Di dalam tatanan semua bahasa di dunia ada yang disebut dengan bahasa colloquial. Dia adalah media komunikasi lisan yang amat informal sehingga tidak pernah digunakan dalam bahasa tulisan apalagi yang sangat formal sifatnya. Kendatipun dia menyandang predikat ‘bahasa pasar’, colloquialism ini sangat akrab dipakai sebagai bahasa lisan oleh masyarakat penggunanya, baik oleh golongan intelek maupun golongan non intelek. Fenomena ini berlaku pula dalam bahasa Indonesia sebagaimana contoh dalam judul tulisan ini yaitu ‘gitu aja kok repot’.

Catchword yang dipopulerkan oleh Gus Dur ini mempunyai padanan dalam bahasa Inggris yaitu What a big deal ! atau kadang-kadang diucapkan A big deal ! dan menyiratkan sindiran (irony) sekaligus cibiran terhadap pernyataan-pernyataan atau kejadian yang dibesar-besarkan. Karena tutur bahasanya yang humoris, mereka yang terkena sentilan tidak akan tersinggung atau merasa dipermalukan. Ada lagi ungkapan ‘masih untung dia tidak ditabrak mobil’ yang ternyata ada pula padanannya dalam bahasa Inggris meskipun dengan ‘gaya bahasa’ sedikit berbeda yaitu It could’ve been worse if he was hit by a car.

Orang Indonesia suka sekali menggunakan kata penghantar pokoknya. Misalnya dalam ungkapan ’pokoknya saya nggak mau ketemu dengan dia’. Apakah ada padanannya ‘pokoknya’ ini dalam bahasa Inggris ? Ternyata ada, yaitu I don’t want to meet him at any rate. Ini sebenarnya menunjukkan bahwa sebagai manusia di muka bumi kita mempunyai kesamaan berpikir, sekalipun berada dalam budaya atau kultur yang berbeda-beda. Ada lagi ungkapan yang cukup populer dalam wacana kita yaitu ‘tidak usah’. Dalam ungkapan ‘Kamu tidak usah membayar buku ini’ kita bisa mengatakan You need not pay for the book. Harap dibedakan need sebagai auxiliary verb ini dengan need sebagai regular verb. Sebagai regular verb kita akan mengatakan don’t need dan maknanya berbeda yaitu ‘tidak membutuhkan’.

Ada pula ungkapan ‘Dia boleh jadi sudah tahu’ yang dipadani dengan He might have known it, lalu ada pula ‘Apa boleh buat’ yang kurang lebih bisa dipadani dengan What can I do?. Sewaktu saya bertugas belajar di Amerika Serikat, saya pernah ditanyai oleh salah seorang pembimbing disana, mata pelajaran apa yang ingin saya ambil terlebih dahulu. Saya ingin mengatakan terserah lalu saya katakan It’s up to you ! Ternyata ungkapan itu ‘keliru’ karena si pembimbing ini langsung menukas : No, it’s not up to me! dan belakangan saya baru mendusin bahwa padanan yang lebih pas adalah Whatever !

Bagaimana mengungkapkan bahasa gaul Emangnya gua pikirin dalam bahasa Inggris ? Kita cukup mengatakan dengan Who cares ! Selanjutnya apa kira-kira padanan dari ungkapan Masa bodoh ! Yah, kita bisa mengatakan I couldn’t care less ! Dan satu lagi ungkapan yang mempunyai struktur yang mirip yaitu Setuju sekali yang dapat diekspresikan dengan I couldn’t agree with you more ! Dan satu lagi bahasa colloquial yang cukup sering kita ucapkan yaitu ’jangan jangan’. Kita boleh mengatakan I am afraid he already knew about it untuk ungkapan ‘Jangan-jangan dia sudah tahu soal itu’

Selanjutnya ada ungkapan to no avail (percuma), at all (sama sekali), under no circumstances (jangan sekali-kali) seperti pada kalimat :

She asked him to no avail – Dia percuma saja menanyai dia.
I don’t like her at all – Saya sama sekali tidak suka padanya.
Under no circumstances should you open the door – Jangan sekali-kali membuka pintu.

Dan terakhir kita berbicara tentang ‘ada’ dan ‘hilang’ pada ungkapan dibawah ini :

Ada pak Budi ? – Is Mr Budi around ?
Oh, bapak tidak ada – Oh, he is not available
Noda tinta itu tidak mau hilang – The ink stain won’t come out.

Penulis :
Gustaf Kusno

Dalam pertandingan sepak bola, tidak seorangpun pemain yang diperbolehkan menyentuh bola dengan tangannya, kecuali para penjaga gawang. Jika seorang pemain menyentuh bola dengan tangannya, sengaja atau tidak, dia akan mendapat hukuman karena telah melakukan ‘hand ball’.

