaja mengikuti tokoh idolanya dan lebih pd apabila menggunakan bahasa Indonesia agar tidak terlihat kampungan

sedangkan fakor Internal disebabkan oleh:

1. Undak-Unduk Bahasa yang sulit dimengerti terutama oleh para pendatang, yang berasimilasi dengan penduduk setempat menyebabkan rasa canggung, akibanya anak-anaknya pun hanya mengerti Sunda Kasar. Undak-Unduk inilah yang terus diperdebatkan oleh para budayawan Sunda, karena sejatinya Undak-Unduk Bahasa ini merupakan pengaruh dari budaya Jawa terhadap Budaya Sunda.
2. Perkembangan Bahasa Sunda yang berjalan di tempat, sehingga menjadikan bahasa Sunda kaku dan tidak fleksibel terhadap kemajuan zaman

Oleh karena itu saya menghimbau terutama orang Sunda untuk tetap memakai dan bangga dengan Bahasa Sunda, dimana kita tetap setia terhadap NKRI.

Penulis :
Wilman Nurzaman

Kali ini saya benar-benar kelimpungan. Ada satu pertanyaan mendesak:

Istilah yang betul untuk menyebut paham bahwa pengetahuan manusia terutama diperoleh dari pengalaman (saja) itu Empirisme atau Empirisisme, sih?

Pasalnya, kata Empirisisme tersua beberapa kali,
bahkan terpampang besar-besar pada buku The Story of Philosophy karya Bryan Magee yang diterjemahkan ke bhs. Indo oleh Penerbit Kanisius.
(lihat saya pratinjaunya di Google Books, klik di sini)

Selama kuliah, yang saya kenal adalah term Empirisme. Term itu jamak ditemukan dalam diktat-diktat kuliah atau buku-buku karangan Dr. Simon Lili Tjahjadi, Prof. Franz Magnis-Suseno, Dr. Budi Hardiman, dll.
Adapun saya menduga term Empirisisme diterjemahkan begitu saja dari bahasa inggrisnya, Empiricism.

Semoga perbedaan kecil “-is” ini tidak diterima begitu saja, taken for granted, oleh semua kita. Bukankah itu salah satu spirit berfilsafat?

NB: dari pencarian dengan Google Indonesia (yg halaman websitenya berbahasa Indo)
20 Januari 2010 pkl 10:56 am (GMT+7)
1. kata Empirisme dijumpai di 4.520 halaman situs
2. kata Empirisisme dijumpai di 1.410 halaman situs (dengan

Lalu, mana yang berterima?

Saya lantas mengajukan pertanyaan ini pada kawan-kawan di Facebook.
Ada 2 pendapat mereka yang saya kutip sebagai berikut:

Okta:
saya setuju empirisme…..
1. berdasarkan tradisi…. dari dosen dan dari berbagai sumber buku dan diktat yang saya baca, empirisme lebih umum digunakan untuk menyatakan pengetahuan manusia yang diperoleh dari pengalaman (empeiria, bhs Yunaninya)
2. dari telaah bahasa Indonesia … KBBI menuliskan demikian:
em·pi·ris·me /émpirisme/ n 1 aliran ilmu pengetahuan dan filsafat berdasarkan metode empiris; 2 teori yg mengatakan bahwa semua pengetahuan didapat dng pengalaman; sedangkan empirisisme tidak saya temukan dalam kamus besar bahasa Indonesia.
Dugaan kamu bisa jadi benar … si penulis begitu saja menerjemahkan dalam bahasa Inggris.
Tapi buku tersebut termasuk buku yg menarik untuk dibuka dan dibaca oleh awam. Sebuah blunder besar bila penggunaan istilah salah ditangkap oleh awam.
Lepas dari itu saya sendiri lebih setuju menggunakan empirisme.

Andi:
Pinggirkan sejenak KBBI (yg mungkin tdk niscaya tepat).
Ini sedikit problematisasi :

social – ism = socialism…
liberal – ism = liberalism
rational – ism = rationalism
empiric – ism = empiricism, dll
(polanya: KATA DASAR + ISM)

Kita menerjemahkan kata2 tsb dr bhs Inggris bkn dr bhs Yunani atau Latin, maka kalau hendak KONSISTEN:
sosial – isme = sosialisme
liberal – isme = liberalisme
rasional – isme = rasionalisme
empiris – isme = EMPIRISISME
(Jadi BUKAN empirisme = empir – isme… (empir aja gw jatuh..eh itu hampir ya….hehehe)

Bagaimana ini dipertanggungjawabkan?
Ada 2 kemungkinan (ini mungkin lho..mungkin ya…)
1. Mungkin karena terdapat dua IS (empirIS) dan (ISme) maka salah satunya dihilangkan.. Apa alasannya, mungkin biar tidak terjadi pengulangan yg tdk perlu..sama kasusnya seperti ekologi – isme = ekologisme (ada dua I: ekologI dan Isme) maka yg satu dihilangkan.
2. Mungkin yg sdh lazim digunakan (empirisme) kemudian dianggap benar dgn sendirinya? Pdahal yg lazim blm tentu benar, ya ga?
salam..

Saya:
Jadi? makin bingung juga dehh…

Penulis :
Hireka Erick

Hireka Eric

Pikiran saya ini ternyata terus mencoba-coba mencari sesuatu untuk dipikirkan.

Dan sesuatu itu, kali ini, adalah METAFORA.

Bukan tanpa alasan saya tergiur untuk menelisik dalamdalam ihwal Metafora ini.

Ceritanya begini.

Saya “berdebat” dengan salah seorang sahabat karib saya tentang gaya seseorang dalam berteman. Kita pasti kenal ungkapan semisal “berteman bagaikan sumur” dan “berteman bagaikan laut” [ngga perlu saya terangkan lebih jauh apa makna konotatif “sumur” dan “laut”, ‘kan?]