Bahasa Inggris mempunyai ungkapan-ungkapan yang menggunakan ‘hand’

at second hand = secara tidak langsung. I heard the story at second hand. (Saya mendengar cerita itu secara tidak langsung.)

bear a hand = menolong/membantu. I will get him to bear a hand. (Saya akan menyuruhnya untuk membantu.)

by hand = dengan tangan. They did everything by hand. (Mereka mengerjakan segala sesuatunya dengan tangan.)

from hand to mouth = apa adanya. Many poor people are forced to live from hand to mouth. (Banyak orang miskin yang terpaksa hidup apa adanya.)

give a hand = menolong/membantu. I promise to give you a hand. (Saya berjanji akan membantumu.)

hand and foot = dengan rajin/giat. He works hand and foot to get more money. (Dia bekerja dengan giat untuk mendapatkan uang lebih banyak.)

hand and glove = teman akrab. He is hand and glove with me. (Dia berteman akrab dengan saya.)

hand in = menyerahkan/mengumpulkan. If you have finished doing your test, please hand in the sheet right away. (Jika kalian sudah selesai mengerjakan ujian kalian silahkan kumpulkan kertas ujiannya segera.)

hand in hand = bergandengan tangan. I saw your husband walk hand in hand with another woman yesterday. (Saya melihat suamimu jalan bergandengan tangan dengan wanita lain kemarin.)

hand on = mewariskan. He handed on the family tradition to his son. (Dia mewariskan kebiasaan keluarga itu pada putranya.)

hand out = membagikan. He handed out sweets to his friends. (Dia membagikan permen kepada teman-temannya.)

hand over = menyerahkan. They handed the thief over to the police. (Mereka menyerahkan pencuri itu kepada polisi.)

hands off = jangan menyentuh. Hands off this painting because it is still wet. (Jangan menyentuh lukisan itu karena masih basah.)

hands up = angkat tangan. “Hands up!” shouted the bank robbers. (“Angkat tangan!” teriak para perampok bank itu.)

join hand = bergandengan tangan. They joined hand and sang a song. (Mereka bergandengan tangan dan menyanyikan sebuah lagu.)

on the other hand = di lain pihak. He is rather stupid but on the other hand he is dilligent. (Dia agak bodoh tetapi di lain pihak dia rajin.)

take in hand = mengurus, mendisiplinkan. They must be taken in hand. (Mereka harus didiplinkan.)

wash o’s hand of = melepaskan tanggung jawab. I have washed my hands of his behaviour. (Saya telah melepaskan tanggung jawab terhadap tingkah lakunya.)

Penulis :
David Solafide

Tulisan ini dibuka dengan pertanyaan ada berapa lubang yang ada pada tubuh kita ? Ada yang menjawab delapan, ada pula yang mengatakan sembilan. Supaya tidak bias jender pertanyaannya diulang kembali yaitu ada berapa lubang pada tubuh kita yang terletak di atas pusar ? Jawabannya mungkin akan sama yaitu enam lubang terdiri dari dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang hidung dan satu lubang mulut. Tentu dalam hal ini kita tidak memperhitungkan lubang pori-pori kulit, lubang kelenjar liur dan kelenjar-kelenjar lainnya yang jumlahnya bisa mencapai jutaan. Pusar juga tidak masuk dalam hitungan karena sesungguhnya dia bukan ‘lubang’.

Secara fisiologis baik dari lubang mata, lubang hidung dan lubang telinga akan dikeluarkan ’cairan pelumas’ yang berfungsi untuk melindungi organ-organ tubuh ini dari kekeringan dan dari serangan kuman yang mungkin masuk ke dalam lubang tersebut. Cairan ini memang secara fisiologis pula akan disalurkan ke rongga mulut agar tidak terjadi ’penumpukan’. Namun tetap saja ada sebagian kecil dari cairan ini yang tertinggal mengendap dan mengeras baik pada lubang hidung, telinga maupun mata. Di dalam bahasa sehari-hari kita, mereka disebutnya ’tahi mata, tahi telinga dan tahi hidung’.

Tahi mata dalam bahasa awam Inggris disebut dengan sleep gunk atau kadang-kadang diberi nama kiasan morning glory. Mengapa timbul sleep gunk di sudut mata kita pada waktu kita bangun tidur ? Ini disebabkan karena pada waktu kita tidur, kita tidak mengedipkan mata. Kelenjar di mata mengeluarkan sejenis ’oli’ untuk melumaskan kornea dan membilas kuman-kuman dan pada saat kita berkedip maka ’oli’ itu akan di drain (disalurkan) melalui rongga hidung. Namun karena pada saat tidur kita tidak berkedip, maka oli ini akan terakumulasi, mengering dan akhirnya keluar sebagai gunk pada pagi hari. Lubang pada mata disebut sebagai eye socket dan mata merah yang biasanya timbul kalau kita sudah mengantuk berat atau karena kecapekan dinamakan bloodshot.

Tahi hidung atau ’upil’ dalam bahasa awam Inggris disebut dengan boogers (American English) atau bogeys (British English). Ini juga terbentuk dari cairan hidung yang mengering dan pekerjaan membersihkan boogers ini (’mengupil’) dinamakan nose-picking. Bilamana produksi cairan hidung berlebihan maka dia akan dinamakan snot (ingus) dan pekerjaan membuang ingus ini disebut dengan blow one’s nose. Dua pekerjaan ini secara sosial dianggap kurang sopan bila dilakukan di depan umum. Kalau kita sedang pilek, maka hidung kita akan mengeluarkan snot dalam jumlah banyak dan tidak jarang mengalir keluar dari lubang hidung dan kita menyebutkannya dengan runny nose. Dari lubang hidung karena kondisi tertentu dapat keluar darah segar yang dinamakan nosebleed (mimisan). Lubang hidung mempunyai nama yang unik yaitu nostril.

Tahi kuping dalam bahasa Inggris dinamakan earwax atau wax saja dan mempunyai nama medis cerumen. Untuk membersihkannya kita akan menggunakan cotton buds atau cotton swab. Bagian bawah dari daun telinga yang lentur dan berbentuk bulat dinamakan earlobe (cuping telinga) dan pada earlobe inilah paling sering dilakukan ear piercing (tindik telinga) untuk memasang earring (anting-anting). Namun dengan alasan budaya atau gaya hidup, piercing ini juga sering dilakukan pada cuping hidung, alis mata, lidah, bibir, pusar bahkan di daerah genital. Kalau kuping kita merah karena jadi bahan pergunjingan orang maka disebutnya dengan my ears are burning. Lubang pada telinga dinamakan earhole di dalam mana terdapat eardrum (gendang telinga).

Lubang yang berikutnya adalah mouth (mulut) dimana di dalamnya terdapat gigi geligi, lidah, langit-langit (palate) dan kelenjar liur. Bilamana liur yang diproduksi berlebihan dan mengalir keluar dari mulut kita menamakannya dengan drooling (’ngiler’) seperti yang sering terjadi pada bayi yang sedang teething (baru mulai tumbuh gigi susunya).

Drooling sering juga dinamakan dengan dribbling, driveling atau slobbering. Namun orang dewasa juga bisa ’ngiler’ kalau melihat atau membau makanan yang lezat dan ini dinamakan mouth-watering. Ada suatu ungkapan (idiom) yaitu to badmouth yang bermakna ’menista’ atau ’mengata-atai seseorang yang timbul dari hati yang busuk’. Pada gigi-geligi juga bisa timbul lubang yang kita namakan cavity dan kalau kita kurang rajin menyikat gigi akan timbul ’karang gigi’ yang dinamakan tartar. Pekerjaan membersihkan tartar yang biasanya dilakukan oleh dokter gigi disebut dengan scaling. Untuk menghilangkan bau kurang sedap di dalam mulut kita sering memakai ’obat kumur’ yang disebut dengan mouthwash.

Dan yang terakhir ada satu lagi ungkapan khas Indonesia yaitu ’tahi lalat’ yang dalam bahasa Inggris dinamakan dengan mole. Kata mole juga dipakai untuk menamai sejenis hewan mengerat yang suka membuat rumahnya dengan menggali tanah atau secara kiasan merujuk kepada orang yang melakukan kegiatan mata-mata.

Penulis :
Gustaf Kusno

Orang Sunda kudu Nyunda (Orang Sunda Harus Nyunda),artinya tradisi suku sunda harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata, dalam hal ini saya menyoroti terjadinya kanibalisasi Bahasa Sunda oleh Bahasa Indonesia, dan terjadi juga Kanibalisasi Bahasa Indonesia oleh Bahasa Inggris. Saya bukanlah seorang sukuisme namun saya hanya ingin berjuang mempertahankan warisan leluhur saya agar langgeng hingga akhir zaman.
Ilustrasi/admin (shutterstock)

Ilustrasi/admin (shutterstock)

Kadang aneh, itulah yang saya rasakan, ibu-bapak sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Sunda, namun ketika berbicara dengan anaknya, Bahasa Indonesia lah yang digunakan, ketika beberapa tahun kebelakang di kampung-kampung sosialisasi bahasa Sunda di keluarga masih menjadi faktor utama, namun kini di kampung pun orang tua mengajarkan anaknya dengan menggunakan bahasa Indonesia padahal para orang tua berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda. Akibatnya, anak-anak pun menggunakan bahasa transisi yang mana merupakan bahasa perkawinan silang antara bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Dan rasa khawatir itu pun saya temui ketika saya berdialog dengan anak usia 8 tahun namanya Della yang kedua ibu bapaknya orang Sunda, dan anak itu sendiri pun tinggal di Bogor, suatu daerah di Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Ibukota, lucu memang tapi membuat saya berpikir dan miris memikirkan gimana ya orang Sunda beberapa tahun kedepan, inilah percapapannya.

Saya : Neng namanya siapa???

Neng : Della om, katanya

Saya : Neng orang mana????