Awalnya, dia melemparkan ungkapan “Saya lebih suka berteman bagaikan laut daripada sumur”. Terangsang akan ungkapan itu, saya pun membalasnya sbb.

Transkrip percakapannya begini nih:

Saya:
Sedalam-dalamnya sumur, tetep aja lebih dalam laut. Jadi, laut punya fitur dobel: dalam dan luas. Kalo gitu, berteman bagaikan laut,,,yaaa,,,, berarti berteman sebanyak mungkin dan sedekat mungkin. Tapi, tunggu dulu, di laut ada juga sedikit palung yg dalamnya berkilo2meter; kedalaman inilah yg hanya dibagikan ke beberapa orang terdekat, entah kekasih entah sahabat.
Dia:
Keindahan laut ada pada kedalaman 0-200 m (tentunya sumur tidak sedalam itu) , bukan dasar laut…apalagi di palung laut yang gelap gulita…semakin dalam semakin gelap…kendatipun laut..saya lebih senang melihat keindahannya…

Saya:
Haha…. laut yg dangkal, sekilas begitu indah. Tapi ya,,,, jika kita berhenti menyelam sampai di lapisan laut yg masih terpapar cahaya mentari (di mana ikan warna-warni & terumbu karang hidup), maka itulah keindahan sensual yg tampak dalam keseharian saja.

Sedangkan, dasar laut dan palung laut berarti sebuah misteri, sebongkah rahasia. Di kedalaman inilah rahasia diri (entah luka batin, entah memori masa lalu) yg tak terjamah ikan2 dan terumbu karang di atas sana dibagikan kepada sedikit sahabat. Palung laut memang gelap, tetapi di situlah otentisitas manusia benar2 ditemukan.

Karena itu pula, aku tertarik dengan moto DUC IN ALTUM.
Sungguh, persahabatan berarti menyelam ke dalam lautan jiwa sang terkasih hingga menyentuh palung laut yg terdalam.

Dia:
apa bedanya otentik dgn tdk otentik, sebenarnya sama saja, krn kita tdk tahu kemutlakan diri yg otentik itu seperti apa…otentisitas tidak perlu dicari, suatu saat akan tiba, jikalau hidup memang mencari kebahagiaan sejati… “dalam” oke, tapi tdk menjamin otentisitas…rasanya tdk salah kalau saya ’senang’ melihat yang indah, tapi bukan berarti tidak sanggup untuk melihat yang tidak indah…

Saya:
Wah, hebat sekali ya si palung laut… Dialah yang menampung semua bangkai ikan warna-warni dan sampah dari penyelam dari lapisan atas laut yg cerah tanpa banyak berkeluh kesah…Palung laut adalah tempat sampah, dan ia rela menerima itu semua.

Percakapan di atas justru membuat saya gerah. Pasalnya, serta-merta saya merasa bahwa metafora tidak pernah memadai untuk menjelaskan suatu fenomena. Metafora sendiri selalu multitafsir, dan ini membingungkan. Palung laut yang di mata saya menyimpan keindahan, ternyata masih kalah menarik di mata sahabat saya yang lebih mencintai laut dangkal yang masih terpapar cahaya matahari.

Lalu, bukankah persahabatan itu sendiri memanglah bukan sumur dan bukan laut? Apakah term “sumur” dan “laut” sanggup mewakili semua kandungan makna dalam term “persahabatan”?
Jadi, poin kegelisahan saya di sini:
Metafora sepertinya tidak mungkin bisa menggeser makna asali suatu term.
“Wajahmu secantik bulan purnama.”
Lho? bukankah bulan justru berlekuk-lekuk tak keruan, penuh dengan kawah dan ngarai?
“Kini aku telah berubah dari seekor ulat buruk rupa menjadi kupukupu.”
Lho? bukankah pada gilirannya kupu2 akan harus menelurkan ulat lagi, jadi menghasilkan yang buruk lagi?

….dan lain-lain.

Penulis :
Hireka Erick

Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan kita ternyata sekarang ini sudah dipelajari oleh sedikitnya 40 negara di dunia dan dimasukkan dalam pelajaran bahasa asing dari mulai pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Informasi ini saya ambil dari kompas.com. Dikatakan juga bahwa negara yang paling intens mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing diantaranya adalah jepang, Australia, Malaysia dan Singapura.

Dengan semakin banyaknya negara yang mempelajari bahasa Indonesia ini diharapkan banyak negara semakin mengenal kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia serta dapat mengenal lebih baik tentang Indonesia. Kita patut berbangga dengan hal ini, karena bahasa Indonesia sudah dipelajari oleh banyak negara dan sudah dijadikan pelajaran bahasa asing dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.

Kita juga harusnya juga terus berusaha agar bahasa Indonesia semakin dipelajari oleh lebih banyak negara lagi karena dengan begitu banyak negara juga nantinya akan tahu seperti apa Indonesia yang memiliki kebudayaan yang beragam. Dengan mengerti bahasa Indonesia maka juga akan semakin memahami kebudayaan yang dimiliki Indonesia karena mereka akan lebih mudah menangkap atau menerima kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia.

Mungkin dengan semakin banyak negara yang mempelajari bahasa Indonesia bisa saja suatu saat bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional dan bisa saja bahasa Indonesia juga digunakan sebagai bahasa resmi dunia, jadi dalam forum-forum Internasional ataupun dalam segala hal digunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang utama.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu keragaman budaya kita, jadi jangan sampai bahasa Indonesia diklaim oleh negara lain dan kita harus mempertahankan bahasa Indonesia ini agar tetap menjadi bahasa persatuan yang dimiliki oleh Indonesia dan juga kita harus berusaha agar bahasa Indonesia bisa mendunia agar bangsa ini juga bisa semakin maju dan dapat terus berkembang.

Penulis :
Rindy Agassi

Mengapa bahasa internasional harus bahasa Inggris? Apakah bahasa Indonesia tidak cukup baik? Bisa jadi pertanyaan-pertanyaan inilah muncul di benak orang-orang yang merasa jengah terhadap ketenaran bahasa Inggris. Padahal, bahasa Indonesia juga bisa menjadi bahasa internasional.

Bahasa Inggris telah diakui oleh dunia sebagai bahasa internasional. Siapa pun yang ingin hidup global harus menguasai bahasa Inggris. Selain bahasa Inggris, PBB memang mengakui beberapa bahasa lain sebagai bahasa pengantar, yaitu bahasa Prancis, Rusia, China (Mandarin). Mereka dipilih karena digunakan oleh banyak manusia dan negaranya duduk di dewan keamanan.

Dari segi jumlah penutur, bahasa Indonesia juga unggul. Memang sulit untuk menandingi jumlah penutur bahasa Mandarin, tapi jumlah penutur bahasa Indonesia tidak kalah dari Rusia dan Prancis. Masalahnya, bahasa Rusia dan Prancis yang digunakan di negara lain menggunakan dialek yang berbeda. Tidak jarang bahkan bahasa Prancis harus bersandingan dengan bahasa lain sebagai bahasa nasional di negara tersebut, misalnya Kanada (bahasa Inggris dan Prancis) dan Belgia (bahasa Jerman dan Prancis).

Bahasa Indonesia menguasai dan dikuasai oleh lebih dari 200 juta penutur yang dipayungi negara yang sama. Televisi menggugah para penutur untuk menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta (bukan Betawi). Jadi, pengaruh bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia semakin kecil. Bahasa Indonesia juga dapat digunakan di negara-negara berbahasa Melayu seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Apabila seorang turis sudah menguasai bahasa Indonesia, dia tidak perlu repot-repot belajar bahasa Malaysia lagi. Alasannya dapat dilihat di tulisan saya sebelumnya. Bahasa Indonesia pun telah lama menjadi lingua franca di Asia Tenggara. Penjabaran hal tersebut dapat dilihat di tautan ini.

Faktor lainnya adalah tingkat kesulitan pemerolehan bahasa. Ketiga bahasa tersebut lebih sulit dipelajari daripada bahasa Inggris. Bahasa Prancis dan Rusia tidak hanya menggunakan kala (tenses) seperti bahasa Inggris, tetapi juga konjugasi (perubahan kata kerja berdasarkan kala) dan membedakan jenis kelamin kata benda (ini juga mempengaruhi kata sifat). Bahasa Mandarin bahkan mengenal lima nada suara yang membedakan arti dan tidak menggunakan huruf Latin.

Di sisi lain, bahasa Indonesia sangat mudah dikuasai, terutama tingkat dasar. Turis asing yang berwisata di Indonesia dapat berkomunikasi dengan kalimat-kalimat sederhana seperti “Saya lapar” atau “Di mana saya bisa beli ini?” dalam tiga hari. Kemampuan yang sama dalam bahasa China butuh waktu satu bulan atau lebih.

Bahasa Indonesia tidak mengenal kala, konjugasi, maupun jenis kelamin kata benda. Lafal bahasa Indonesia juga tidak sulit karena lebih tipis atau ringan. Hanya ada sedikit bunyi yang sulit, misalnya [ny] dan [ng]. Kalaupun orang asing bermasalah ketika mengucapkannya, orang Indonesia masih memahami maksudnya.

Bagaimana dengan bahasa-bahasa lainnya? Bahasa Korea dan Jepang mempunyai berbagai macam akhiran yang melekat pada kata kerja, tergantung situasi percakapan dan lawan bicaranya. Bahasa Arab mempunyai 10 tingkat intensitas kata kerja. Semua ini tidak ada di dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia tingkat menengah dan lanjut memang lebih susah. Penggunaan imbuhan di dalam bahasa Indonesia bukanlah sesuatu yang sederhana. Namun, kehadiran seorang guru yang ahli dan sistematis dapat menanggulangi masalah ini. Kecenderungan bahasa Indonesia menyerap kosakata bahasa Inggris juga memudahkan orang asing untuk menambah kosakatanya. Kecenderungan seperti ini bukanlah sesuatu yang perlu dianggap sebagai kelemahan bahasa Indonesia karena bahasa Inggris pun banyak menyerap kosakata bahasa Latin dan Yunani.

Berdasarkan argumen-argumen di atas, saya rasa bahasa Indonesia pantas menjadi bahasa internasional, terutama di PBB. Tentu saja upaya yang harus dilakukan tidak hanya dari segi sosial dan budaya, tetapi juga ekonomi dan politik. Apabila posisi Indonesia semakin kuat di mata dunia, semakin banyak orang yang merasa perlu menguasai bahasa Indonesia. Dengan demikian, terwujudnya bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional bukan mimpi belaka.

Penulis :
Melody.violine

Membaca di beberapa media ihwal telah terbit Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, siapa yang tak senang. KBBI edisi keempat adalah edisi terbaru. Demikian halnya saya, sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sejak di Strata satu (S.1), KBBI adalah bacaan mutlak. Sering, tatkala saya kewalahan mencari makna suatu kata atau untuk mengurangi rasa bimbang dari makna yang saya ketahui, KBBI menjadi alternatif puncak untuk mempertegas keyakinan saya. Itu sebabnya, ketika sejumlah media cetak memberitakan telah diluncurkannya KBBI edisi keempat oleh Pusat Bahasa (PB), hasrat di hati saya untuk mendapati kamus besar tersebut melebihi besar dan beratnya kamus itu.