Neng : Bogor Om

Saya : Umh, kalo neng orang Bogor berarti neng orang Sunda dong,”sahut saya

Neng : uh..(mikir dulu bentar) ah ga om, neng mah bukan orang Sunda, neng kan ga bisa bahasa Sunda jadinya bukan orang Sunda Om,”dengan polosnya si anak kecil itu menjawab

Kejadian diatas tetntunya menunjukkan bahwa orang Sunda sedang memasuki masa krisis identitas, yang mana apabila tidak diperhatikan maka akan terjadi kepunahan bahasa Sunda puluhan tahun mendatang. Padahal pemakaian Bahasa Sunda merupakan suatu pengakuan eksistensi dan kebanggaan menjadi orang Sunda yang merupakan salah satu suku terbesar kedua di Indonesia, namun justru orang Sundanya sekalipun malah malu ketika menggunakan bahasa Sunda, apalagi anak mudanya yang menganggap bahasa Sunda itu kampungan, sehingga ketika mereka berkomunikasi terutama dengan lawan jenis, lebih PD bila menggunakan Bahasa Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Sunda. Dikarenakan bahasa merupakan salah satu ciri utama dari suatu bangsa, maka saya sebagai orang Sunda menyimpulkan bahwa Bahasa Sunda sedang kritis, dan harus mendapat perhatian dari pemerintah pusat dan daerah untuk diperhatikan kelestariannya, karena ketika bahasa sunda hilang, salah satu kekayaan Indonesia telah hilang, dimana budaya nasional itu dikatakan sebagai puncak dari kebudayaan daerah, yang mana ketika salah sau komponenya rapuh, maka rapuh jua lah identitas nasional.

Pemakaian Bahasa Indonesia disatu sisi merupakan suatu kebanggaan atas tercapainya persatuan nasional, namun di sisi yang lain menjadi sebuah kekhawatiran terjadinya peralihan pemakaian bahasa, dimana Bahasa Sunda terutama yang kasar menjadi Bahasa Sekunder dan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa utama. akibat dari ini semua adalah orang Sunda Kehilangan Eksistensinya sebagai suku bangsa, ketika bahasa Sunda kehilangan eksistensinya, maka hal ini akan menjadi virus yang merambat ke seluruh identitas bangsa ketika bangsa ini menghadapi bangsa lain. Karena kanibalisasi Bahasa ini bukan hanya terjadi di daerah orang Sunda, namun juga hampir di seluruh Nusantara.

Menurut penelitian UNESCO, beberapa bahasa ibu di sejumlah negara akan hilang dalam 100 tahun. Sementara sejumlah bahasa ibu di Indonesia yang sudah hilang, kebanyakan terdapat di Papua, seperti bahasa Bapu, Darbe, Waris, dan sebagainya. Dari hasil penelitian Pusat Bahasa, jumlah bahasa daerah di Indonesia mencapai 462. Sedangkan menurut UNESCO, bahasa daerah di Indonesia sebanyak 746 bahasa. “Jumlah bahasa daerah yang berhasil didata Pusat Bahasa mencapai 462 bahasa di luar bahasa daerah di Papua dan Maluku (Galamedia,19 Februari 2010). Berarti dalam beberapa tahun ke depan, pemakai bahasa Sunda akan berkurang jumlahnya sedikit demi sedikit, apabila dimulai dari sekarang tidak diperhatikan, maka ketika 100 tahun ke depan, ketika angkatan kita sudah meninggal, maka meskipun mereka mengaku sebagai orang sunda tapi isinya kosong, karena pemakaian bahasa Sunda pun mereka sama sekali tidak bisa.

Kanibalisasi ini disebabkan oleh 2 faktor eksternal dan Internal. Faktor Eksternal yaitu :

1. Pemakaian bahasa Indonesia di media cetak dan elektronik, sehingga menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa populer yang mudah dicerna dan memberikan “image” positif bagi pemakainya.
2. Akibatnya orang Sunda menjadi inferior ketika harus berbicara memakai bahasa ibunya, ada kesan menggunakan bahasa Indonesia merasa lebih gaya dan percaya diri.
3. Pengaruh dari publik figur yang mana meskipun berasal dari daerah sunda namun kurang tampak menyirikan kesundaannya, akibatnya para remaja mengikuti tokoh idolanya dan lebih pd apabila menggunakan bahasa Indonesia agar tidak terlihat kampungan

sedangkan fakor Internal disebabkan oleh:

1. Undak-Unduk Bahasa yang sulit dimengerti terutama oleh para pendatang, yang berasimilasi dengan penduduk setempat menyebabkan rasa canggung, akibanya anak-anaknya pun hanya mengerti Sunda Kasar. Undak-Unduk inilah yang terus diperdebatkan oleh para budayawan Sunda, karena sejatinya Undak-Unduk Bahasa ini merupakan pengaruh dari budaya Jawa terhadap Budaya Sunda.
2. Perkembangan Bahasa Sunda yang berjalan di tempat, sehingga menjadikan bahasa Sunda kaku dan tidak fleksibel terhadap kemajuan zaman

Oleh karena itu saya menghimbau terutama orang Sunda untuk tetap memakai dan bangga dengan Bahasa Sunda, dimana kita tetap setia terhadap NKRI.

Penulis :
Wilman Nurzaman

Arab dan Bahasa Arab

Posted: Juli 14, 2010 in Bahasa Arab

Pernah suatu siang saat terjadi peristiwa agresi Israel ke Palestina, saya chat dengan seorang teman mengenai masalah Palestina-Israel . Saya surprised melihat kegeramannya terhadap Israel dan empatinya yang sangat besar terhadap Palestina. Mungkin kalau dia ada di depan tentara Israel saat itu, bambu runcing akan dia tancapkan ke sepuluh tentara Israel , sehingga si tentara-tentara yang tidak punya nurani itu bisa dibakar seperti sate. Jadi sama-sama kejamlah begitu.