Berbilang bulan saya memendam berahi untuk memperoleh kamus setebal 1701 + xlii tersebut. Karenanya, saat melihat ‘kitab’ bersampul kuning tua tergeletak di meja pustaka Balai Bahasa Banda Aceh seminggu yang lalu-dan di ‘kitab’ itu tertulis KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA PUSAT BAHASA-tangan saya langsung meraihnya. Jujur saja, saat itu juga saya langsung kecewa membaca judul kamus tersebut. Kali ini kita tidak dapat lagi menyingkat kamus itu dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), karena sudah ada penambahan pada judul, “Pusat Bahasa”. Jadi, mesti disingkat menjadi KBBIBP atau KBBI-BP (Kamu Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa). Ada nilai emosional yang tertangkap pada judul ini, seolah ingin menunjukkan bahwa kamus itu adalah milik PB semata yang tiada saingannya dengan kamus-kamus besar lainnya. Padahal, tanpa disebutkan pun orang sudah tahu bahwa KBBI hanya diterbitkan oleh Pusat Bahasa. Hemat saya, kamus besar kali ini hanya memperpanjang judul sekaligus menyulitkan orang dalam menulis singkatannya. Demikian juga saat orang akan menulis kamus itu sebagai rujukan di daftar pustaka, terlalu membebani, di samping juga estetika judul sudah berkurang karena kepanjangan.

Isi

Harus diakui memang, KBBI edisi keempat ini mengalami penambahan lema dan sublema yang sangat signifikan. Jika edisi ketiga lalu termuat 78.000 lema dan 2.034 peribahasa, edisi keempat terdapat 90.049 lema dan 2.036 peribahasa. Saya tidak tahu, apakah memang bahasa kita miskin peribahasa sehingga hanya dapat penambahan dua peribahasa dalam kamus edisi terbaru ini. Yang jelas, beberapa kata dan kosa kata yang sudah lazim kita dengar juga masih luput dari kamus yang diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta itu (edisi sebelumnya, KBBI diterbitkan oleh Balai Pustaka).

Sejumlah kata yang luput itu sebut saja gestur. Kata ini sangat sering digunakan dalam kesenian, terutama tari dan teater. Bahkan, kata gestur mulai sering digunakan dalam duia politik. Namun, kata ini tidak terdapat dalam KBBI edisi keempat seperti juga pada edisi sebelumnya. Padahal, kata-kata yang memiliki makna hampir berdekatan semisal mimik, badan, dimasukkan pada lema tersendiri dalam kamus terbitan 2008 tersebut.

Selain itu, beberapa kosa kata dari bahasa daerah yang ada dalam KBBI edisi keempat ini masih perlu dikaji ulang. Meunasah yang dijelaskan diambil dari kosa kata bahasa Aceh ditulis menasah. Kata memang kosa kata baru karena tidak dalam edisi sebelumnya. Namun, maknanya masih perlu dipertanyakan. Dalam KBBI edisi keempat itu disebutkan bahwa menasah bermakna bangunan umum di desa-desa untuk melaksanakan upacara agama, pendidikan agama, bermusyawarah, dsb. Seharusnya, meunasah (bahasa Aceh) adalah sama dengan musalla, ia bukan tempat upacara agama, melainkan tempat orang salat; bangunan pengganti mesjid. Apalagi, kalau disebutkan sebagai tempat pendidikan agama, sungguh jauh maknanya, karena tempat pendidikan agama di Aceh disebut dengandayah, yang fungsinya sama seperti pesantren di Jawa. Demikian halnya dengan maksud “tempat bermusyawarah”. Jika dimaksudkan tempat musyawarah, mestinyabale (balai), bukan meunasah. Bale memang letaknya kerap di depan meunasahatau di belakang mesjid. Jika di suatu kampung tidak ada bale, barulah musyawarah dilaksanakan di meunasah, bahkan bisa jadi di mesjid. Namun, fungsi utamanya tetap tempat orang salat, bukan musyawarah.

Adapun kata dayah, memang terdapat di kamus itu. Namun, saya yakin bukan dari kosa kata bahasa Aceh, sebab maknanya di sana tertulis “orang perempuan (ibu) yang diserahi mengasuh atau menyusui anak orang lain”.

Mengebiri Aceh

Mengamati KBBI secara saksama, memang terkadang terkesan mengebiri Aceh dengan sangat kurangnya kosa kata bahasa Aceh diterakan. Padahal, dari provinsi lain, banyak kosa kata bahasa daerahnya dalam KBBI. Saya tidak bicara pada tataran kosa kata yang sulit, tetapi yang umum dan sudah lazim didengar, pun untuk kosa kata bahasa Aceh masih jarang kita temui di kamus besar itu.

Lihat saja untuk panggilan jenis kelamin seperti lanang (Jawa), buyung(Minangkabau), neng (Sunda), tercatat dalam KBBI. Namun, agam dan inong (Aceh) yang sudah sering kita jumpai di banyak tulisan, terutama tulisan sastra, tidak dimasukkan dalam KBBI. Kata agam dalam KBBI memang ada, tapi maknanya bukan dari bahasa Aceh.

Saya memang menemui beberapa kosa kata dari bahasa Aceh dalam lema KBBI, tapi sangat sedikit, seperti seudati, rencong, dan saman. Lucunya, jenis-jenis kesenian itu ada di sana, tetapi rapai yang menjadi musik pengiringnya, tidak kita temukan dalam KBBI tersebut.

Ungkapan Daerah

Hal yang paling mengesankan sekaligus aneh bagi saya adalah pada halaman 1582-1583. Dua halaman ini merupakan halaman tambahan yang diberi judul KATA DAN UNGKAPAN DAERAH. Seperti halnya KBBI edisi ketiga, pada edisi keempat ini pun ungkapan dari bahasa Aceh tidak ada di sana, sedangkan dari berbagai daerah lain di Indonesia ada. Paling banyak dari bahasa Jawa (kode Jw) 39 buah, selanjutnya bahasa Minangkabau (kode Mk) 10 buah, bahasa Bali (Bl) 8 buah, bahasa Kawi (Kw) 7 buah, bahasa Sunda (Sd) 6 buah, bahasa Batak (Bt), bahasa Sasak (Sk), bahasa Menado (Mnd), masing-masing dua buah ungkapan daerah. Berikutnya, ungkapan dari daerah Damal (Dam), daerah Makassar (Mks), daerah Kaili (Kal), daerah Tolaki (Tlk), daerah Lampung (Lp), daerah Madura (Mdr), masing-masing satu buah.

Kemudian, lihat pula beberapa kode bahasa daerah yang tidak tercantum di halaman Petunjuk Pemakaian (hlm. xxxiii), seperti Menado, Kawi, Makassar. Padahal, di halaman Ungkapan Daerah, dipakai kosa kata dari masing-masing daerah tersebut. Kita juga akan menemui keraguan tim penyusun kamus itu di halaman yang sama. Tatkala dalam KBBI edisi ketiga ungkapan jarik dewa‘lingkungan tanah yang disediakan untuk mendirikan pura’ disebutkan berasal dari bahasa Lombok, dalam KBBI edisi keempat disebutkan ungkapan itu berasal dari bahasa Sasak. Kejadian yang sama pada ungkapan jer basuki mawa beya‘kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan pengorbanan’ dalam KBBI edisi ketiga disebutkan berasal dari bahasa Jawa, tetapi di edisi keempat termasuk dalam bahasa Sasak.

Selain itu, ada pula ungkapan daerah yang terdapat pada KBBI edisi ketiga kini hilang di edisi keempat, yakni punten (bahasa Sunda) dan aja dumeh (bahasa Jawa) ‘jangan bersikap atau berbuat mentang-mentang selalu semaunya’ (lihat KBBI edisi ketiga). Mungkinkah ungkapan ini sengaja dihilangkan agar KBBI edisi keempat dapat dibuat semaunya Pusat Bahasa? Ah, saya kira revisi KBBI edisi keempat sangat dibutuhkan secepatnya atau masyarakat Indonesia tidak akan menggunakan KBBI lagi sebagai rujukan. Akhirul warkah, saya ucapkan selamat menikmati Kamus Berat Buatan Indonesia.

Herman RN, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Penulis :
Herman RN

BAHASA merupakan sebuah komunikasi antara seseorang dengan orang lain sehingga membentuk sebuah interaksi melahirkan pemahaman antara keduanya. Bahasa juga dapat diibarat sebuah remote control yang dapat menyetel manusia tertawa, sedih, menangis lunglai, semangat dan sebagainya. Bahasa juga dapat digunakan untuk memasukkan gagasan-gagasan ke dalam pikiran manusia.

Mengapa saya harus belajar bahasa Indonesia ?
Alasannya adalah, saya tahu betapa pentingnya sebuah bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang dipakai di Indonesia. Pertanyaannya sekarang apakah bahasa Indonesia saya sudah baik dan benar? Tentu saya masih ragu untuk menjawabnya.
Kita sebagai warga Negara Indonesia pasti sadar diri, betapa banyaknya ragam bahasa di Indonesia. Lain daerah lain bahasa, orang Sumatera memiliki bahasa sendiri, orang Jawa memiliki bahasa sendiri, orang Kalimantan memiliki bahasa sendiri. Dan ragam bahasa itu menjadi kebanggaaan kita sebagai warga Negara Indonesia.

Saya menyadari betapa buruknya bahasa Indonesia saya, baik itu lisan maupun tulisan. Alasannya kenapa, karena pengaruh ragam bahasa dan budaya itu sendiri. Saya lahir di Aceh tepatnya di daerah Kluet kabupaten Aceh Selatan. Di kabupaten itu sendiri ada 4 jenis bahasa daerah yang di pakai oleh masyarakat sekitar, bahasa Aceh, Kluet, Jame, dan singkil, belum lagi Aceh secara keseluruhan, terdapat 7 jenis bahasa. Apakah saya harus mempelajari semua bahasa itu? tentu tidak dan saya hanya berfokus mempelajari 4 bahasa, 3 bahasa daerah (Aceh, Kluet, Jame) dan 1 bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Belum lagi saya sekarang tinggal di Jawa, sudah barang tentu saya juga harus mempelajari bahasa Jawa baik itu Sunda maupun bahasa Jawa.

Ada yang bilang susah-suah gampang untuk menuliskan sebuah artikel dalam bahasa Indonesia. Seringnya kesalahan seorang penulis itu adalah pada pada ejaannya, struktur bahasa dan tidak bisa membedakan antara bahasa asing, daerah dengan bahasa resmi yaitu bahasa Indonesia menurut EYD.

Banyak media internet baik itu diblog maupun disitus resmi seperti detik.com sendiri struktur penulisannya masih banyak yang berantakan. Belum lagi dimailinglist, forum, bahkan situs pemerintahan pun masih ada penulisan yang belum sesuai dengan kaedah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan pertanyaannya adalah kenapa ini bisa terjadi ? Jawabannya adalah mudah, makanya belajar bahasa Indonesia dulu.

Ada beberapa alasan, kenapa saya perlu belajar bahasa Indonesia :
a. Bahasa menunjukkan bangsa
Sebuah ungkapan atau sebuah pepatah yang memakai 2 unsur atau kata pokok yaitu bahasa dan bangsa. Dari dua unsur dapat disimpulkan 3 arti yaitu :

1. tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka
2. kesopansantunan seseorang menunjukkan asal keluarganya
3. bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa pemilik bahasa tersebut.