Saya lupa kenapa tiba-tiba per-chatting-an jadi membahas masalah per-araban. Mungkin saat itu kami sedang membahas penyelesaian Palestina. Menurut kami persatuan semua muslim di dunialah yang harusnya bisa menyelamatkan Palestina, terutama sesama negara Arab yang notabennya adalah negara-negara kaya. Dari kata negara Arab inilah sang teman geram. Dia menyatakan ketidaksukaannya terhadap negara-negara Arab atau pun dengan segala sesuatu yang berbau Arab, seperti sorban, janggut, dan tentu saja teman saya ini juga benci bahasa Arab. Menurut beliau, bahasa Arab beda dengan bahasa Al-Quran.

Sekedar sedikit pengetahuan saya tentang bahasa Arab.

Kalau bahasa lain selain Arab mengalami penyempurnaan setelah menjalani perjalanan yang panjang, beda dengan bahasa Arab. Bisa kita berikan contoh seperti bahasa Indonesia yang telah beberapa kali mengalami penyempurnaan. Dimulai dari ejaan Van Ophuisyen, ejaan Suwandi hingga EYD (ejaan yang disempurnakan) tahun 1972.

Contoh lain bahasa Jepang. Tenyata bahasa Jepang sudah mengalami perubahan yang drastis, ini menurut film Samurai yang menceritakan seorang arkeolog yang menemukan jasad utuh seorang samurai yang mati dalam bongkahan es. Ketika si samurai berhasil dihidupkan kembali pada abad modern ini, dia sama sekali tidak dapat berkomunikasi dengan orang Jepang abad sekarang. Jadi kesimpulan saya, bahasa Jepang yang dulu bisa jadi tidak bagus sehingga menghilang, lalu diganti dengan bahasa Jepang yang sekarang.

Bahasa Inggris pun telah mengalami beberapa kali perubahan. Sangat sulit bagi kita membaca teks-teks bahasa Inggris keluaran 300 tahun yang lalu. Itu karena ada banyak kosa katanya yang sudah tidak dipakai lagi.

Kalau bahasa Arab kebalikannya. Dulu bahasa Arab sangat bagus, sehingga sastra menjadi industri yang sangat menjanjikan. Tidak heran dulu di Arab banyak sekali sastrawan. Makanya untuk menundukkan para sastrawan saat itu, Allah menantang mereka untuk mengalahkan bahasa sastra yang ada dalam Al-Quran. Ternyata para sastrawan jenius pada masa itu tidak seorangpun yang bisa mengalahkan bahasa sastra Al-Quran yang begitu tinggi. Itulah salah satu mukjizat Al-Quran, yaitu bahasanya tidak ada yang bisa mengalahkan.

Mungkin itu yang dimaksud teman saya di atas dengan bahasa Arab beda dengan bahasa Al-Quran.

Setelah turunnya Al-Quran, para ahli bahasa Arab mulai memperhatikan segi gramatikal bahasa Arab yang ada di Al-Quran. Lalu dibuatlah aturan tata bahasa Arab berdasarkan tata bahasa yang ada dalam Al-Quran, yang dikenal dengan istilah nahwu dan shorof. Jadi pendeknya, sebelum Al-Quran turun, bahasa Arab tidak memiliki acuan tata bahasa.

Bagaimana dengan bahasa Arab masa kini? Nah, ini juga mungkin yang dimaksudkan teman saya bahwa bahasa Arab berbeda dengan bahasa Al-Quran. Ternyata bahasa Arab yang berkembang saat ini adalah bahasa Arab pasaran. Bahasa pasaran yang disebut juga bahasa Arab Ammiyah, berarti sama dengan bahasa slank atau bahasa pergaulan yang tidak ada aturan tata bahasanya.

Ada cerita dari teman saya yang dulu kuliah di sastra Arab. Pada waktu liburan panjang dia pergi ke Mesir dengan maksud untuk memperlancar bahasa Arabnya. Tapi ternyata di kelas dia malah tidak mengerti perkataan gurunya yang ternyata berbicara dalam bahasa Arab pasaran. Hal serupa juga terjadi pada dosennya yang sedang mengawal delegasi negara Arab pada sebuah KTT di Bandung. Sang dosen akhirnya menggunakan bahasa Inggris untuk mengingatkan pejabat negara Arab itu untuk selalu menggunakan bahasa Arab Fusha , yaitu bahasa Arab resmi yang tata bahasanya mengacu pada Al-Quran.

Kalau banyak orang Islam yang benci bahasa Arab karena tidak suka dengan orang-orang Arab, bukan tidak mungkin bahasa Arab Fusha juga bisa seperti bahasa Jepang. Namun karena Allah menurunkan Al Quran berbahasa Arab,dan Al-Quran dijaga oleh yang membuatnya seperti janji-Nya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya.” (Qs Al Hijr :9), maka kita tidak perlu takut bahasa Arab yang murni akan hilang. Dan tentunya kita masih bisa menikmati bahasa Arab yang indah hingga sekarang.