Kita bangga di dalam bahasa Indonesia kita diberikan pilihan bahasa (diksi), misalnya saja saya penggunaan kata kamu, Anda, Abang, Kakak, Bapak dan lain sebagainya. Saya dapat memilih dengan siapa saya bicara, misalnya saya bicara dengan orang yang lebih tua dari saya maka saya dapat memilih kata Anda, Abang, Kakak atau Bapak. Coba perhatikan penggunaan kata “You” dalam bahasa Inggris, bagaimanakah mereka menggunakan kata itu? Kalau di Indonesiakan bisa berarti tidak sopan bukan.

b. Ilmu Pengetahuan
Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu kita harus belajar bahasa Indonesia. Sejak kecil kita sekolah mulai dari sekolah di tingkat dasar, menengah, atas dan sampai kuliah. Ilmu itu di ajarkan dalam bahasa Indonesia. Kalau dulu kita belajar dari orang lain, kini giliran kita untuk mengajarkan kepada orang lain. Bagaimana kita dapat mengajarkan kepada orang lain sedangkan bahasa Indonesia kita berantakan. Apakah ada media lain selain bahasa tulisan untuk kita berbagi ilmu pengetahuan ? tentu tidak, maka dari itu kita di tuntut untuk melatih agar bahasa Indonesia kita baik dan sesuai dengan EYD. Kita tidak dituntut 100% baik dalam EYD tetapi separuhnya juga boleh dan yang paling penting selalu berlatih.

c. Ingin menjadi orang berhasil, perlu tidak belajar bahasa Indonesia ?
Untuk menjadi orang berhasil, baik itu menjadi professor, ilmuan, kepala pemerintahan, menteri, wakil rakyat, Gubernur, Bupati, menajer perusahaan, dan lain sebagainya, maka di tuntut untuk bisa berkomunikasi baik itu lisan maupun tulisan. Bahasa apa yang di gunakan untuk berkomunikasi ? Kalau tinggalnya di Indonesia maka bahasa Indonesia adalah penting untuk di pelajari.

Misalnya saja, seorang mahasiswa ingin menjadi presiden mahasiswa, ingin menjadi ketua himpunan jurusan atau ingin menjadi ketua di sebuah organisasi lain di luar kampus. Seorang mahasiswa tersebut di tuntut bisa berkomunikasi aktif baik itu bahasa lisan dan bahasa tulisan, mahasiswa itu juga harus bisa membuat sebuah proposal kegiatan, membuat sebuah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, yang paling kecil saja harus bisa membuat surat.
Dapat kita simpulkan bahwa menjadi seorang berhasil itu perlu sebuah proses, salah satu proses tersebut adalah belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar.

d. Sebelum mempelajari struktur bahasa Asing, pelajari dulu struktur bahasa sendiri.
Jadi aneh kalau orang Indonesia bahasa Inggrisnya baik dan struktur bahasanya bagus, tapi di kasih untuk menulis dalam bahasa Indonesia jadi berantakan. Maka dari itu pondasi awal untuk mempelajari bahasa asing baik itu bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Jepang dan lain sebagainya maka dari itu pelajari dulu struktur bahasa Indonesia dulu baru lanjut belajar strukrur bahasa Asing.

Penulis :
Fadli Saldi

Salah satu cara untuk menyatakan jamak dalam bahasa Indonesia adalah dengan mengulang kata dasarnya. Mobil-mobil adalah ungkapan jamak dari mobil, rumah-rumah adalah ungkapan jamak dari rumah, demikian seterusnya.

Setahu penulis, jarang sekali bahasa besar di dunia ini yang menyatakan jamak dengan cara mengulang kata dasar. Dalam bahasa Inggris, secara umum untuk menyatakan jamak cukup dengan menambahkan huruf s atau es di akhir kata dasarnya. Agak mirip dengan bahasa Inggris, dalam bahasa Arab untuk menyatakan jamak umumnya dengan cara menyisipkan huruf tertentu di bagian tengah dan/atau di bagian akhir kata dasarnya.

Mungkin ada yang tidak sependapat, tetapi bahasa yang menggunakan kata ulang untuk menyatakan jamak terkesan sebagai bahasa yang belum berkembang dengan baik. Terkesan juga bahwa masyarakat pengguna bahasa tersebut kurang kreatif dalam mencari pola lain dalam membentuk kata jamak.

Masalah lain adalah bahwa kata ulang untuk menyatakan jamak cenderung lebih boros penggunaan huruf dibandingkan dengan hanya memodifikasi kata dasar seperti pola yand ada dalam bahasa Inggris atau bahasa Arab.

Pemborosan ini tampaknya masalah sepele, tapi kalau kita mencoba melihat secara kumulatif banyaknya ruangan, tenaga dan waktu yang terbuang, sesungguhnya ini tidak sesepele yang dibayangkan. Apalagi pemborosan itu sebetulnya dapat dicegah dengan niat dan sedikit usaha untuk menemukan jalan keluarnya.

Dalam bahasa Indonesia, untuk beberapa kata sebetulnya sudah ada bentuk kata ulang yang hemat huruf. Coba perhatikan kata pepohonan yang dapat menjadi pengganti kata pohon-pohonan. Dalam contoh tersebut, dua huruf (pe) dapat menggantikan lima huruf (pohon). Perhatikan juga kata rerumputan yang dapat menjadi pengganti kata rumput-rumputan. Dua huruf (re) dapat menggantikan enam huruf (rumput). Bahkan kata laki-laki pun sudah lumrah diganti dengan lelaki.

Lalu mengapa kita tidak mencoba menggunakan pola tersebut untuk kata ulang yang lain? Rerumah untuk rumah-rumah, memobil untuk mobil-mobil, bebaju untuk baju-baju, gegunung untuk gunung-gunung, dan seterusnya. Rumus untuk tambahan dua huruf di awal kata juga sudah terlihat dengan jelas, yaitu huruf pertama kata dasar ditambah dengan huruf e.

Itu kalau huruf pertama kata dasar adalah konsonan, lalu bagaimana jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal?

Penulis telah mencoba mencari pola yang sudah ada dalam bahasa Indonesia dan menemukan satu kata ulang yang diawali dengan huruf vokal yang cocok sebagai contoh pola, yaitu alang-alang. Dalam banyak ungkapan alang-alang sudah sering diganti dengan ilalang. Walaupun alang-alang itu sebetulnya bukan kata ulang, namun mungkin pola ini dapat juga digunakan untuk kata ulang yang diawali dengan huruf vokal. Jadi orang-orang menjadi irorang, atap-atap menjadi itatap, ayam-ayam menjadi iyayam, dan seterusnya. Rumus umum untuk dua huruf awalannya adalah huruf i ditambah dengan huruf kedua dari kata dasar.

Kata ulang dalam bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi untuk menunjukkan jamak, tapi juga berfungsi antara lain :
– Menyatakan benda yang menyerupai kata dasar itu. Misalnya: anak-anakan, orang-orangan.
– Menyatakan bahwa pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang atau beberapa kali. Misalnya: meloncat-loncat, menyebut-nyebut.
– Menyatakan makna lebih (intensitas). Misalnya: cepat-cepat, baik-baik.

Mungkinkah pola yang sama diterapkan untuk kata ulang yang tidak untuk menunjukkan jamak tersebut?

Penulis pikir sangat mungkin. Jadi anak-anakan menjadi inanakan, orang-orangan menjadi irorangan, meloncat-loncat menjadi meleloncat, menyebut-nyebut menjadi menyesebut, cepat-cepat menjadi cecepat, dan baik-baik menjadi bebaik.

Semoga dapat menjadi masukan untuk Pusat Bahasa Depdiknas.

Penulis :
Ichwan Depok

Himbauan Kepala Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) Tirto Suwondo mengenai penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh pers dan media masa perlu mendapat perhatian semua kalangan. Tidak saja kalangan profesional di bidang kejurnalistikan saja sebagai wahana untuk pengembangan Bahasaa Indonesia.

Namun perlu juga para bloger, netter dan media lainnya turut menyosialisasikannya. Sebab penggunaan Bahasa Indonesia baku, mulai ditinggalkan dengan beberapa alasan. Diantaranya tidak sepenuhnya menguasai tata bahasa Indonesia, adanya perbedaan persefsi antara ejaan yang disempurnakan (EYD) dengan bahasa Indonesia baku.

Melihat persoalan ini, sepertinya penggunaan bahasa Indonesia baku hanya berlaku pada perkuliahan Sastra dan Bahasa Indonesia saja. Sehingga ketika berada di luar kampus, kembali lagi menjadi bahasa lisan. Sementara bahasa lisan dengan bahasa tulis memiliki kriteria berbeda. Jika dalam penulisan (teknisnya) tidak terlepas dari subjek, predikat, objek dan keterangan (SPOK).

Sebagai ilustrasi, saya memiliki teman dari jurusan Sastra & Bahasa Indonesia. Teman itu, entah memiliki pemikiran sederhana seperti apa, sehingga mengubah penampilan gaya bertuturnya. Jika dia bericara terdengar janggal dan sangat lucu. Sebelumnya, ia berbicara layaknya masyarakat kebanyakan tanpa kaidah atau tata bahasa.

Jika bertemu saya atau dengan teman lainnya, dia selalu mengucapkan. “Mau kah engkau pergi ke kampus bersama-sama dengan saya?” Ia tidak berkata seperti lajimnya teman lain dengan perkataan seperti, “Kita berangkatnya bareng yah.” Dua perbedaan kalimat ini, mungkin yang pertama terasa janggal di telinga dan ada kesan lucu.

Sedangkan kalimat kedua sudah lajim dan kita pun mengerti arah tujuan dari kalimat itu. Nah teman saya itu setiap kali membuka percakapan dengan kalimat panjang tapi sangat jelas titik komanya. Begitu pun susunan kalimatnya mencerminkan SPOK. Perbedaan ini dikarenakan ada “rasa bahasa” yang belum biasa.

Sebab sejak kita berkenalan dengan bahasa Indonesia, tentu yang digunakan bahasa lisan. Begitu kita terbiasa dengan bahasa lisan ada kerepotan sendiri, ketika harus menterjemaahkan dari bahasa tulisan ke lisan. Meskipun ada perbedaan antara enak dan tidak enak. Sepertinya sudah harus memulai dari sekarang.

Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi kita akan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar? Sebab bahasa merupakan salah satu dari identitas suatu bangsa. Jika bangsanya tsudah tidak menghargai bahasanya bagaimana dengan kelangsungan bahasa itu sendiri? Padahal dalam UUD ‘45 pun sudah disebutkan Bahasa Nasional ialah Bahasa Indonesia.***

Penulis :
Sitihawa

Apa yang paling memprihatinkan dari sebuah negeri bernama Indonesia? Kalau harus membuat urutan jawabannya adalah soal berbahasa. Harusnya kita bangga karena kita punya bahasa sendiri, yang membedakan kita dengan bangsa Amerika sekalipun. Meski disebut negara adidaya tapi bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Inggris.

Dengan populasi lebih dari 200 juta jiwa sebenarnya kita punya potensi menduniakan bahasa Indonesia. Tapi yang terjadi adalah kita menyia-nyiakan kesempatan itu. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir penggunaan bahasa Indonesia di ranah publik makin memprihatinkan.