Sebaiknya memang kita tidak benci bahasa Arab, malah sebaliknya kita jadikan bahasa Arab sebagai bahasa kedua atau ketiga kita setelah bahasa Indonesia dan bahasa ibu kita. Karena dengan menguasai bahasa Arab, akan mempermudah kita mengerti Al-Quran.

Jadi, kapan nih, kita belajar bahasa Arab? Hehehe.

Penulis :
Iswanti Ajah

10 Racun Psikologis Dalam Diri

Posted: Juli 14, 2010 in Motivasi

* Racun pertama : Menghindar
Gejalanya lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
Antibodinya realitas
Caranya berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.
* Racun kedua : Ketakutan
Gejalanya tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian, kesulitan seksual.
Antibodinya keberanian
Caranya hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Kebenarian merupakan merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.
* Racun ketiga : Egoistis
Gejalanya nyiyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.
Antibodinya bersikap sosial.
Caranya jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akn diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.
* Racun keempat : Stagnasi
Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
Antibodinya ambisi
Caranya teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.
* Racun kelima : Rasa rendah diri
Gejalanya kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
Antibodinya keyakinan diri.
Caranya seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya aka kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.
* Racun keenam : Narsistik
Gejalanya kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.
Antibodinya rendah hati.
Caranya orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.
* Racun ketujuh : Mengasihani diri
Gejalanya kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.
Antibodinya sublimasi
Caranya jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.
* Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
Gejalanya apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
Antibodinya kerja
Caranya buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.
* Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
Gejalanya pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.
Antibodinya kontrol diri
Caranya tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.
* Racun kesepuluh : Kebencian
Gejalanya keinginan balas dendam, kejam, bengis.
Antibodinya cinta kasih
Caranya hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.

Simpanlah paket tiket untuk perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang.

Penulis :
Gumelar Wiriakusumah

Semua pasti bisa membaca, dan semua orang membutuhkan yang namanya bacaan. Karena, melalui bacaan orang akan dapat menambah pengetahuan dan wawasannya tentang segala hal. Sekarang ini, kebutuhan orang akan bacaan sama dengan kebutuhan akan makanan dan minuman. Yang tidak suka membaca bersiap-siaplah ketinggalan kereta kemajuan zaman.

Namun, motivasi, tujuan, dan keinginan setiap orang dalam membaca tentu tidak sama. Hal ini terjadi karena berbedanya berbagai kebutuhan, bidang pekerjaan, dan berbagai hal lainnya yang berbeda. Dalam membacapun, setiap orang memiliki waktu, tempat, serta gaya yang terkadang tidak sama. Ini wajar saja karena semua pembaca tentu menginginkan sesuatu dari bacaannya, serta ingin membaca dengan nyaman, santai, dan menyenangkan.

Untuk mendapatkan sesuatu dari bacaaan tersebut, ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab. Pertanyaan tersebut harus kita ajukan sebelum kita membaca buku, majalah, Koran, dan bacaan lainnya. Gunanya, agar kegiatan membaca kita menjadi lebih efektif, fokus, dan menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang kita harapkan. Beberapa pertanyaan tersebut adalah :

Pertama. Kenapa kita membaca buku itu. Sebuah buku menawarkan sejuta ilmu. Namun sebelum membaca buku ada baiknya juga kita bertanya kenapa kita membaca buku tersebut. Mungkin karena covernya bagus. Sinopsisnya yang membuat penasaran, atau karena ditulis oleh penulis terkenal. Masing-masing kita tentu memiliki kebebasan dalam memilih bacaan. Namun penting kiranya kita untuk mempertanyakan kenapa kita membaca buku tersebut. Hal ini penting agar dalam memilih bacaan kita dapat memetik manfaat dari bacaan tersebut.

Kedua. Apa manfaat bacaan tersebut bagi kita. Mencari manfaat dari bahan bacaan harus dilakukan agar kita lebih fokus dalam memilih bacaan. Dengan adanya pertanyaan tersebut, maka kita terangsang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita menjadi lebih jeli memilih buku yang sesuai dengan yang kita inginkan. Ini dipengaruhi oleh ruang dan waktu yang kita miliki. Apalagi, bagi kita yang sangat sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, mobilitas yang tinggi, serta bidang keahlian yang khusus.

Ketiga. Apa pengaruh bacaan tersebut bagi diri kita. Bacaan yang tidak memberikan pengaruh bagi diri kita bukanlah bacaan yang pas untuk kita baca. Mungkin belum saatnya, mungkin juga bacaan tersebut memang tidak kita butuhkan. Bacaan yang baik adalah bacaan yang dapat memberikan pengaruh bagi pembacanya baik secara langsung atau tidak langsung. Buku-buku ketrampilan, buku-buku agama, ataupun buku yang lainnya memberikan pengaruh yang baik baik bagi kita. Pelajaran yang dituliskan dapat langsung dipraktekkan. Namun demikian, sangat banyak bacaan yang kit abaca, pengaruh bacaan tersebut muncul dalam jangka waktu yang lama.