Tengok saja yang dilakukan sebuah stasiun tv berita. Nyaris semua acaranyanya menggunakan nama berbahasa Inggris. Sekedar menyebut beberapa, ada Headline News, Kick Andy, Today’s Dialogue, Just Alvin, Archipelago, Breaking News, Secret Operation hingga Live Event. Jika acaranya sesuai dengan nama programnya mungkin tak jadi soalnya. Tapi yang saya sebut tadi nama acaranya dalam bahasa Inggris namun isinya seratus persen dalam bahasa Indonesia. Ini tv Amerika atau tv lokal Indonesia? Kenapa menggunakan nama Inggris, memang acara-acaranya ditujukan buat siapa ? Pertanyaan yang tak pernah terjawab hingga kini.

Saya curiga jangan-jangan stasiun tv dimaksud hanya sekedar ingin ‘gaya’, ingin dibilang lain dari yang lain. Berbeda memang tak ada salahnya, tapi berbeda untuk tujuan yang tidak jelas, justru membingungkan. Bukankah sifat media harusnya ikut dalam gerakan mencerdaskan bangsa? Bagaimana bangsa ini bisa cerdas kalau disuguhi ketidak elokan dalam berbahasa?

Kegenitan berbahasa asing juga bisa dilihat dari penggunaan nama gerakan cinta Indonesia setelah terjadinya ledakan bom Mega Kuningan. Para aktivis menamai gerakannya sebagai Indonesia Unite. Duh, segitu parahkah bahasa Indonesia sehingga untuk acara peduli pada bangsa sendiri harus menggunakan istilah asing?

Contoh lainnya adalah penggunaan bahasa campuran Indonesia-Inggris dalam lagu. Melly Goeslaw adalah nama salah satu musisi yang bisa disebut merusak kaidah dan keindahan bahasa Indonesia. Ia meramu bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris begitu rupa. Konon ia melakukan itu dengan maksud agar lagunya tak sekedar menjadi jago kandang di negeri sendiri, tapi juga bisa beredar di telinga penggemar musik di Malaysia atau Singapura yang bahasanya gado-gado itu.

Sebuah alasan yang aneh menurut saya. Tanpa disadarinya, pencampuradukan bahasa menyebabkan kaidah bahasa Indonesia hancur baur. Meski harus diakui bahasa Indonesia tumbuh bukan hanya dari kekayaan bahasa lokal saja, melainkan percampuran serapan bahasa asing. Namun mencapur adukkan bahasa adalah sebuah tindakan salah kaprah.

Lihat saja lirik lagu Lets Dance Together ciptaan Melly yang dipopulerkan Bukan Bintang Biasa.

Let’s dance together
Get on the dance floor
The party won’t start
If you stand still like that
Let’s dance together
Let’s party and turn off the light

Berdiri semua di ruang yang redup
Bercahaya bagai kilat

Aku dan yang lain
Menikmati semua
Irama berderap kencang

Tak ada Gundah
Hilang semua penat di dada

Lihat DJ memainkan musik
Disko dimulai….

Apa yang dilakukan Melly kemudian menjadi tren. beberapa musisi kemudian melakukan langkah serupa, membuat lagu dalam bahasa gado-gado.

Daftar kesalah kaprahan ini bisa sangat panjang. Para pejabat negara atau politisi pun setali tiga uang. Mereka kerap bicara dalam forum publik dengan mencampuradukkan bahasa. Mereka kerap menggunakan banyak kata asing saat berpidato atau bicara di tv. Padahal sebenarnya bisa dicari padanan bahasa Indonesianya. Ini lagi-lagi memprihatinkan. Pejabat atau tokoh publik adalah panutan. Jika mereka tidak bisa tertib berbahasa, apa kata dunia?

Lalu mengapa kenyataan demikian mengemuka begitu jelasnya di negeri ini? Jawabannya sederhana, kita ini bangsa yang sombong dan tak percaya diri. Merasa keren kalau berbicara dalam bahasa asing, apalagi di depan orang banyak. Tak peduli apakah grammar atau tata bahasanya benar yang penting keren. Mungkin mereka beranggapan status sosialnya akan meningkat jika menyelipkan banyak istilah bahasa asing dalam pembicaraan publik. Padahal asli, bukannya membanggakan tapi membingungkan!

Saya berharap sekaligus bermimpi semoga ke depan kita semua menghargai jerih payah para pendahulu kita yang berjuang menegakkan bahasa kita, bahasa Indonesia. Mereka pasti punya harapan, suatu saat bahasa Indonesia bisa sejajar dengan bahasa lain di dunia. Contohlah bangsa Perancis yang begitu sombongnya dalam berbahasa. Mereka sangat bangga hingga munculan enggan belajar bahasa lain.

Begitu pula dengan bangsa Jepang. Kebanggan bangsa Jepang malah mewujud dengan penterjemahan semua literaur asing ke dalam tulisan kanji. Hasilnya, Jepang pun bisa menguasai dunia, karena ilmu dari negara maju mereka serap semua dengan kemampuan berbahasanya.

Saya tak hendak menyalahkan mereka yang terlanjur cinta dengan bahasa asing. Tapi ingat gunakan seperlunya, sesuai tempat dan kondisinya. Jika masih berada di negeri ini, dengan mayoritas warganya yang awam bahasa asing, lebih baik dan lebih membanggakan menggunakan bahasa Indonesia. Wibawa kita tak akan jatuh hanya karena kita berpidato seratus persen menggunakan bahasa Indonesia. Toh khalayak yang dituju pun adalah bangsa sendiri.

Dan saya yakin acara tv yang baik akan diapresiasi publik begitu rupa, meski hanya menggunakan nama lokal seperti Dunia Dalam Berita, Liputan enam Terkini, atau Tertawa Tengah Malam. Saya juga percaya kita akan menjadi bangsa yang besar jika kita bangga akan bahasa nasional kita sendiri.

Penulis :
Syaifuddin Sayuti