Itulah beberapa hal yang sekiranya perlu diperhatikan ketika kita memilih bahan bacaan. Karena masing-masing kita memiliki kebutuhan, dan cara pandang yang berbeda tentang hal ini, dipersilakan untuk mengembangkan lebih lanjut beberapa pertanyaan tersebut. Tujuan utamanya adalah agar dalam membaca kita selalu mendapatkan sesuatu yang kita cari bacaan tersebut. Artinya, kita tentu tidak ingin melakukan kegiatan yang sia-sia, apalagi dengan waktu yang cukup lama. Selamat membaca.

Penulis :
Icai

Kesalahpahaman 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.
Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.

Kesalahpahaman 2
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.

Kesalahpahaman 3
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90…) seminggu.
Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.

Kesalahpahaman 4
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.
Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.

Kesalahpahaman 5
Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.
Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.

Kesalahpahaman 6
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.
Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.

Kesalahpahaman 7
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.
Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.

Kesalahpahaman 8
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.
Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.

Kesalahpahaman 9
Sukses adalah tujuan.
Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan “atas hal apa?”

Kesalahpahaman 10
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.
Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.

Baca juga artikel berikut :
Mengapa Anda Gagal dan Mereka Sukses?

Semoga bermanfaat untuk anda..!!

Penulis :
Gumelar Wiriakusumah

Kali ini saya benar-benar kelimpungan. Ada satu pertanyaan mendesak:

Istilah yang betul untuk menyebut paham bahwa pengetahuan manusia terutama diperoleh dari pengalaman (saja) itu Empirisme atau Empirisisme, sih?

Pasalnya, kata Empirisisme tersua beberapa kali,
bahkan terpampang besar-besar pada buku The Story of Philosophy karya Bryan Magee yang diterjemahkan ke bhs. Indo oleh Penerbit Kanisius.
(lihat saya pratinjaunya di Google Books, klik di sini)

Selama kuliah, yang saya kenal adalah term Empirisme. Term itu jamak ditemukan dalam diktat-diktat kuliah atau buku-buku karangan Dr. Simon Lili Tjahjadi, Prof. Franz Magnis-Suseno, Dr. Budi Hardiman, dll.
Adapun saya menduga term Empirisisme diterjemahkan begitu saja dari bahasa inggrisnya, Empiricism.

Semoga perbedaan kecil “-is” ini tidak diterima begitu saja, taken for granted, oleh semua kita. Bukankah itu salah satu spirit berfilsafat?

NB: dari pencarian dengan Google Indonesia (yg halaman websitenya berbahasa Indo)
20 Januari 2010 pkl 10:56 am (GMT+7)
1. kata Empirisme dijumpai di 4.520 halaman situs
2. kata Empirisisme dijumpai di 1.410 halaman situs (dengan

Lalu, mana yang berterima?

Saya lantas mengajukan pertanyaan ini pada kawan-kawan di Facebook.
Ada 2 pendapat mereka yang saya kutip sebagai berikut:

Okta:
saya setuju empirisme…..
1. berdasarkan tradisi…. dari dosen dan dari berbagai sumber buku dan diktat yang saya baca, empirisme lebih umum digunakan untuk menyatakan pengetahuan manusia yang diperoleh dari pengalaman (empeiria, bhs Yunaninya)
2. dari telaah bahasa Indonesia … KBBI menuliskan demikian:
em·pi·ris·me /émpirisme/ n 1 aliran ilmu pengetahuan dan filsafat berdasarkan metode empiris; 2 teori yg mengatakan bahwa semua pengetahuan didapat dng pengalaman; sedangkan empirisisme tidak saya temukan dalam kamus besar bahasa Indonesia.
Dugaan kamu bisa jadi benar … si penulis begitu saja menerjemahkan dalam bahasa Inggris.
Tapi buku tersebut termasuk buku yg menarik untuk dibuka dan dibaca oleh awam. Sebuah blunder besar bila penggunaan istilah salah ditangkap oleh awam.
Lepas dari itu saya sendiri lebih setuju menggunakan empirisme.

Andi:
Pinggirkan sejenak KBBI (yg mungkin tdk niscaya tepat).
Ini sedikit problematisasi :

social – ism = socialism…
liberal – ism = liberalism
rational – ism = rationalism
empiric – ism = empiricism, dll
(polanya: KATA DASAR + ISM)

Kita menerjemahkan kata2 tsb dr bhs Inggris bkn dr bhs Yunani atau Latin, maka kalau hendak KONSISTEN:
sosial – isme = sosialisme
liberal – isme = liberalisme
rasional – isme = rasionalisme
empiris – isme = EMPIRISISME
(Jadi BUKAN empirisme = empir – isme… (empir aja gw jatuh..eh itu hampir ya….hehehe)

Bagaimana ini dipertanggungjawabkan?
Ada 2 kemungkinan (ini mungkin lho..mungkin ya…)
1. Mungkin karena terdapat dua IS (empirIS) dan (ISme) maka salah satunya dihilangkan.. Apa alasannya, mungkin biar tidak terjadi pengulangan yg tdk perlu..sama kasusnya seperti ekologi – isme = ekologisme (ada dua I: ekologI dan Isme) maka yg satu dihilangkan.
2. Mungkin yg sdh lazim digunakan (empirisme) kemudian dianggap benar dgn sendirinya? Pdahal yg lazim blm tentu benar, ya ga?
salam..

Saya:
Jadi? makin bingung juga dehh…

Penulis :
Hireka Erick

Hireka Eric

Pikiran saya ini ternyata terus mencoba-coba mencari sesuatu untuk dipikirkan.

Dan sesuatu itu, kali ini, adalah METAFORA.

Bukan tanpa alasan saya tergiur untuk menelisik dalamdalam ihwal Metafora ini.

Ceritanya begini.

Saya “berdebat” dengan salah seorang sahabat karib saya tentang gaya seseorang dalam berteman. Kita pasti kenal ungkapan semisal “berteman bagaikan sumur” dan “berteman bagaikan laut” [ngga perlu saya terangkan lebih jauh apa makna konotatif “sumur” dan “laut”, ‘kan?]

Awalnya, dia melemparkan ungkapan “Saya lebih suka berteman bagaikan laut daripada sumur”. Terangsang akan ungkapan itu, saya pun membalasnya sbb.

Transkrip percakapannya begini nih:

Saya:
Sedalam-dalamnya sumur, tetep aja lebih dalam laut. Jadi, laut punya fitur dobel: dalam dan luas. Kalo gitu, berteman bagaikan laut,,,yaaa,,,, berarti berteman sebanyak mungkin dan sedekat mungkin. Tapi, tunggu dulu, di laut ada juga sedikit palung yg dalamnya berkilo2meter; kedalaman inilah yg hanya dibagikan ke beberapa orang terdekat, entah kekasih entah sahabat.
Dia:
Keindahan laut ada pada kedalaman 0-200 m (tentunya sumur tidak sedalam itu) , bukan dasar laut…apalagi di palung laut yang gelap gulita…semakin dalam semakin gelap…kendatipun laut..saya lebih senang melihat keindahannya…

Saya:
Haha…. laut yg dangkal, sekilas begitu indah. Tapi ya,,,, jika kita berhenti menyelam sampai di lapisan laut yg masih terpapar cahaya mentari (di mana ikan warna-warni & terumbu karang hidup), maka itulah keindahan sensual yg tampak dalam keseharian saja.

Sedangkan, dasar laut dan palung laut berarti sebuah misteri, sebongkah rahasia. Di kedalaman inilah rahasia diri (entah luka batin, entah memori masa lalu) yg tak terjamah ikan2 dan terumbu karang di atas sana dibagikan kepada sedikit sahabat. Palung laut memang gelap, tetapi di situlah otentisitas manusia benar2 ditemukan.

Karena itu pula, aku tertarik dengan moto DUC IN ALTUM.
Sungguh, persahabatan berarti menyelam ke dalam lautan jiwa sang terkasih hingga menyentuh palung laut yg terdalam.

Dia:
apa bedanya otentik dgn tdk otentik, sebenarnya sama saja, krn kita tdk tahu kemutlakan diri yg otentik itu seperti apa…otentisitas tidak perlu dicari, suatu saat akan tiba, jikalau hidup memang mencari kebahagiaan sejati… “dalam” oke, tapi tdk menjamin otentisitas…rasanya tdk salah kalau saya ’senang’ melihat yang indah, tapi bukan berarti tidak sanggup untuk melihat yang tidak indah…

Saya:
Wah, hebat sekali ya si palung laut… Dialah yang menampung semua bangkai ikan warna-warni dan sampah dari penyelam dari lapisan atas laut yg cerah tanpa banyak berkeluh kesah…Palung laut adalah tempat sampah, dan ia rela menerima itu semua.

Percakapan di atas justru membuat saya gerah. Pasalnya, serta-merta saya merasa bahwa metafora tidak pernah memadai untuk menjelaskan suatu fenomena. Metafora sendiri selalu multitafsir, dan ini membingungkan. Palung laut yang di mata saya menyimpan keindahan, ternyata masih kalah menarik di mata sahabat saya yang lebih mencintai laut dangkal yang masih terpapar cahaya matahari.

Lalu, bukankah persahabatan itu sendiri memanglah bukan sumur dan bukan laut? Apakah term “sumur” dan “laut” sanggup mewakili semua kandungan makna dalam term “persahabatan”?
Jadi, poin kegelisahan saya di sini:
Metafora sepertinya tidak mungkin bisa menggeser makna asali suatu term.
“Wajahmu secantik bulan purnama.”
Lho? bukankah bulan justru berlekuk-lekuk tak keruan, penuh dengan kawah dan ngarai?
“Kini aku telah berubah dari seekor ulat buruk rupa menjadi kupukupu.”
Lho? bukankah pada gilirannya kupu2 akan harus menelurkan ulat lagi, jadi menghasilkan yang buruk lagi?

….dan lain-lain.

Penulis :
Hireka Erick